Sinopsis Maids Episode 9 Part 1

== All images credit to jTBC ==
 
[Sinopsis Maids Episode 8 Part 2]

Sinopsis Maids Episode 9 Part 1

[Drama ini adalah drama fiksi/rekaan berdasarkan tokoh dan peristiwa sejarah yang sebenarnya]
Episode yang lalu berakhir ketika Nyonya Yoon mengumpulkan In Yub, Dan Ji, dan pelayan lainnya di halaman. Ia mengatakan bahwa salah satu dari In Yub dan Dan Ji harus pergi ke rumah Gubernur Jung. Nyonya Yoon meminta In Yub dan Dan Ji yang memutuskan siapa yang akan pergi. In Yub dan Dan Ji menundukkan kepala mereka.

Karena sepertinya akan berat, Yoon Ok memberi saran pada ibunya untuk memberikan mereka sedikit waktu untuk berpikir.

"Baiklah. Aku akan memberi kalian waktu satu hari. Jika sampai besok tidak ada keputusan, maka kalian berdua yang akan pergi", putus Nyonya Yoon. In Yub terkejut dan melihat ke arah Nyonya Yoon. Moo Myeong memandang ke arah In Yub.


Para pelayan wanita masuk ke asrama mereka. Dan Ji memandang dengan marah pada pelayan wanita yang tadi menolak dikirim ke rumah Gubernur Jung. "Apa kalian katakan? Kalian tidak melakukan kesalahan apa pun?", marah Dan Ji. Ia hampir saja menghampiri mereka, hanya saja Gae Ddong berhasil menahannya.

In Yub berpendapat bahwa mereka tidak boleh saling bertengkar, mereka harus tetap bersatu. Ini bukan saja tidak benar, tapi ini benar-benar tidak adil, ucap In Yub.

"Mereka ingin memecah belah kita", sahut Sa Wol.

Tetap saja salah satu dari kita harus pergi, sahut Dan Ji sambil memandang In Yub.

"Apa kau berkata bahwa Nonaku yang harus pergi?", tanya Sa Wol marah.

"Aku tidak bilang begitu", sahut Dan Ji. "Aku hanya mengatakan bahwa salah satu dari kami harus pergi", ucap Dan Ji yang tidak mengalihkan pandangannya sama sekali dari In Yub.

"Itu sama saja!", marah Sa Wol.

Dan Ji jadi bertambah marah. "Terus... apa ada cara untuk kami berdua sama-sama tinggal? Atau menurutmu... aku yang harus pergi? Berpikirlah realistis. Salah satu dari kita harus pergi!". Dan Ji pergi dengan marah. Gae Ddong mengikutinya. Semua pelayan disana memandang In Yub seolah-olah memang In Yub lah yang seharusnya pergi. In Yub hanya menghela nafasnya dan menundukkan wajahnya.


Ba Wol memberitahu Eun Ki keputusan Nyonya Yoon. Ia bertanya apa yang akan dilakukan Eun Ki jika In Yub yang harus pergi. "Saat ini Sa Wol juga khawatir".

Eun Ki terdiam dan berpikir. Lalu ia memutuskan, In Yub lah yang harus pergi.

--

Para pelayan pria juga terlihat kasak kusuk. Para pelayan pria yang sudah lama tinggal di kediaman Mneteri Pertahanan berpendapat bahwa In Yub yang seharusnya pergi, sedangkan Poong Yi berpendapat sebaliknya. Yong Joon berkata jika Dan Ji yang pergi, In Yub pasti tidak akan 'selamat' dari pelayan wanita lainnya. Dduk Swe juga menambahkan bahwa ibu Dan Ji telah bekerja sangat keras di kediaman Mneteri Pertahanan. "Jika Dan Ji yang pergi, langit pasti akan menghukum mereka", ucap Dduk Swe.

"Siapa? Nyonya Yoon atau In Yub?", tanya Poong Yi pada Dduk Swe.

"Dua-duanya", sahut Dduk Swe singkat.

"Jadi jika In Yub yang pergi, Dan Ji juga akan dihukum oleh langit?", tanya Poong Yi.

"Itu tidak akan terjadi", jawab Dduk Swe lagi.

Poong Yi berkata pada Moo Myeong yang baru tiba di sana, bahwa Moo Myeong pasti tidak akan tinggal diam, In Yub kan pernah bertunangan dengannya. "Ia tidak akan membiarkan In Yub menjadi ibu pengganti".

Dduk Swe ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Moo Myeong. Moo Myeong tidak menjawab. Ia melihat ke arah In Yub yang kebetulan lewat di dekat mereka.


Moo Myeong mengikuti In Yub. Sampai di suatu tempat, ia menghadang In Yub. Karena masih kesal, In Yub tidak mau berbicara dengan Moo Myeong. "Ada apa? Minggir". In Yub bergeser ke samping, tapi Moo Myeong kembali menghalangi jalannya.

Moo Myeong meminta In Yub jangan mau dipaksa melakukan apa pun dan memilih jalannya sendiri, walaupun orang lain memaksa In Yub, tapi In Yub tidak boleh menurut pada mereka. "Jika kau tidak bertambah kuat, kau tidak akan pernah berhenti jatuh dengan bebas". Setelah mengatakan itu, tidak menunggu jawaban dari In Yub, Moo Myeong langsung pergi.

In Yub memandang Moo Myeong heran dan kemudian ia melanjutkan langkahnya kembali.

--

Eun Ki dan Ba Woo datang ke kediaman Gubernur Jung. Ba Woo mengetuk pintu. Pelayan di sana bertanya siapa mereka. "Kami dari kediaman Menteri Keuangan. Apa gubernur ada di dalam?", tanya Ba Woo.

Eun Ki langsung masuk tanpa menunggu jawaban dari pelayan itu. Pelayan itu memandang mereka dengan curiga.

Eun Ki terlihat tidak sabar menunggu Gubernur Jung menyelesaikan makannya. Gubernur Jung sendiri dengan santainya makan dengan lahap dan tidak menawarkan sedikit pun pada Eun Ki. Keliatannya dia memang sengaja menguji kesabaran Eun Ki. Setelah selesai, Gubernur Jung mengelap mulutnya.

"Jual dia padaku", ucap Eun Ki.

Gubernur Jung tidak peduli dengan ucapan Eun Ki. Ia malah berteriak minta dibawakan minuman pada pelayannya. Lalu ia meminum minuman itu seteguk dan barulah berbicara dengan Eun Ki. "Jadi kau putra Menteri Keuangan?".

Eun Ki membujuk Gubernur Jung untuk memberikan In Yub padanya, walaupun sekarang In Yub seorang pelayan, tapi ia pernah menikah dengannya. Mendengar ucapan Eun Ki, Gubernur Jung malah senang. Jika In Yub pernah dipilih menjadi menantu Menteri Keuangan, artinya In Yub adalah kandidat terbaik untuk menjadi ibu pengganti.

Eun Ki berkata bahwa In Yub tidak bisa menjadi wanita Gubernur Jung, karena sebenarnya In Yub sudah menjadi wanitanya.

"Itu bukan masalah untukku. Yang kuinginkan adalah seorang anak laki-laki. Bukan seorang wanita. Pergilah", usir Gubernur Jung. Ketika Gubernur Jung akan mengambil gelas minumannya, Eun Ki mendahuluinya. Ia mengambil gelas milik Gubernur Jung dan meminum isinya dengan habis.

"Saya minta maaf karena menyebabkan ketidaknyamanan pada anda. Saya akan kembali... dalam waktu dekat ini. Lain kali saya akan membawakan alkohol lain yang lebih baik dan minum bersama anda", ucap Eun Ki sambil tersenyum.

"Saya akan menunggu anda", sahut Gubernur Jung.
--

Dduk Swe menemui Yoon Seo. Ia menceritakan bahwa Dan Ji akan dikirim menjadi ibu pengganti. Ia memohon bantuan Yoon Seo untuk mencegah hal itu terjadi.

Yoon Seo mengatakan bahwa sebenarnya ia sangat ingin membantu Dan Ji, tapi ibunya memerintah dengan tangan besi dan istrinya juga sedang marah, jadi ia tidak bisa berbuat banyak.

Dduk Swe berkata jika ia bisa dikirim menggantikan Dan Ji, maka kirim saja dia.

Tiba-tiba Yoon Seo menyadari apa yang dilakukan oleh Dduk Swe. Ia bertanya apa mungkin Dduk Swe menyukai Dan Ji.

Dduk Swe jadi salah tingkah, tapi ia tidak membenarkan ucapan Yoon Seo. Ia hanya berkata inilah yang harus dilakukan oleh seorang pria. Ia juga bertanya apakah Yoon Seo akan baik-baik saja jika Dan Ji pergi dari rumahnya, apakah Yoon Seo dapat hidup tanpa Dan Ji.

Yoon Seo terdiam tidak menjawab.

--

Dan Ji dan Gae Ddong menemui Yoon Ok. Yoon Ok merasa kesal karena mereka belum memutuskan siapa yang akan pergi. "Sudah jelas In Yub yang harus pergi", ucapnya.

Gae Ddong berkata bahwa mereka tidak mungkin langsung menunjuk In Yub selain In Yub sendiri yang dengan sukarela pergi ke sana.

Yoon Ok memberi saran agar mereka melakukan mengundi saja. Dan Ji merengut tidak mau, karena hasilnya tidak pasti, tergantung keberuntungan.

Yoon Ok menatap Dan Ji dengan tajam karena Dan Ji menolak permintaannya. Setelah Dan Ji tidak merengut lagi, ia tersenyum dan berkata, "Lakukan pengundian, aku yang akan menciptakan keberuntungan untukmu".
--

Dan Ji memikirkan ucapan Yoon Ok. Ia sama sekali tidak mengerti bagaimana Yoon Ok akan menciptakan keberuntungan untuknya. Dan Ji tidak mau In Yub berpikir bahwa dirinya yang akan tinggal, sedangkan ia harus pergi ke rumah Gubernur Jung.

Gae Dong tidak percaya In Yub akan berpikir begitu, bukankah ia baru sebentar tinggal di sini, bahkan ia sangat bodoh sampai-sampai tidak bisa membedakan antara pasta kacang kedelai dan sampah, ucap Gae Ddong.

Dan Ji membulatkan tekadnya. Bagaimanapun ia tidak mau mengalah, ia tidak mau mengorbankan dirinya hanya untuk menyelamatkan In Yub. Gae Ddong agak terkejut mendengar ucapan Dan Ji. "Ayo kita lakukan!", ajak Dan Ji pada Gae Ddong. Tapi kemudian Ia memarahi Gae Ddong karena Gae Ddong terlihat malas-malasan dan memintanya untuk melakukan rencana mereka dengan baik jika Gae Ddong ingin membantunya.

Dan Ji mengancam akan memukul Gae Ddong dengan panci yang ditangannya. Kemudian Dan Ji masuk ke dapur diikuti oleh Gae Ddong. Sebelum Gae Ddong masuk ke dalam dapur, Lady Kang lewat di sampingnya dan memanggilnya.

 

Sepertinya Gae Ddong menceritakan pada Lady Kang bahwa Dan Ji menolak dikirim ke rumah Gubernur Jung. Lady Kang jelas marah, "Kau tahu kan siapa yang harus meninggalkan rumah ini?".

"In Yub", jawab Gae Ddong. Lady Kang memukulnya. "Jika untukmu... jelas Dan Ji yang harus pergi".

Lady Kang menyumpal mulut Gae Dong dengan kue. Ia mengatakan bahwa ia menyerahkan semua urusan ini pada Gae Ddong. Jika Gae Ddong dapat menyingkirkan Dan Ji, ia berjanji akan berbicara pada Nyonya Yoon dan memintanya menikahkan Gae Ddong. "Dduk Swe tidak buruk, Ba Woo juga cukup tampan". Gae Ddong tersenyum senang. "Tapi jika In Yub yang terpilih, aku akan memberitahu Nyonya Yoon bahwa kau memanipulasi perhitungan suara", ancam Lady Kang. Kue yang ada di mulut Gae Ddong terjatuh, dan ia menangis ketakutan.


Di dapur Gae Ddong memimpin pengambilan undian. Ia mengatakan bahwa siapa yang mendapatkan kertas dengan huruf 'Bool' maka dialah yang akan pergi. Kemudian Gae Ddong menunjukkan huruf yang lain pada In Yub dengan terbalik -sepertinya tidak bisa membaca;-. In Yub mengatakan itu huruf 'Gah'.

"Jika kau mendapatkan huruf 'Gah' maka kau akan tetap tinggal di rumah ini", ucap Gae Ddong. Para pelayan yang ada di sana mengangguk-angguk paham.

Gae Ddong meletakkan guci yang berisi kedua huruf itu di hadapan In Yub dan Dan Ji. "Ayo kita mulai. Siapa yang pertama akan mengambil?"

Dan Ji dan In Yub saling bertatapan, tidak ada yang mulai.

"Jika sesuai sejarah, Dan Ji lah yang berhak mengambil duluan", ucap ibu Dan Ji.

"Diam saja ibu!", Dan Ji memotong ucapan ibunya dengan gemas.

"Kau ini bagaimana? Bagaimana kalau dia yang mendapatkan 'Gah' lebih dulu?". Dan Ji memandang ibunya dengan kesal.

