Sinopsis Last Episode 8 Part 2

[Sinopsis Last Episode 8 Part 1]

Sinopsis Last Episode 8 Part 2

Sinopsis Last Episode 8 Part 2
Credit : jTBC

Kdramastory - Tae Ho sedang mencuci tangannya di toilet ketika Sergeant Bae masuk dan menatap tajam padanya. Sergeant Bae mengatai Tae Ho 'si brengsek'. Tae Ho tidak menanggapinya. Lalu Sergeant Bae bertanya taukah Tae Ho kenapa ia keluar dari militer. Tae Ho diam saja. "Karena orang brengsek sepertimu. Orang yang suka menjilat dan licik sepertimu. Jadi suatu hari aku menghajar si brengsek itu. Kau tau, hah?"

"Besar bedanya antara keluar penuh kehormatan dengan dipaksa keluar", ucap Tae Ho singkat.

Ucapan itu ternyata memprovokasi Sergeant Bae. Ia berjalan mendekati Tae Ho dan berkata apa Tae Ho mau mengakhiri pertengkaran mereka dengan duel. Sergeant Bae berbicara sambil menepuk-nepuk bahu Tae Ho, lalu tiba-tiba Sergeant Bae menyerang Tae Ho. Dengan gesit, Tae Ho menunduk dan melayangkan pukulannya ke perut Sergeant Bae. