Sinopsis Remember Episode 2 Part 1

[Sinopsis Remember Episode 1 Part 2]

Sinopsis Remember Episode 2 Part 1

Sinopsis Remember Episode 2 Part 1
Credit : SBS
Kdramastory - Tuan Seo terbangun karena mimpi buruk. Ia memimpi Jung Ah dengan memakai baju merah berlari ketakutan sambil melihat ke belakang di hutan. Tuan Seo sampai berkeringat dan tangannya gemetaran.

Saat Jin Woo mengunjunginya, Tuan Seo meminta maaf. Jin Woo mohon agar ayahnya tidak berkata seperti itu karena saat trial nanti, pengacara akan membuat segalanya menjadi benar kembali dan negara akan menyediakan pengacara umum bagi orang miskin seperti mereka. Jin Woo meminta ayahnya untuk tidak khawatir karena ia mendengar banya pengacara yang masih memiliki hati nurani.


Seseorang masuk dan memperkenalkan dirinya sebagai Pengacara Song Jae Ik, seorang pembela umum. Jae Ik melihat Jin Woo dan bertanya pada Tuan Seo apa Jin Woo putra Tuan Seo. Mereka akan berbicara tentang trial, jadi ia berharap mereka hanya bicara berdua saja.

Jin Woo menyahut, memberitahukan bahwa ia adalah satu-satunya keluarga Tuan Seo jadi ia berhak mengetahui tentang trial yang akan dilakukan. Jae Ik mendengus dan mengizinkan Jin Woo mendengarkan.

Jae Ik mengatakan bahwa trial ini akan sulit karena tidak hanya dari bukti, Tuan Seo bahkan sudah menuliskan pernyataan pengakuannya. "Pernyataan pengakuan itu... saya dipaksa melakukannya", sahut Tuan Seo.

"Dipaksa atau pun tidak, itu sama saja", sahut Jae Ik ringan. Jae Ik menyarankan Tuan Seo untuk mengaku bersalah di trial nanti karena jika Tuan Seo melakukan itu dan memohon keringanan maka Tuan Seo bisa mendapatkan paling tidak pengurangan penjara sekitar 1 tahun.

"Tidak. Aku tidak akan melakukan itu", jawab Tuan Seo.

"Kalau begitu, aku tidak akan menjamin hasilnya nanti", sahut Jae Ik lagi, tidak peduli. Jae Ik menyarankan lagi, saat sidang trial hanya ia yang menjawab pertanyaan hakim, Tuan Seo cukup hanya duduk diam di persidangan seolah-olah tidak bersalah.

"Apa maksud anda seolah-olah saya tidak bersalah? Saya benar-benar tidak bersalah", ucap Tuan Seo berusaha meyakinkan Jae Ik.

Dan tanpa perasaan, Jae Ik menyahut, "100, Anda mendapat nilai 100". Jae Ik menyuruh Tuan Seo melakukan ekspresi seperti tadi di persidangan nanti.

Jin Woo yang sedari tadi memperhatikan ekspresi Jae Ik, memotong pembicaraan. Ia yakin Jae Ik pasti tidak mempercayai ayahnya, kalau Jae Ik seperti itu, bagaimana bisa Jae Ik membela ayahnya di persidangan nanti? Jika Jae Ik sebagai pengcara ayahnya saja tidak mempercayai ayahnya, lalu siapa lagi?, tuntut Jin Woo.

Jae Ik tertawa kecil dan mengatakan ia percaya pada ayah Jin Woo. Tapi kemudian ia melempar tatapan yang tidak percaya pada Tuan Seo. Jin Woo memandang khawatir pada ayahnya.


Kembali di saat sebelum persidangan trial Tuan Seo.

Saat menaiki tangga ke gedung pengadilan, In Ah bertemu dengan teman kuliahnya yang sok pintar itu, Nam Yeo Kyung. Yeo Kyung memberitahukan bahwa ia beruntung karena terpilih menjadi anggota juri dan ia yakin ini pasti akan menyenangkan.

"Menyenangkan? Kau pikir sidang trial itu menyenangkan?", tanya In Ahn tidak percaya. Dengan santai Yeo Kyung berpendapat sidang trial selalu ada yang kalah dan menang dan ia melihat itu seperti sebuah game.

In Ah hanya menganggukkan kepalanya, tidak percaya dan memandang punggung Yeo Kyung dengan kesal saat Yeo Kyung berjalan masuk ke arah gedung pengadilan.