Sa Wol menyuruh In Yub yang ambil lebih dulu. Ia meminta In Yub memilih kertas yang bentuknya persegi.

"Silahkan. Kau yang memilih duluan!", ucap Dan Ji sambil mendorong guci ke dekat In Yub.

In Yub dan Sa Wol memandang Dan Ji keheranan. Sa Wol mendorong kembali guci itu ke arah Dan Ji.

Para pelayan yang lain menjadi ribut. Kalau In Yub dan Dan Ji terus seperti itu, mereka akan berada di sana sampai malam hari. "Ini hanya lotere acak. Jadi pilih saja!", ucap salah seorang dari mereka.

Dan Ji mendorong lagi guci itu ke arah In Yub. In Yub mengambil guci itu, tapi kemudian tiba-tiba guci itu diambil kembali oleh Gae Ddong. Dan Ji memandang Gae Ddong dengan kesal, "Berikan padanya!".

Gae Ddong menutup matanya dan meletakkan kembali guci itu di depannya. Ibu Dan Ji langsung mengambil guci itu dan membukanya. Ia mengambil satu kertas da membukanya. Ia terkejut dan langsung memasukkan kertas itu ke dalam mulutnya dan menelannya.

Semua orang terkejut melihatnya. Dan Ji langsung menutup wajahnya dengan lemas. Sa Wol bertanya apa yang dilakukan ibu Dan Ji.

"Tiba-tiba saja aku lapar", jawab Ibu Dan Ji.

Dan Ji pura-pura memarahi ibunya. Ia berkata bahwa ia belum sempat melihat huruf yang ada di kertas itu.

Sa Wol membantahnya. Jelas-jelas ia melihat kertas yang dimakan oleh ibu Dan Ji bertuliskan huruf 'Bool'. Itu tandanya Dan Ji yang harus pergi.

Dan Ji berkeras yang tadi tidak masuk hitungan, ia ingin pengundian diulang lagi. Sa Wol tidak mau.

In Yub menengahi mereka. Ia berkata gucinya dibuka saja. Jika kertas 'Gah' yang tersisa, maka kertas yang tadi diambil Dan Ji adalah 'Bool'. begitu juga sebaliknya, jika kertas yang tersisa adalah 'Bool', maka yang tadi diambil Dan Ji adalah 'Gah'.

Semua pelayan mengangguk setuju. Dan Ji juga setuju, karena merasa rencananya berhasil. "Baiklah... Seperti yang In Yub katakan, kita akan memastikan dengan melihat kertas yang terakhir", ucapnya.

Sa Wol menunjuk jarinya ke arah Dan Ji dengan marah.

In Yub menarik nafasnya dan membuka tutup guci. Dan Ji terlihat tersenyum tipis. In Yub membuka kertas dan membaca huruf yang tertulis di sana, yaitu 'Bool'.

In Yub memberi kertas itu pada Sa Wol. Sa Wol membacanya. Ia marah pada Dan Ji, "Kau meletakkan dua kertas yang bertulis 'Bool' kan di guci ini? Kau juga dengan sengaja meminta Nona In Yub mengambilnya lebih dulu?"

Dan Ji menantang Sa Wol untuk membuktikan kertas apa yang dimakan oleh ibunya.

Sa Wol jelas saja tidak bisa membuktikan. Tapi ia bertanya pada pelayan yang lainnya, termasuk Dduk Swe dan Yong Joon yang berdiri tepat di sebelah ibu Dan Ji, "Kalian juga melihatnya, kan?".

Mereka semua menggelengkan kepala, pura-pura tidak melihat kertas apa yang dimakan oleh ibu Dan Ji tadi. Hanya Poong Yi seorang yang berkata ia melihatnya dan yang ia lihat adalah huruf 'Bool', jadi Dan Ji lah yang harus pergi.

Akhirnya Dan Ji mau mengalah dan mengakui bahwa ia memang meletakkan dua kertas 'Bool' di dalam guci. Dan Ji menantang In Yub. Apa In Yub berpikir ia yang harus pergi dan menjadi ibu pengganti? Apa In Yub akan dapat hidup dengan nyaman di setelah mengirimnya ke sana? "Semua ini... memang salahnya Tuan Eun Ki!", ucap Dan Ji marah sambil menggebrak meja.

In Yub hanya diam, menatap Dan Ji. In Yub terlihat akan mengatakan sesuatu. Tapi Sa Wol mendahuluinya. Ia berkata bukankah Tuan Yoon Seo juga ikut campur? Sa Wol merasa hal itu tidak penting sekarang, yang terpenting adalah Dan Ji mengkhianati In Yub dan memanipulasi semua ini. "Dasar kau wanita kotor!", maki Sa Wol.


