Sinopsis Descendants Of The Sun Episode 15 Part 2

[Sinopsis Descendants Of The Sun Episode 15 Part 1]

Sinopsis Descendants Of The Sun Episode 15 Part 2

Sinopsis Descendants Of The Sun Episode 15 Part 2
Credit : KBS2
Kdramastory - Mo Yeon sudah tiba di depan kantor ayah Myeong Ju. Tapi kemudian ia berhenti karena mendengar suara tangisan seseorang. Orang itu adalah Myeong Ju. Myeong Ju menangis di tangga di depan kantor ayahnya.

Mo Yeon mendekati Myeong Ju, bertanya kenapa Myeong Ju menangis seperti ini. Ia berdoa sepanjang jalan agar bisa bertanya pada Myeong Ju. Tapi melihat Myeong Ju menangis seperti itu, ia tidak bisa mengatakan apa pun lagi.

Mo Yeon mengatakan bahwa ayah Myeong Ju memiliki pangkat yang tinggi, ayah Myeong Ju bisa mencari informasi apakah itu benar atau tidak, bisa jadi semua itu hanya salah 'diagnosa' (Mo Yeon menyebutnya diagnosa). "Apa dia sudah memeriksanya?", tanya Mo Yeon,

Myeong Ju masih menangis. "Kenapa kau hanya menangis? Jawab aku!", teriak Mo Yeon sambil menarik tangan Myeong Ju. Saat itulah ia melihat surat yang mirip dengan miliknya di tangan Myeong Ju. Akhirnya Mo Yeon menyadari bahwa semua itu adalah benar. Mo Yeon mulai menangis lagi. "Apa dia tidak akan pernah kembali lagi? Apa aku tidak akan pernah melihatnya lagi?", ucap Mo Yeon.

Myeong Ju akhirnya menganggukkan kepalanya. Mo Yeon terduduk lemas. Ia dan Myeong Ju menangis bersama-sama.

--


Di rumah, Mo Yeon hanya tiduran di sofa. Di lantai terlihat surat Shi Jin yang sudah ia baca. Terdengar sambungan isi surat Shi Jin. 'Kalau boleh aku minta, aku berharap kau tidak menangis terlalu lama. Cerialah dan tegarlah. Dan juga... jangan mengingatku terlalu lama. Aku mohon padamu.'


Byung Soo datang ke rumah Mo Yeon. Pada Mo Yeon, ia memberitahukan bahwa seminggu lagi, mereka akan mengumumkan kematian Shi Jin dan Dae Young yang diakibatkan karena kecelakaan mobil saat pelatihan. Byung Soo menyodorkan surat perjanjian yang harus ditandatangani Mo Yeon, yang menyatakan bahwa Mo Yeon tidak akan membuka masalah itu.

Mo Yeon menatap surat perjanjian itu dan bertanya apakah kematian Shi Jin menyelamatkan banyak nyawa. Byung Soo membenarkan. Mo Yeon bertanya lagi, apakah kematian Shi Jin demi mempertahankan perdamaian di suatu tempat. Byung Soo membenarkan. Lalu Mo Yeon bertanya lagi, "Apakah kematiannya demi melayani negaranya?". Byung Soo membenarkan.

"Tapi negaranya malah menyuruhku menandatangi surat ini...". Byung Soo hanya bisa mengucapkan permintaan maaf. Mo Yeon menangis, menangisi pilihan hidup Shi Jin yang membuat Shi Jin berakhir seperti itu. Bahkan kematiannya pun harus dirahasiakan. Mo Yeon berharap, apa yang ia lakukan saat itu adalah yang diinginkan oleh Shi Jin. Lalu Mo Yeon pun menandatangani surat itu.

--

Mo Yeon berusaha menjalani hari-harinya seperti biasa lagi. Ia berusaha menghilangkan rasa sedihnya dengan bekerja lebih keras, ia bahkan mau melakukan operasi hingga tengah malam.