In Ah melihat ramai orang yang berdemo di depan gedung pengadilan dan di bagian paling belakang, ia melihat Jin Woo. Ia mengenali Jin Woo dan menyapa Jin Woo, bertanya apa Jin Woo mengingat dirinya.

Jin Woo tidak mendengar pertanyaan In Ah, matanya fokus, tertuju pada sebuah bus yang memasuki area drop off gedung pengadilan dan berhenti tidak jauh dari pintu masuk pengadilan. Orang-orang meneriaki Tuan Seo pembunuh, banyak reporter yang berkumpul dan mengambil gambar Tuan Seo. "Ayah... Ayah... Ayah...", bisik Jin Woo, sedih.

In Ah baru mengetahui bahwa tersangka pembunuhan Oh Jung Ah adalah ayah Jin Woo.

Sementara itu, saat dibawa masuk ke dalam gedung pengadilan, Tuan Seo seperti kebingungan dan linglung. Berkali-kali ia melihat ke arah belakang. Seperti mencari-cari seseorang, mungkin mencari Jin Woo.

Setelah Tuan Seo masuk ke gedung pengadilan, salah seorang pendemo menunjuk ke arah Jin Woo dan berteriak bahwa Jin Woo adalah putra dari Seo Jae Hyuk. Orang-orang mulai mendekati Jin Woo dan salah satu dari mereka bahkan mencengkeram jaket Jin Woo dengan kuat, sampai-sampai kalung Jin Woo jatuh ke tanah. Jin Woo tidak melawan. Untungnya para polisi bisa menahan pada pendemo dan menjauhkan mereka dari Jin Woo. Tapi mereka tidak bisa mencegah pada pendemo yang melempari Jin Woo dengan telur.

In Ah melihat Jin Woo panik dan kasihan. Ia juga melihat kalung Jin Woo yang terjatuh di tanah.

Dong Ho sedang mencuci tangan di toilet, saat mendengar suara seseorang muntah di dalam wc. Dong Ho mendekati wc itu dan bertanya keadaan pria yang keluar dari sana. Jae Ik mengatakan ia baik-baik saja. Saat melihat Dong Ho, Jae Ik langsung mengenali Dong Ho dan memanggilnya sunbae, Jae Ik memperkenalkan dirinya.

Dong Ho mengatakan seharusnya Jae Ik tidak minum di persidangan trial pertamanya. Jae Ik berkata ia berusaha menutupinya tapi ternyata kelihatan juga. Lalu Jae Ik bersendawa. Dong Ho mengibas-ngibaskan tangannya, berusaha menghilangkan bau yang keluar dari mulut Jae Ik.

"Kau pembela umum ya?", tebak Dong Ho.

"Apa aku sangat terlihat pembela umum?", tanya Jae Ik balik.


Dong Ho bertanya sidang trial apa yang akan dihadapi oleh Jae Ik. saat itu, kebetulan Jin Woo juga akan masuk ke toilet, jadi ia mendengar jawaban Jae Ik.

"Kasus pembunuhan Oh Jung Ah. Sidang trial juri", jawab Jae Ik. Dong Hoo memuji Jae Ik yang masih baru tapi mendapatkan sebuah kasus yang besar. Tapi Jae Ik tidak merasa senang, sebaliknya ia merasa terpaksa karena negara yang menunjukkan, tidak ada seorang pun yang akan membela orang dengan kasus seperti itu.

Wajah Jin Woo menjadi sedih.

Jae Ik mengambil botol obatnya dan menepuk dadanya, berusaha menenangkan detak jantungnya yang cepat. Dong Hoo tertawa kecil dan bertanya siapa lawan Jae Ik.

"Jaksa Hong Moo Suk. Apa kau mengenalnya?", tanya Jae Ik.

"Sedikit". Dong Hoo berkata jaksa Hong orangnya sering berbicara menusuk dan sering membuat para penulis novel kalah dalam hal mengarang cerita yang melebar kemana-mana. Menurut Dong Hoo, jaksa Hong memiliki spesialisasi dalam sidang trial juri. Dong Hoo ingin tau kenapa Jae Ik memiliki sidang trial juri.

"Itu keinginan terdakwa", sahut Jae Ik.

Menurut Dong Ho, hampir semua yang datang ke ruang sidang merasa diperlakukan tidak adil, memiliki suatu keadaan yang meringankan dan tidak bersalah. Lalu Dong Ho menanyakan apa Jae Ik memiliki masalah lain selain jantungnya yang berdebar itu.