Dan Ji tidak terima. Ia naik ke atas meja dan melempar semua yang di atas meja ke arah Sa Wol. Akhirnya mereka berdua berkelahi. In Yub berusaha menarik Saa Wol, dan Dduk Swe menarik Dan Ji. Keadaan menjadi sangat kacau.

Tiba-tiba Moo Myeong datang dan berteriak, "Apa yang kalian lakukan?". Semuanya terkejut dan berhenti berkelahi. "Lihat kalian semua! Jika kalian berdua tidak mau ditendang dari rumah ini, kalian harus bekerjasama!".

"Apa itu anjingnya majikan yang sedang berbicara? Seekor kucing hanya memikir kan tikus ketika dia lapar. Siapa yang kau rencanakan untuk dibunuh kali ini?", sindir Poong Yi.

Moo Myeong memandang Poong Yi dengan kesal. Ia akan mengatakan sesuatu, tapi ibu Dan Ji memotongnya. "Benar, aku pikir ini bukan urusan yang harus kau campuri olehmu, Moo Myeong."

Para pelayan yang lain ingin tahu apa memang benar Moo Myeong melakukan itu pada Ok Yi. Mereka tidak menyangka Moo Myeong akan bertindak sejauh itu.

Moo Myeong hanya diam tidak mengatakan apa pun. Ia melihat ke arah In Yub, begitu juga dengan In Yub. Kemudian ia melangkah pergi keluar dari dapur.

In Yub terlihat memikirkan sesuatu. Ia turun ke ruang bawah tanah dengan membawa kendi di tangannya. Ia memeriksa sekelilingnya dan mengambil pesan dan kayu milik ayahnya dari balik bajunya. Ia menyimpan kedua benda itu ke dalam sebuah kantung yang terbuat dari kain dan menjahitkan kantung tersebut ke kaus kakinya. Setelah selesai, ia memakai kembali kaus kakinya.


Di sebuah tempat persembunyian kelompok Man Wol, Moo Myeong menemui Hae Sang. Ia bertanya apakah Hae Sang tidak melakukan apa pun untuk mencegah kepergian In Yub dan Dan Ji. Karena jika Hae Sang membiarkannya, salah satu dari mereka akan pergi.

Hae Sang mengatakan bahwa orang yang akan pergi sudah ditentukan. Saat dia keluar dari rumah itu, ia harus dilenyapkan.

Moo Myeong terkejut. Hae Sang menyadari keterkejutan Moo Myeong, tapi ia mengatakan bahwa masalah ini sudah lama mereka bicarakan, jadi hanya masalah waktu saja kapan dilaksanakannya.

"Tapi...", ucap Moo Myeong.

"Chi Bok akan melakukan tugas ini. Ini sesuatu yang tidak bisa kau lakukan", putus Hae Sang. Moo Myeong terpaksa menyetujui keputusan Hae Sang. Moo Myeong berbalik dan berjalan keluar. Ia berhenti dan menatap Chi Bok sejenak. Chi Bok adalah pria yang memanah Duk Goo dan In Yub di area pemakaman.

Chi Bok menemui Hae Sang. Hae Sang ingin tahu bagaimana persiapan rencana Chi Bok. "Saya sudah menyiapkan kereta tandu", jawab Chi Bok.
--

Eun Ki bertemu dengan dua temannya di rumah gisaeng. Ia meminta bantuan salah seorang temannya untuk menyembunyikan In Yub untuk sementara waktu. Tetapi temannya itu menolak. Ia tidak mau membantu karena In Yub adalah putri seorang pengkhianat.

Eun Ki mengerti dan tidak bisa memaksa temannya itu. Ia mengambil minuman dan menuangkan ke gelasnya. Kemudian temannya yang lain memberi nasehat pada Eun Ki untuk melupakan semua perasaannya pada In Yub. Bukankah tidur dengan seorang pelayan sangat mudah. Dan ia juga berpikir bahwa sepertinya In Yub sudah perawan lagi.

"Apa kau bilang?", tanya Eun Ki marah.

Teman yang lain berusaha melerai. Tapi temannya itu terus menjadi. Ia meminta Eun Ki sadar dan berhenti mempermalukan bangsawan.

Eun Ki mendekati temannya itu dan menarik kerah baju temannya. "Orang sepertimu, yang tidur dengan semua gadis dan tidak mau bertanggung jawab, itu yang mempermalukan bangsawan!".