Saat makan siang, Eun Ji mendekati Mo Yeon dan memberi selamat karena Mo Yeon mendapatkan kembali jabatannya. Lalu Eun Ji menyinggung tentang penolakan Mo Yeon terhadap obat hipertensi dari Cosmo Pharmatical. Mo Yeon beralasan, obat yang sekarang mereka pakai sudah cukup efektif dan lebih murah.

Eun Ji meminta Mo Yeon menyetujuinya karena perusahaan itu milik sepupunya Prof. Park, iparnya seseorang dan juga milik pamannya. Ia merasa keputusan Mo Yeon akan memberi manfaat bagi semua orang. Eun Ji mengatakan jika Mo Yeon terus seperti ini maka akan ada orang yang mengkritik Mo Yeon. "Siapa?", tanya Mo Yeon.

"Aku", sahut Eun Ji, tidak tahu malu. Eun Ji menyuruh Mo Yeon pergi menjadi relawan jika Mo Yeon memang ingin menjadi seperti Dr. Albert Schweitzer. Eun Ji menyuruh Mo Yeon pergi ke Afrika karena disana kekurangan dokter. "Pergi selamatkan dunia, sana...", ujar Eun Ji.

Mo Yeon balik mengejek Eun Ji, menyuruh Eun Ji segera mencari pengacara untuk menyelamatkan izin dokternya karena ia dengar 3 dari 4 pasien yang Eun Ji diagnosa, salah. Eun Ji berteriak, kesal sekali. Mo Yeon tidak peduli dan menyuruh Eun Ji pergi karena Eun Ji mengganggu makan siangnya.

--


Mo Yeon minum bersama Ji Soo. Ji Soo menyuruh Mo Yeon pulang ke rumah karena Mo Yeon terlalu lama tinggal di rumah sakit. Ia menyuruh Mo Yeon memikirkan para dokter magang. "Apa mereka mengeluh? Ide itu tidak pernah terlintas dipikiranku...", ucap Mo Yeon. Lalu Mo Yeon memberitahukan bahwa besok pagi ia akan melakukan operasi.

Ji Soo juga melarang Mo Yeon masuk ke ruang operasi. "Kenapa? Aku terlihat seksi di dalam ruang operasi...", ucap Mo Yeon spontan. Mo Yeon tiba-tiba terdiam. Ji Soo bertanya kenapa.

"Tidak. Aku cuma teringat sesuatu. Ini dan itu. Air, wine, lilin, x-ray, dan ikat rambut...". Mo Yeon tersenyum, berpikir bahwa ia sudah menghilangkannya di suatu tempat. Mo Yeon mulai menangis. "Kau mau dipeluk?", tanya Ji Soo. Mo Yeon menggelengkan kepalanya. "Kau mau wine?", tanya Ji Soo. Mo Yeon menghapus air matanya dan kembali tertawa. Ji Soo mengatakan, Mo Yeon boleh mendapatkan semuanya.

--


Myeong Ju melapor pada ayahnya bahwa ia akan bertugas kembali di Mowuru. Letjen Yoon berpesan agar Myeong Ju tidak sakit lagi kali ini. Myeong Ju juga berpesan agar ayahnya menjaga kesehatannya. Myeong Ju mengucapkan terima kasih karena ayahnya telah mengeluarkan perintah pindah untuknya.

Letjen Yoon mengatakan perintah pindah yang gagal baginya adalah perintah pindahnya Dae Young karena itu membuat Myeong Ju tidak bahagia. Baginya perintah itu benar-benar gagal. "Ayah tahu kau hanya memikirkannya. Tapi ayah hanya memikirkanmu. Saat kau memikirkan dia sepanjang waktu, ayah mohon pikirkan ayah juga. Jika kau bisa memaafkan ayah, lakukanlah...", pesan ayah Myeong Ju lagi.

--


Mo Yeon menemui Myeong Ju di kafe. Myeong Ju memberitahukan Mo Yeon bahwa ia akan bertugas lagi di Urk. Mo Yeon merasa sungguh menyenangkan bisa berada di Urk lagi. "Kalau begitu, kau boleh ikut denganku...", ucap Myeong Ju.