Jae Ik tertawa kecut dan menjawab, ada...

Sidang akan dimulai. Jae Ik mulai mengelap keringat di lehernya. Di antara penonton sidang, hadir ayah Oh Jung Ah. Tuan Seo dibawa masuk. Saat melewati Jin Woo yang saat itu duduk di barisan paling depan, Tuan Seo menatap Jin Woo sesaat dan tersenyum tipis pada Jin Woo.

Jin Woo terus menatap ayahnya sampai ayahnya duduk di kursi. Saat ayahnya menatapnya, Jin Woo berusaha tersenyum.

Setelah hakim membuka sidang dan memerintahkan salah seorang angggota juri membaca sumpah, hakim meminta jaksa Hong memberikan pernyataan awalnya.



Jaksa Hong berdiri dan mengatakan, bahwa untuk kasus pembunuhan Oh Jung Ah yang terjadi tanggal tanggal 2 november 2011, ia menuntut tersangka dengan tuduhan pemerkosaan dan pembunuhan.

Dong Ho masuk ke dalam ruang sidang dan mencari-cari kursi kosong di bagian penonton. Ia memilih kursi di bagian paling belakang.

Lalu hakim meminta pembela Jae Ik memberikan pernyataan awalnya.


Disinilah baru terlihat masalah Jae Ik yang sebenarnya. Dia gagap. Dengan terbata-bata, Jae Ik mengatakan bahwa ia menolak semua tuduhan jaksa dan mengaku tidak bersalah.

Ruang sidang sedikit gaduh karena penonton tertawa. Jin Woo sendiri kaget melihat Jae Ik yang seperti itu, Jin Woo merasa benar-benar putus asa. Dong Ho bergumam sambil tersenyum geli, "Aku datang karena dia bilang gagap dan ini menyenangkan..".

Hakim mengetukkan palunya, memerintahkan para peserta sidang untuk tenang. Hakim bertanya pada Jae Ik, memastikan apakah Jae Ik benar-benar bisa membela tersangka karena ia melihat Jae Ik memiliki masalah yang serius.

Dengan terbata-bata lagi, Jae Ik menjawab bisa. Ia kembali duduk dan mengelap keringatnya... :-D


Jaksa Hong mempresentasikan slide lengkap dengan foto Jung Ah yang terbaring kaku di tanah dengan menggunakan infokus. Ia menjelaskan bahwa Jung Ah dibunuh setelah mengalami kekerasan seksual, di dalam bagian intimnya terdapat jejak kerusakan yang serius tapi penyidik tidak bisa menemukan sperma dari pelaku karena tersangka Seo Jae Hyuk menggunakan alat kontrasepsi.

Tuan Seo spontan mengangkat wajahnya yang sedari tadi hanya menunduk saja.

Jaksa Hong meneruskan, dari fakta itu ia menyimpulkan bahwa pembunuhan itu bukan sebuah pembunuhan spontan (tidak disengaja) tapi pembunuhan terencana.

"Kau punya bukti?", gumam Dong Ho sendiri di belakang.

Jaksa Hong menyimpulkan bahwa Tuan Seo Jae Hyun sengaja membunuh Oh Jung Ah setelah melakukan kekerasan seksual pada gadis itu. Kemudian Jaksa Hong mulai menggambarkan cerita menurut versinya, pertama, Tuan Seo menyerang kepala gadis itu dan kemudian mencekiknya. Dengan senjata yang sudah dipersiapkan, Tuan Seo menusuk dadanya. Sehingga dengan adanya senjata yang disiapkan, maka mereka dapat menilai bahwa pembunuhan itu sudah direncanakan.

Ayah Jung Ah mulai terhasut dengan pernyataan Jaksa Hong.

"Ini semua hanya spekulasi. Jangan menulis novel, bawa buktinya...", gumam Dong Ho dengan gemas di belakang. Gemas karena Jae Ik hanya diam saja.

Di hadapan juri, jaksa Hong bertanya, "Berapa kali kalian berpikir dia menusuknya? Satu kali? Dua kali? Tiga kali?". Para juri terdiam. "Tidak. Hasil otopsi menunjukkan bahwa gadis itu bahkan sudah mati sebelum penusukan yang pertama. Tapi tersangka masih menusuk lebih dari sepuluh kali di sekujur tubuhnya".