Teman Eun Ki itu menghentakkan tangan Eun Ki sampai terlepas. Menurutnya apa bagusnya bertanggung jawab pada pelayan. Baginya, mereka hanya seperti hewan ternak. Tugas mereka hanya melahirkan banyak bayi untuk membantu menaikkan kesejahteraannya.

Eun Ki sangat marah. Ia meninju temannya itu. Mereka akan benar-benar berkelahi. Tiba-tiba Hee Ah masuk dan menghentikan perkelahian mereka. Ia berkata jika mereka tidak menyukai teman minumnya, ia akan menyiapkan kamar yang terpisah untuk mereka.

Hee Ah menemani Eun Ki yang terlihat sangat tertekan. Hee Ah menawarkan minuman pada Eun Ki. Tapi Eun Ki menolaknya, "Aku sudah muak dengan minuman". Lalu Eun Ki berusaha untuk berdiri dan pamit pulang.

Hee Ah menahannya dan berkata sepertinya Eun Ki sedang menghadapi masa sulit. "Dapatkah saya menawarkan bantuan?"

Eun Ki tersenyum dan berkata, tadi teman-temannya memandang rendah padanya, dan sekarang seorang gisaeng juga memandang rendah dirinya.

Hee Ah terkejut dengan kesalahpahaman Eun Ki dan ia segera meminta maaf. Eun Ki mengatakan bahwa seorang gisaeng seperti Hee Ah mungkin tidak dapat melakukan apa pun untuk membantunya.

Hee Ah sedikit terkejut mendengar ucapan Eun Ki dan raut wajahnya terlihat sedikit sedih.

--

Dan Ji memanggil Yong Joon. Ia mengingatkan Yong Joon bahwa hari ini adalah waktunya. Dan Ji meminta Yong Joon melakukannya hari ini. Awalnya Yong Joon terlihat bingung, tapi kemudian ia tersenyum dan memberi tanda pada Dan Ji bahwa ia akan melakukannya hari ini.

Ternyata Yong Joon mengajak Lady Kang bermain judi. Ia juga mengajak Poong Yi bersamanya. Poong Yi menyerah, ia kalah. Yong Joon meletakkan kartunya dan ternyata ia yang menang. Lady Kang kesal dan penasaran kenapa ia bisa kalah terus. Lady Kang minta dikocok lagi. Tapi Poong Yi menolak. Ia mengatakan taruhannya sangat kecil, jadi ia tidak mau diganggu karena permainan kecil itu.

Yong Joon pura-pura berusaha membujuk Poong Yi untuk kembali bermain. Tapi Poong Yi tetap tidak mau. Beberapa waktu lalu ia bermain dan taruhannya adalah surat tanah majikannya. Akhirnya karena melihat Poong Yi berhenti, Yong Joon juga berpura-pura berhenti. Lady Kang menahan mereka dan minta bermain satu ronde lagi. Lalu ia membuka lacinya dan mengambil kotak perhiasannya.

Lady Kang menuangkan semua perhiasannya. Poong Yi dan Yong Joon pura-pura terpaksa duduk dan ikut bermain lagi. Sementara Dan Ji dan ibunya menguping dari luar.

Tidak lama kemudian terdengar hasil permainannya. Lady Kang kalah dan semua perhiasannya diambil oleh Yong Joon. Lady Kang berusaha menahan perhiasannya. Ia menyesal dan berkata hanya perhiasan itu yang dimilikinya.

Poong Yi berkata jika Lady Kang tidak suka, mereka masih bisa bermain lagi besok hari. Tapi Lady Kang berkata ia sudah tidak memiliki apa pun lagi.

Poong Yi menyarankan agar Lady Kang meminjam uang saja pada mertuanya. "Kami selalu bersedia bermain lagi?", ucap Yong Joon.

Lady Kang mencium sesuatu yang mencurigakan, "Kalian merencanakan semua ini bukan?"

Dan Ji mendengar Lady Kang akan meledak. Ia memberi kode pada ibunya untuk masuk ke dalam kamar Lady Kang.

"Nyonya... kami membawakan pispot untuk anda", tiba-tiba Dan Ji membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Lady Kang sangat terkejut. Cepat-cepat ia membalikkan badannya.

Dan Ji pura-pura terkejut melihat Lady Kang bermain judi dengan Yong Joon dan Poong Yi. -ga ngerti kenapa Poong Yi mau membantu Dan Ji, padahal bukannya dia ada di pihak In Yub?-

"Apa yang terjadi disini?", teriak ibu Dan Ji.

Yong Joon dan Poong Yi cepat-cepat keluar dan membawa perhiasan Lady Kang sambil mengedipkan mata mereka pada Dan Ji.

Di luar, Poong Yi berkata bahwa Lady Kang itu benar-benar bodoh, hingga mereka bisa menang sebanyak ini. Tiba-tiba Poong Yi melihat Moo Myeong bersama seorang wanita yang menutup kepalanya dengan kain.

"Bukankah itu Moo Myeong?", tanya Poong Yi.

"Beberapa waktu ini terlihat sepi, tapi sepertinya Tuan Seo memulainya lagi", ucap Yong Joon. Poong Yi memandang Yong Joon bingung. "Hanya sesuatu yang dilakukan oleh Tuan Seo", ucap Yong Joon singkat.

Yong Joon tidak begitu peduli dan ingin segera masuk ke asrama, tapi Poong Yi masih penasaran. Ia memandang wanita itu dengan rasa ingin tahu.

Moo Myeong membawa wanita itu ke dalam rumah. Ia memberitahu Eung Cham bahwa ada tamu untuknya.

"Tamu? Larut malam seperti ini?", tanya Eung Cham sambil tetap membaca bukunya.


Lalu Moo Myeong membuka pintu dan wanita itu masuk. Wanita itu membuka tutup kepalanya. Eung Cham terkejut melihat Ok Yi dengan perut yang membesar. Ok Yi memberi hormat pada Eung Cham.

Terlihat Moo Myeong berjaga-jaga di luar. Tidak jauh darinya, Poong Yi bersembunyi dibalik dinding pagar.

Eung Cham menyapa Ok Yi. Ia bertanya kapan Ok Yi akan melahirkan. Ok Yi berkata sepertinya Eung Cham tidak mengkhawatirkannya hidup atau mati.

"Sepertinya Moo Myeong menyelamatkan nyawamu", ucap Eung Cham.

Ok Yi berkata ia tidak tahu bagaimana nasibnya nanti jika Nyonya Yoon melihatnya masih hidup. Ia mengambil resiko ini karena ia ingin Eung Cham sendiri yang akan memberi nama untuk anak yang dikandungnya.

Eung Cham terdiam cukup lama. Ia memerintahkan Ok Yi pulang kembali ke tempatnya. Ok Yi terkejut. "Kau tahu ini tidak akan berhasil, jadi kenapa kau membahayakan nyawamu? Apa kau mau kembali ke sini? Anakmu tetap akan hidup sebagai budak. Semua orang percaya bahwa kau sudah mati. Sembunyilah dan hidup diam-diam!", usir Eung Cham.

Ok Yi menangis. Ia tidak menyangka Eung Cham akan sekejam itu, padahal anak yang dikandungnya adalah anak Eung Cham juga.

"Nasib anak itu ditentukan oleh siapa ibunya, bukan ayahnya. Walaupun dia anakku tapi ia memiliki darah pelayan darimu. Buang keserakahanmu. Hanya dengan cara itu, kau bisa menyelamatkan nyawamu. Kembalilah ke tempatmu!", ucap Eung Cham.

Ok Yi hanya bisa menangis.


Kembali lagi dengan apa yang terjadi di kamar Lady Kang. Dan Ji berjanji pada Lady Kang bahwa ia akan mengakhiri semuanya dengan Yoon Seo.

Ibu Dan Ji berkata bahwa ia ingin Lady Kang memaafkan Dan Ji dan tidak mengusirnya pergi. Jika Lady Kang melakukan itu, ia tidak akan memberitahu Nyonya Yoon bahwa Lady Kang bermain judi.

Dan Ji juga ikut mengancam Lady Kang, ia berkata jika Nyonya Yoon tahu Lady Kang telah bermain judi atas perhiasan hadiah pernikahannya, Lady Kang pasti tahu apa yang akan terjadi.

Lady Kang marah karena Dan Ji dan ibunya berani mengancamnya. Tapi ia tidak bisa melakukan apa pun. Nasi sudah menjadi bubur. "Dan lagi mereka juga sangat khawatir karena anda belum juga hamil", ancam ibu Dan Ji lagi. Lady Kang bertambah stres, lalu ia menegak minuman langsung dari wadahnya.

Ia meletakkan wadah minuman itu. Dan Ji mengambilnya dan minum langsung dari wadah itu juga. Lady Kang terkejut melihat sikap Dan Ji.