"Benarkah? Mereka pergi bersama, haruskan kita juga pergi bersama?", tanya Mo Yeon. Myeong Ju menyuruh Mo Yeon berhenti bicara seperti itu. Myeong Ju memberikan hadiah perpisahan untuk Mo Yeon. Myeong Ju mengatakan ia menemukan boneka itu di barak dan membawanya. Myeong Ju memegang tangan boneka Dae Young yang ia dudukkan di kursi di sampingnya, "Ini pacar Sersan Seo Dae Young...", ucapnya. Myeong Ju menggetok kepala boneka itu.

"Dan itu partner Kapten Yoo Shi Jin', ucap Myeong Ju sambil menunjuk ke arah boneka yang sekarang berada di samping Myeong Ju.

"Dia pendek. Kau menang", ucap Mo Yeon tentang boneka Dae Young. Myeong Ju tertawa senang. Mo Yeon bertanya kapan Myeong Ju akan berangkat. "Aku dijadwalkan berangkat senin pagi". Myeong Ju teringat ia masih memiliki waktu tiga hari lagi dan mengajak Mo Yeon bergadang selama tiga hari berturut-turut. Mo Yeon setuju, dan mereka pun bersulang.

Mo Yeon mengatakan akhir-akhir ini, yang ia ingat tentang Shi Jin hanyalah saat-saat bahagia mereka. "Kalau aku, yang aku ingat hanyalah kesalahan dia saja...", sahut Myeong Ju. Mo Yeon terpaksa tersenyum mendengarnya. Mo Yeon ingin tahu bagaimana Dae Young dan Shi Jin pertama kali bertemu. Ia penasaran dan tidak sempat menanyakan pada mereka. Dan sekarang ia tidak bisa menanyakannya lagi pada mereka.

"aku tahu...", sahut Myeong Ju. "Pertemuan pertama mereka karena seorang gadis...".

=== Flashback ===

Dae Young berdiri di depan kantor, kantornya ayah Myeong Ju. Saat itu hujan turun dengan deras dan Dae Young memikirkan permintaan Myeong Ju yang menginginkan agar Dae Young mengaku bahwa ia adalah pacar Myeong Ju.


Dae Young mendesah dan membuka payungnya, lalu berjalan di tengah hujan. Tiba-tiba seseorang merangkulnya dari belakang, meminta izin berbagi payung dengan Dae Young. Orang tersebut adalah Shi Jin. Bukannya menjawab permintaan Shi Jin, Dae Young malah mengatakan kalau ia berpacaran dengan Myeong Ju.

Shi Jin dan Dae Young akhirnya pergi ke sebuah kafe. Di sana, Dae Young kembali menegaskan kalau ia berpacaran dengan Myeong Ju. Shi Jin bertanya sejak kapan. 'Sejak satu tahun yang lalu", jawab Dae Young.

"Kapan pertama kali kau bertemu Myeong Ju?".

"Satu bulan yang lalu saat lari 1000 mil", jawab Dae Young. Shi Jin heran, Dae Young baru bertemu Myeong Ju satu bulan tapi sudah setahun berpacaran. Dae Young tidak bisa menjawab, ia hanya mengulang bahwa ia sedang berpacaran dengan Myeong Ju. :-D

"Kau tahu ayah Myeong Ju seorang letnan jenderal?", tanya Shi Jin lagi.

Dae Young megap-megap, tidak bisa menjawab dan sepertinya baru saat itu juga ia mengetahui tentang ayah Myeong Ju. Dae Young mengatakan sudah biasa seseorang melakukan tiga kesalahan dalam hidupnya dan kedudukan ayah Myeong Ju bukan halangan bagi cinta mereka. "Aku katakan sekali lagi. Aku berpacaran dengan Myeong Ju".

Shi Jin tersenyum dan mengatakan, "Aku berharap kau akan berpacaran dengan Myeong Ju...".

Refleks Dae Young mengulang ucapan Shi Jin dan mengatakan ia akan berpacaran dengan Myeong Ju. :-D :-D Dae Young tersadar, ia salah jawab, dan mengatakan mereka sudah berpacaran satu tahun. Shi Jin ber ya-ya saja dan mengatakan ia percaya. "Jadi kau akan menyerah?", tanya Dae Young.

"Aku mungkin saja bertemu dengan wanita yang aku temui sebulan yang lalu dan berpacaran setahun yang lalu. Aku pikir kita tidak akan bertengkar memperebutkan Myeong Ju, dan kalaupun bertengkar, aku harap kita berada di pihak yang sama...", ucap Shi Jin dan kemudian mengajak Dae Young bersulang.

=== Flashback End===

Mo Yeon berjalan pulang sambil memeluk boneka Shi Jin. Ia melewati kafe tempat Shi Jin pertama kalinya mengatakan 'Aku mencintaimu'. Saat itu Shi Jin pernah mengeluhkan tentang mereka yang belum saling mengucapkan 'Aku mencintaimu' satu sama lain. Mereka berdebat siapa yang harus mengatakan lebih dulu. Shi Jin menyuruh Mo Yeon mengatakan lebih dulu karena jika diurutkan berdasarkan huruf, Kang Mo Yeon yang harus mengatakan lebih dulu. Mo Yeon tidak mau, Shi Jin mendesak, mengatakan 'Ladies First'. Mo Yeon lagi-lagi menolak. Shi Jin tetap mendesak, mengatakan kalau berdasarkan umur Mo Yeon harus lebih dulu. Mo Yeon kesal karena Shi Jin mengungkit tentang umur. Lalu tiba-tiba Shi Jin mengatakan 'Aku mencintaimu', membuat Mo Yeon kaget. Shi Jin mengulangnya lagi dan Mo Yeon membalas mengatakan 'Aku mencintaimu juga'.

--


Mo Yeon menyalakan lilin dan kemudian bertanya pada boneka Shi Jin, apakah ia sudah cantik dengan cahaya lilin di belakangnya.

Sosok Shi Jin muncul dalam bayangan Mo Yeon. Dalam bayangan Mo Yeon, Shi Jin emngatakan kalau ia selalu terlihat cantik. Mo Yeon menatap Shi Jin, mulai menangis, mengatakan kalau ia merindukan Shi Jin. "Aku juga...", sahut Shi Jin.

"tapi kenapa kau tidak pernah datang?".

"Aku harus menjaga perdamaian...".

"Lalu bagaimana dengan janjimu padaku? Apa tidak ada artinya bagimu?".

"Aku ingin datang. Aku akan memberikan segala yang aku miliki untuk bisa datang padamu".

"Tapi kau tidak pernah datang. Tidak pernah...".

--


Myeong Ju sudah tiba di Urk dan langsung membereskan barang-barangnya ke dalam loker. Myeong Ju mengambil surat Dae Young, menyimpannya dalam lokernya dan langsung menutup pintu lokernya, bertekad tidak akan pernah membuka dan membacanya, sampai mati. "Dan sekarang giliranmu berputus asa", gumam Myeong Ju, ditujukan untuk Dae Young.

--


Mo Yeon sedang berada di bandara. Ia berbicara dengan Ji Soo melalui telpon, memberitahukan rute perjalanannya yang akan transit di Abu Dhabi dan akan masuk melalui Albania. Mo Yeon memutuskan pembicaraannya dengan Ji Soo karena mendapatkan telpon dari seseorang. Ia berjanji akan menelpon Ji Soo setelah ia tiba di sana.

Mo Yeon menemui Daniel di sebuah ruangan, yang dijaga oleh dua orang pertugas di depan pintu. Mo Yeon heran, menanyakan apa yang dilakukan Daniel di sana. Daniel mengatakan kalau ia datang untuk berunjuk rasa, memprotes tentang pertemuan FTA, tapi ia dilarang masuk.

Mo Yeon memuji Daniel hebat. Daniel mengatakan ia adalah seorang kriminal internasional yang dilarang masuk di 12 negara. "Tidak apa, para gadis menyukai bad boys...", hibur Mo Yeon. Daniel tertawa dan kemudian menayakan apakah Mo Yeon akan pergi berlibur. "Tidak. Relawan...".

"Apa kau akan ke tempat pengungsian Albania? Aku mendengarnya dari Chi Hoon. Menjadi relawan itu memang membuat ketagihan, kau tahu...". Mo Yeon mengatakan ia pergi ke sana untuk alasan pribadi, karena besok adalah hari peringatan kematian Shi Jin. (Hmmm... Sudah setahun???)

--


Mo Yeon tiba di tempat pengungsian dan langsung bekerja, memeriksa para pengungsi.

Di sela-sela istirahatnya, Mo Yeon kembali mencoba mengirimkan pesan untuk Shi Jin. Bercerita tentang pertemuannya dengan Daniel, memberitahukan golongan darahnya, tentang padang pasir yang ia dengar ada tidak jauh dari lokasi pengungsian, Tentang Daniel yang mengatakan bahwa tidak ada yang lebih penting dari nyawa manusia... Mo Yeon mengatakan ia menjadi dokter seperti itu dan bertanya apa yang akan dikatakan SHi Jin jika Shi Jin melihatnya saat ini.

Sementara itu, aksi Daniel akhirnya mendapatkan perhatian. Ia mendapatkan liputan dan banyak media.

--


Myeong Ju menjalani tugasnya seperti biasa. Gi Beom muncul lagi di Urk. Ia mengajak Myeong Ju makan ramyun bersama-sama. Myeong Ju heran melihat Gi Beom bisa ada di sana padahal Gi Beom hampir saja menyelesaikan wajib militernya. Gi Beom beralasan, ia merasa kehidupan tentara lebih cocok untuknya.

Myeong Ju menanyakan apakah Dae Young sering makan ramyun. Gi Beom membenarkan. Myeong Ju mengajak Gi Beom makan, ramyunnya lumayan enak. Gi Beom melihat salju turun di luar dan memberitahukannya pada Myeong Ju. Awalnya Myeong Ju tidak begitu antusias, ia fokus pada mie nya. Namun saat Gi Beom mengatakan bahwa tidak pernah turun salju di Urk, Myeong Ju baru berpaling dan melihat ke luar jendela. Salju memang benar turun di Urk...

--


Mo Yeon pergi ke gurun pasir. Saat ia mengikat rambutnya, Mo Yeon kembali teringat Shi Jin yang pernah mengikatkan rambutnya.

Mo Yeon melihat beberapa batu yang ditumpuk-tumpuk agak tinggi. Mo Yeon meletakkan bunga yang dibawanya di sana. Mo Yeon teringat jawaban Shi Jin saat ia bertanya kenapa Shi Jin mau membahayakan nyawanya dalam segala hal yang Shi Jin lakukan. Saay itu Shi Jin menjawab, karena ia hebat dalam pekerjaannya dan itu adalah bagian dari tanggung jawabnya untuk tetap hidup.

"Bohong...", gumam Mo Yeon.

Mo Yeon teringat lagi saat Shi Jin berjanji padanya sebelum Shi Jin berangkat, bahwa ia akan menjaga dirinya dan akan kembali pada Mo Yeon dengan selamat.

Mo Yeon mulai menangis, "Bagaimana kau bisa membohongiku? Aku tidak perlu semua itu...".

Mo Yeon teringat saat Shi Jin mengucapkan 'Aku mencintaimu' di kafe.

"Kau pembohong. Aku tidak percaya itu...", ucap Mo Yeon lagi dan semakin menangis.

Walkie talkie Mo Yeon berbunyi. Seseorang dari kantor pusat meminta Mo Yeon membawakan lidocaine saat Mo Yeon kembali nanti. Mo Yeon masih menggunakan nama panggilan yang diberikan Shi Jin untuknya, 'Beauty'.

Mo Yeon segera menghapus air matanya dan menjawab panggilan, berjanji akan membawakannya. Lalu Mo Yeon meletakkan batu putih milik Shi Jin di samping bunganya tadi. Tapi batu itu jatuh lagi ke pasir. Mo Yeon berusaha beberapa kali tapi batu itu tetap jatuh ke pasir, diterbangkan angin.


Tiba-tiba walkie talkie Mo Yeon bersuara, "Big Boss masuk...". Itu suara Shi Jin... Mo Yeon kebingungan sendiri dan mengecek pesan yang ia kirimkan pada Shi Jin. Masih sama seperti biasa, belum terbaca. Mo Yeon berpikir, ia mendengar yang tidak-tidak.

Mo Yeon melihat ponselnya lagi, dan kali ini seluruh pesan yang pernah ia kirimkan untuk Shi Jin, berubah menjadi 'Terbaca'. Walkie talkie bersuara lagi, "Big Boss masuk...". Mo Yeon melihat ke sekelilingnya. Walkie talkienya bersuara lagi, "Beauty, lihat ke belakangmu....".

Mo Yeon berbalik. Perlahan dari kejauhan, seseorang datang mendekat. "Tidak bisa dipercaya...", gumam Mo Yeon sambil berjalan ke arah Shi Jin. Mo Yeon mulai berlari, hampir terjatuh, tapi Mo Yeon berusaha terus berlari dan benar-benar terjatuh. Giliran Shi Jin yang berlari mendekati Mo Yeon.


"Lama tidak bertemu...", sapa Shi Jin.

"Kau masih hidup?".

"Aku selalu berusaha memenuhi janjiku untuk tetap hidup...". Shi Jin memeluk Mo Yeon. Mo Yeon menangis, merasa sangat bahagia dan bersyukur karena ternyata Shi Jin masih hidup.

"Maafkan aku... Maafkan aku...", ucap Shi Jin...

Bersambung...

Komentar :

Akhirnyaaa, tinggal satu episode lagi... Dari awal, perasaan drama ini 20 episode deh, kaget kok tiba-tiba dapat kabar cuma ada 16 episode... Terasa seperti ada yang kurang. :-P

Berarti, ini terakhir ya sinopsisnya. Menurut kabar, minggu depan akan ada episode special, entah BTS atau mungkin epilogue. Sy belum bicara dengan mb Dyah apa akan dibuat rekapannya juga... Tunggu aja ya minggu depan...

Waktu lihat preview episode 14 (atau mungkin 13 ya???), sy sempat punya bad feeling... Diperlihatkan Shi Jin dan Dae Young berangkat dalan keadaan malam yang gelap, lalu Mo Yeon dan mYeong Ju menangis... Jangan-jangan mereka berdua akan mati??? Oh No...

Sempat berpikir, jangan-jangan drama ini dibuat sad ending. Andweeee. Masak SWnim berani mengecewakan semua orang yang sudah sangat menyukai drama ini?? Mudah-mudahan enggak ya. Walaupun peluangnya teteup fifty-fifty... Itu sih kalau memang SWnimnya anti mainstream, sudah siap menghadapi kemarahan semua orang...:-P

Sy merasa bersyukur karena feeling sy tidak benar. Di akhir episode 15 ini, ternyata Shi Jin masih hidup. Lalu muncul pertanyaan, kemana aja Shi Jin selama satu tahun ini, kenapa ia sama sekali ga pernah mengabarkan apa pun pada Mo Yeon. Janjinya cuma tiga bulan tapi ini setahun??? Tega bener sih pak...

Apa jangan-jangan ini cuma bayangan Mo Yeon?? :-( Lalu bagaimana dengan Dae Young? Apa mereka sama-sama selamat?

Sy benar-benar berharap akhir yang indah juga untuk Dae Young dan Myeong Ju. Sangat menyakitkan melihat Dae Young dan Myeong Ju kalau tidak bersama karena mereka sudah melewati situasi-situasi yang tidak menyenangkan dan tidak pasti. Apalagi sebelum Dae Young berangkat, Myeong Ju dan Dae Young masih bertengkar.

Sebenarnya, sy berharap ada pernikahan untuk kedua pasangan di akhir drama ini... Rasanya drama ini akan perfect jika ditutup dengan pernikahan....

Apa sy berharap terlalu banyak? Let's see...

Episode terakhir di blog Mb Dyah, Koreandramaaddicted... Gomawo... :-)

[Sinopsis Descendants Of The Sun Episode 16 Part 1]

Note : All images credit to KBS2

No comments:

Powered by Blogger.