Yeo Kyung memandang marah pada Tuan Seo. Ayah Jung Ah juga mulai tersulut emosinya.

"Apa sebenarnya yang dilakukan pembela? Dia seharusnya mengatakan keberatan dan bertanya apakah mereka menemukan senjatanya...", gumam Dong Ho lagi. Kesal.

Jaksa Hong melanjutkan dengan menunjukkan foto tusukan yang dipampang di slide. "Dia terus menusuk, menusuk, dan menusuk. Walaupun dia tau gadis itu sudah mati, tapi kenapa ia melakukan itu? Itu karena ia merasa senang melakukannya".

Jae Ik akhirnya berdiri dan mengatakan itu hanyalah spekulasi jaksa. Masih dengan tergagap. #lapkeringat

Dong Ho memejam matanya karena geram. Jaksa Hong meminta Jae Ik mengulang pernyataannya karena Jae Ik tidak mengucapnya dengan jelas. Terpaksa Jae Ik mengulangnya, dan masih tergagap.

"Oh, spekulasi? Itu bukan spekulasi, tapi itu adalah teori spekulasi yang didasarkan atas akal sehat", sahut jaksa Hong.

Hakim menerima keberatan Jae Ik dan meminta jaksa Hong membawa buktinya. Lalu hakim mengumumkan bahwa sidang akan diistirahatkan sejenak.

Semuanya bubar keluar dari ruang sidang. Dan Tuan Seo melihat ayah Jung Ah menatapnya dengan marah.


Di luar, Dong Ho memberikan kopi untuk Jae Ik dan meminta Jae Ik untuk tidak memikirkan masalah menang. Tapi ia khawatir apa Jae Ik bisa membela tersangka dengan baik dengan masalahnya yang seperti itu.

Jae Ik membela diri. Ada yang bilang padanya itu hanya kegelisahan saat sidang dan ia tidak seperti itu di sidang latihan saat di sekolah hukum, itu hanya terjadi di sidang sungguhan. Dong Ho memandang Jae Ik prihatin.

Jae Ik meminum kopinya dan langsung memuntahkannya kembali karena panas. :-P. Ia mengatakan bahwa dokternya mengatakan masalahnya ini tidak bisa disembuhkan hanya dengan obat tapi ia harus terus berjuang berdiri di ruang sidang.

"Saat kau berjuang mengatasi kegelisahanmu itu, seseorang akan berakhir di tempat yang buruk", sahut Dong Ho kesal. Dong Ho bahkan meniru gaya bicara Jae Ik. Dengan santainya, Jae Ik menyahut bahwa tidak ada yang bisa ia lakukan selain itu. "Tidak ada yang bisa...?", Dong Ho geram sekali, ingin memukul Jae Ik.

In Ah mendekati Jin Woo yang tidak keluar dari ruang sidang dan memberikan kalung yang ia ambil di luar tadi. Jin Woo menerimanya dan tidak mengatakan apa pun. Jin Woo berusaha menahan tangisnya.

Setelah istirahat, sidang dimulai lagi dengan jaksa Hong yang memberi pertanyaan pada Tuan Seo. "Kau orang pertama yang menemukan Nona Oh Jung Ah, bukan?".

"Ya".

"Apa benar kau sudah mengenal Oh Jung Ah lebih dari sepuluh tahun?".

"Ya".

"Tapi sebelumnya waktu detektif menanyakan apakah kau mengenal Oh Jung Ah, kau bilang tidak kenal, benar?".

"Ya, saya menjawab seperti itu karena waktu itu saya tidak bisa mengingat dan sekarang memori saya...". Tuan Seo menjawab dengan sedikit gelisah.

Jaksa Hong langsung memotong dengan tegas, "Jawab ya atau tidak". Terpaksa Tuan Seo menjawab ya. Jae Ik menghela nafasnya, pasrah.

Jaksa Hong mengatakan bahwa estimasi waktu menghilangnya Oh Jung Ah adalah sekitar pukul 2 hingga 3 pagi dan menanyakan dimana dan apa yang dilakukan Tuan Seo saat itu.

Tuan Seo berusaha mengingat. Jaksa Hong tidak memberi kesempatan pada Tuan Hong dan terus mendesak Tuan Seo, menuduh Tuan Seo akan memberi alasan tidak ingat lagi.


Tuan Seo menatap sekilas jaksa Hong. Samar-samar ia teringat ia mendapat telpon dari Jin Woo dan ia tidak tau dimana ia berada. Saat itu Jin Woo memintanya untuk diam di sana karena Jin Woo akan menjemputnya. Setelah itu Tuan Seo tidak ingat lagi.

Jaksa Hong tidak sabar karena Tuan Seo terdiam cukup lama dan mengulang pertanyaannya kembali.

Dong Ho yang juga tidak sabar bergumam, "Paling tidak berbohong dan bilang kau ingat...".

Akhirnya Tuan Seo menjawab dan ia menjawab tidak ingat lagi. Dong Ho menghela nafasnya.

"Jadi kau bilang kau tidak ingat kau dimana dan apa yang kau lakukan saat itu, benar?"

Dengan jujur Tuan Seo menjawab ya.

"Itu mudah. Kau bilang kau kehilangan ingatanmu pada saat-saat tertentu. Sepertinya kau berencana mengajukan teori hilangnya ingatanmu pada sidang trial ini. Bukankah kau hanya tidak ingat fakta bahwa telah membunuh?", tanya jaksa Hong pada Tuan Seo.

"Bukan itu. A-a-aku tidak membunuhnya", bantah Tuan Seo.

"Karena kau tidak ingat, bagaimana kau bisa yakin kau tidak membunuhnya?", desak jaksa Hong. Tuan Seo terdiam. "Aku lihat kau tidak bisa menjawab".

Jaksa Hong beralih dan berbicara pada dewan juri. "Anggota juri, walaupun pelaku mungkin menghapus ingatannya tentang kejadian hari itu tapi tidak akan bisa menghapus kebenaran yang terjadi hari itu, sepanjang keadilan ditegakkan".

Dong Ho berpikir sendiri dan bergumam, "Pria itu, mungkinkah ia benar-benar membunuhnya?".



Ayah Jung Ah mulai marah karena Tuan Seo mengatakan tidak ingat. Ayah Jung Ah berdiri dari kursi penonton dan berlari ke arah Tuan Seo. Dua penjaga mencoba menahan ayah Jung Ah tapi tenaga ayah Jung Ah lebih kuat ditambah lagi dia sedang emosi, ia mampu mendorong penjaga menjauh darinya. Ayah Jung Ah langsung menyerang dan menahan leher Tuan Seo dengan tangan kirinya dan bersiap menusukkan pulpen (pulpennya jenis pulpen tinta jaman dulu, jadi ujungnya runcing) ke leher Tuan Seo dengan tangan kanannya.

Ayah Jung Ah sangat marah karena Tuan Seo tega melakukan itu semua pada putrinya sementara putrinya itu sangat baik pada Tuan Seo. "A-a-aku tidak melakukannya. Benar-benar bukan aku!", teriak Tuan Seo.

Dengan marah ayah Jung Ah mengatakan ia tidak membutuhkan sidang trial atau apa pun itu, saat ini putrinya terbaring di dalam peti mati dan Tuan Seo masih bisa duduk dengan nyaman dan bahkan mengaku bahwa tidak mengingat apa pun.

Salah seorang penjaga meminta ayah Jung Ah tenang. Ayah Jung Ah memerintahkan penjaga untuk tidak mendekat karena jika mereka berani mendekat, maka saat itu juga ia akan membunuh Tuan Seo. Ayah Jung Ah menusukkan ujung pulpen ke leher Tuan Seo.

Ayah Jung Ah berteriak, menuntut hakim untuk menjatuhkan hukuma mati saat itu, di depan matanya.

Dong Ho datang dan menarik tangan kanan ayah Jung Ah, menjauhkannya dari leher Tuan Seo. Terlihat ujung pulpen terdapat noda darah. Ayah Jung Ah berteriak, meminta dilepaskan. Do Hong berkata ia mengerti ayah Jung Ah ingin membunuh Tuan Seo, tapi jika ayah Jung Ah melakukannya, maka ayah Jung Ah akan masuk ke penjara lebih dulu daripada Tuan Seo,

Do Hong menjepit tangan ayah Jung Ah dengan keras sehingga pulpen terjatuh ke lantai dan menikung tangannya ke belakang. Ayah Jung Ah berteriak kesakitan.


Jin Woo melihat Do Hong dan dengan ingatannya, ia bisa mengingat bahwa Dong Ho adalah orang yang pernah ia lihat di ruang abu.

Penjaga berhasil menangkap ayah Jung Ah. Dong Ho memberikan kartu namanya pada ayah Jung Ah karena ia yakin ayah Jung Ah akan membutuhkan seorang pengacara dan khusus untuk ayah Jung Ah, ia melakukannya dengan setengah harga.


Saat akan dibawah kembali ke dalam bus, Jin Woo mengejar ayahnya. Tuan Seo menenangkan Jin Woo agar tidak khawatir dan mengingatkan Jin Woo untuk mengunjungi ibu dan hyungnya karena hari itu adalah hari peringatan kematian mereka. Ayah juga mengingatkan Jin Woo untuk memakai jas yang sudah ia setrika di lemarinya. Jin Woo menganggukkan kepalanya dan mengatakan ia mengerti.

Saat bus akan berjalan, Jin Woo mendekati jendela kursi ayahnya dan meminta ayahnya untuk tidak khawatir, semuanya akan baik-baik saja. Bus berjalan semakin cepat, Jin Woo terpaksa melepas pegangan tangannya di jendela. Ia hanya bisa menatap bus yang semakin menjauh.


In Ah baru keluar dari gedung pengadilan dan melihat Jin Woo yang sedang menatap bus yang membawa pergi Tuan Seo. Tak lama Yeo Kyung keluar, mengajak In Ah bertaruh, ia yakin Tuan Seo adalah kriminalnya karena begitu banyak bukti yang mengarah padanya.

In Ah menolak. Ia mengingatkan Yeo Kyung yang tidak pantas menjadi anggota juri karena tidak mau mendengar pernyataan dari pihak tersangka dan langsung menuduh tersangka sebagai pembunuh. Ia menyarankan Yeo Kyung untuk resign saja dari anggota juri karena menurut In Ah, seorang pemubunuh pun adalah seorang manusia juga, yang berhak mendapatkan sidang trial yang adil.

Yeo Kyung tersenyum dan membenarkan ucapan In Ah. Menurutnya kasus ini pasti akan semakin menarik. Tak lama sebuah mobil mewah berhenti di samping Yeo Kyung dan Yeo Kyung masuk ke dalamnya.

Setelah Yeo Kyung pergi, In Ah melihat kembali ke tempat tadi Jin Woo berdiri. Dari raut wajahnya, sepertinya Jin Woo sudah tidak ada lagi di sana.


Sambil menunggu bus di halte, Jin Woo membaca kartu nama Dong Ho, dibawah namanya Dong Ho mencantumkan slogannya, '100% tingkat kemenangan di dalam sidang'. Jin Woo mengambil ponselnya dan mengecek berita-berita tentang Dong Hoo di internet. Dari berita yang bagus di internet, Jin Woo bisa menilai Dong Hoo adalah seorang pengacara yang bagus.

Saat bus datang, In Ah yang tiba-tiba muncul langsung masuk ke dalam bus, tidak melihat Jin Woo yang sedang duduk di halte. Setelah In Ah masuk, Jin Woo masuk di belakang In Ah.

Saat di dalam bus, Jin Woo melihat berita tentang ayahnya di tv layar besar yang dipasang di sebuah gedung. Jin Woo bertambah sedih dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Sementara itu, In Ah sibuk membaca berita tentang Tuan Seo di internet. Saat melihat penumpang yang akan turun, In Ah baru menyadari Jin Woo duduk di kursi tidak jauh di depannya.


Saat semua penumpang sudah turun dan di dalam bus tinggal mereka berdua, In Ah pindah ke kursi di sebelah Jin Woo dan meletakkan sapu tangan di kaki Jin Woo. "Aku tidak perlu simpatimu", tolak Jin Woo, membuang mukanya.

"Pelajar, kau masih smu dan mungkin kau tidak tau hukum dan keputusan persis sama seperti fakta dan kebenaran. Kebenaran akan menang melawan fakta", ucap In Ah. In Ah belum tau nama Jin Woo.

"Kau tidak perlu menenangkanku", ucap Jin Wo lagi. Tapi ia mengusap air matanya yang jatuh.

"Aku belum tau kebenaran yang sesungguhnya tapi ayahku bilang ayahmu bukan tipe orang yang melakukan itu". Sekarang Jin Woo baru menatap In Ah. "Semua ini baru dimulai dan belum berakhir". Jin Woo menganggukkan kepalanya dan mengusap air matanya yang jatuh. In Ah memberikan sapu tangannya dan kali ini Jin Woo menerimanya.

Jin Woo dan In Ah turun di halte yang sama. In Ah menunjukkan toko pizza ayahnya pada Jin Woo. Ia menceritakan pada Jin Woo bahwa ia sering membantu orang tuanya mengantarkan pizza, jadi jika suatu saat Jin Woo memesan pizza padanya, ia berjanji akan menambahkan topping keju untuk Jin Woo.

Mau tak mau Jin Woo sedikit terhibur dan tersenyum tipis. "Oya, kau bilang ingatanmu bagus. 5241-6776!", In Ah memberitahukan nomor telponnya. Uhm... atau mungkin nomor untuk pemesanan pizza di tokonya?


Jin Woo tersenyum lagi dan berjalan ke arah rumahnya. "Hei pelajar! Tegakkan bahumu. Kau belum makan, kan? Mau aku bawakan pizza untukmu?", tanya In Ah lagi. Jin Woo tersenyum dan berbalik, mengatakan namanya Seo Jin Woo. Saat Jin Woo kembali melangkah ke arah rumahnya, In Ah berpesan agar Jin Woo berdoa agar kebenaran bisa mengalahkan fakta.


Gyu Man sedang menonton berita tentang persidangan Tuan Seo di televisi yang berakhir dengan penyanderaan Tuan Seo oleh ayah Jung Ah. Pembaca berita mengatakan bahwa ayah Jung Oh dinyatakan mengalami gangguan mental dan setelah diperiksa oleh polisi, ia sudah dibawa ke rumah sakit. Karena insiden penyanderaan itu, sidang trial tersebut ditunda.

Gyu Man mendapatkan telpon dari seseorang dan mengatakan pada orang itu bahwa ia sedang menonton beritanya. Orang ditelpon meminta Gyu Man untuk menemuinya di suatu tempat dan Gyo Man menyetujuinya.

Tak lama Gyu Man keluar dan naik ke mobil yang sudah menunggunya dan berangkat. Di belakang, Dong Ho mengikutinya.

Pres. Seok Joo Il menelpon Dong Hoo, menanyakan apakah Dong Ho sudah bertemu dengan Nam Gyu Man. Dong Ho mengatakan ia sedang dalam perjalanan untuk menyelesaikannya dan Pres. Seok boleh bersiap-siap untuk bebas sekarang. Dong Ho meminta Pres. Seok menungguk sedikit lagi.


Gyu Man tiba di sebuah tempat konstruksi. Gyu Man berjalan dengan ekspresi jijik.


Seseorang sudah menunggu Gyu Man di sana dan ia agak kesal karena Gyu Man membawa banyak anak buahnya dan meminta Gyu Man untuk menyuruh mereka pergi. Ia adalah teman Gyu Man yang juga hadir di pesta itu.

Gyu Man diam saja. Tapi saat temannya itu menyinggung masalah pesta itu, ia langsung menyuruh Sek. Ahn untuk mengusir semuanya pergi, termasuk beberapa pekerja konstruksi yang masih ada di sekitarnya.

Temannya itu menebak gadis yang bernyanyi di pesta malam itu yang menyebabkan semua keributan ini. Ia baru menyadari tanggal kematian gadis itu sama dengan tanggal pesta malam itu. "Tapi, itu bukan kau, kan?", tanyanya pada Gyu Man.

Gyu Man mengurut dahinya dan alisnya. Di rahang kanannya ada seperti bekas luka kecil atau darah (? masih belum tau apa itu. Tapi di episode 1 saat sebelum pesta, luka itu tidak ada di wajah Gyu Man). Ia menatap temannya lama.


Belum sempat Gyu Won menjawab, Dong Ho muncul dan mengomentari pemandangan yang sangat bagus dari sana. Sek. Ahn yang berjaga di depan koridor langsung menahan Dong Ho walaupun sepertinya ia setengah hati melakukannya. Sek. Ahn sama sekali tidak berhasil menahan Dong Ho.

"Kau Direktur Nam Gyu Man, bukan? Temanmu juga ada di sini... Biarkan aku memotret kalian...", ucap Dong Ho tidak peduli dengan ekspresi marah Gyu Man. Lalu Dong Ho mengeluarkan kartu namanya dan memperkenalkan dirinya sebagai pengacara.

Gyu Man tidak peduli dan meminta ponsel yang tadi dipakai oleh Dong Ho untuk mengambil gambar dan menyuruh Dong Ho pergi. Dong Ho memberitahukan Gyu Man bahwa sejak kemarin ia menjadi pengacara dari Pres. Seok karena sudah menyentuh wajah Gyu Man.

Gyu Man tidak mau mendengar celoteh Dong Ho dan langsung memotongnya. "Hei, Sek Ahn. Apa anjing atau sapi bisa sembarangan merangkak ke tempat ini? Kenapa kau tidak langsung mengusirnya keluar??!", bentak Gyu Man.

Beberapa orang anak buah Gyu Man datang dan menarik Dong Ho. Dong Ho mengeluarkan lagi ponselnya, mengatakan pada Gyu Man bahwa Gyu Man akan menyesal mengusirnya seperti itu kalau tau isi ponselnya. Gyu Man terpaksa menyuruh anak buahnya melepaskan Dong Ho, Dong Ho memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya. Gyu Man mengancam Dong Ho, tidak peduli apa pun isi ponsel itu, Dong Ho mati.


Melihat Dong Ho hanya tertawa tanpa rasa takut, dengan santai Gyu Man menuduh Dong Ho memakai obat-obatan terlarang.

"Ngomong-ngomong masalah obat-obatan, bukankah kau yang melakukannya?", tuduh Dong Ho balik.

Gyu Man terkejut, begitu juga dengan yang lainnya. Dong Ho mengatakan malam terjadinya perselisihan antara Gyu Man dan kliennya, ia tau Gyu Man sedang berpesta methadone dengan teman Gyu Man. Dong Ho menunjuk ke arah teman Dong Ho yang berdiri di dekat Gyu Man.

Dong Ho menambahkan, mungkin Gyu Man lupa karena lama di eropa, tapi jika di Korea, Gyu Man bisa mendapat hukuman seumur hidup atau paling sedikit 5 tahun penjara.

Gyu Man tersenyum sambil mengurut dahinya lagi. Dong Ho menyuruh Gyu Man untuk berpikir penjara seperti wajib militer karena Gyu Man mendapat pengecualian tidak wajib militer. Dong Ho menyuruh Gyu Man menganggap itu hanyalah liburan yang sangat sangat panjang.

Gyu Man mendekati Dong Ho, menatap Dong Ho serius, "Kau sedang mengancamku sekarang?".


Saat pulang, ibu dan ayah In Ah menanyakan tentang berita ayah Jin Woo. Ayah merasa mereka tidak akan bisa mengerti bagaimana perasaannya Jin Woo saat ini. Ibu bertanya pendapat In Ah, apa In Ah yakin ayah Jin Woo benar-benar melakukannya.

In Ah menghela nafasnya, "Aku juga tidak tau apa yang terjadi...".

Ibu mengatakan semua orang di lingkungan mereka menganggap bahwa Tuan Seo memang pelakunya. Ayah menyayangkan sikap para tetangga itu, padahal putusannya pun belum diberikan.

Kembali lagi pada Do Hong dan Gyu Man.

Do Hong masih mengancam Gyu Man. Menurutnya, jika ada satu CCTV yang ternyata merekam kejadian yang sebenarnya, maka sudah pasti game over. Ia juga tau Gyu Man mengadakan pesta kedua di vila miliknya di Seochon bersama temannya itu. Dong Ho lagi-lagi menunjuk ke arah teman Gyu Man itu.

Gyu Man sudah tidak bisa menahan diri lagi dan langsung menonjok Dong Ho yang sedang tertawa terkekeh. Tanpa ampun Gyu Man menghajar Dong Ho dan bahkan menginjak-injak Dong Ho, sampai-sampai gigi Dong Ho copot satu. Semua orang benar-benar hanya diam saja.

Gyu Man mengambil ponsel Dong Ho dan bertanya dimana fotonya, jika Dong Ho tidak memberikan semuanya, maka karir Dong Ho sebagai pengacara akan tamat, ancam Gyu Man. Dengan tenang Don Ho berkata ia memang tidak punya fotonya, tadi ia cuma berpura-pura saja.


Lihat, kan? Ada bekas luka kecil di rahang kanan Gyu Man?

Gyu Man sangat geram dan menarik Dong Ho ke pinggir lantai yang sangat tinggi, mengancam akan menjatuhkan Dong Ho dari sana dan seorang pun tidak akan ada yang tau.

Bersambung...

[Sinopsis Remember Episode 2 Part 2]

Note : All images credit to SBS

No comments:

Powered by Blogger.