Dan Ji mendekati Lady Kang dan mengancamnya, "Bagaimana jika aku keluar dari sini dan kemudian menemui suami anda dengan bebas? Bukankah itu lebih menyakitkan untuk anda?"

Lady Kang berkata Dan Ji masih bermimpi besar setelah menjadi seorang ibu pengganti, apa ia pikir Yoon Seo masih menginginkannya setelah ia menjadi ibu pengganti?

Dan Ji mundur dan mengancam, "Bertemu atau tidak, kita akan tunggu dan lihat saja nanti".

Lady Kang memandang Dan Ji, ia tidak percaya Dan Ji bisa seberani itu padanya.


Yoon Seo tidur dikamarnya sendirian. Ia bingung memikirkan Dan Ji yang akan pergi menjadi ibu pengganti. Tiba-tiba Lady Kang masuk dengan wajah lesu. Yoon Seo berteriak ketakutan dan panik.

"Apa lagi sekarang?", tanya Yoon Seo pasrah.

Lady Kang duduk di depan Yoon Seo dan berkata bahwa ia akan menepati janjinya.

"Ah! Kau sangat bau. Apa kau minum sampai mabuk?", tanya Yoon Seo sambil menutup hidungnya.

"Ya. Aku harus minum yang banyak. Apa kau pikir aku bisa mengatasi ini dalam keadaan sadar?", tanya Lady Kang. "Si brengsek Dan Ji itu... aku akan memaafkannya".

Yoon Seo terkejut. "Apa kau serius, istriku?", tanya Yoon Seo dan mendekat ke arah Lady Kang.

Tapi Lady Kang minta satu persyaratan pada Yoon Seo, yaitu ia tidak akan pernah pergi menemui Dan Ji lagi. Di luar kamar Yoon Seo, Dan Ji dan ibunya menguping pembicaraan Yoon Seo dan Lady Kang. Jika Yoon Seo berjanji melakukan itu, maka ia akan menganggap semua ini tidak pernah terjadi.

Yoon Seo sangat senang. Ia akan berjanji pada Lady Kang seratus kali, tidak, tidak, seribu kali. Yoon Seo mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada Lady Kang. Yoon Seo menggenggam tangan Lady Kang. Kemudian ia juga meminta Lady Kang berjanji untuk mengatakan ini pada ibunya.

Lady Kang menolak. Ia merasa itu adalah tanggung jawab Yoon Seo.

Yoon Seo mundur dan melepaskan tangan Lady Kang. "Aku sudah memintanya membunuh Dan Ji karena telah berselingkuh denganmu. Dan sekarang kau ingin aku memohon pengampunan darinya?", ucap Lady Kang.

Tetapi Yoon Seo tetap tidak mau. Ia merasa takut. Ia ingat apa yang terjadi ketika ia terakhir kali mencoba membantu Dan Ji. "Jadi, kumohon. Bantulah aku!"

Wajah Lady Kang sedikit melunak. Kalau begitu sebagai gantinya, Lady Kang meminta Yoon Seo bertanggung jawab padanya sampai ia hamil.

Yoon Seo mundur menjauh dari Lady Kang. "Hamil?"

Tapi akhirnya Yoon Seo terpaksa menyetujui permintaan Lady Kang, tapi ia kembali meminta janji Lady Kang untuk membicarakan ini dengan ibunya.

"Baik. Aku berjanji", jawab Lady Kang.

Dengan takut-takut bercampur enggan, Yoon Seo meminta Lady Kang mematikan lilin. Lady Kang tersenyum senang dan meniup lilin.


Sementara di luar kamar, ibu Dan Ji senang karena Lady Kang memaafkan Dan Ji. Sedangkan Dan Ji sangat marah karena Yoon Seo tidur dengan istrinya. "Brengsek!",  umpat Dan Ji. Ibu Dan Ji terpaksa menutup mulut Dan Ji dan menariknya menjauh dari kamar Yoon Seo.

Moo Myeong mengantar Ok Yi sampai ke pintu pagar -sepertinya Ok Yi pergi melalui pintu samping. Karena pintu ini berbeda dengan pintu utama kediaman Menteri Pertahanan yang memiliki tangga di depannya- Ok Yi memberi hormat pada Moo Myeong. Setelah Ok Yi pergi, Moo Myeong menutup pintu kembali .

Setelah Moo Myeong pergi, Poong Yi keluar dari pintu itu dan diam-diam mengikuti Ok Yi.

Bersambung...

[Sinopsis Maids Episode 9 Part 2]

Share:

Post a Comment

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes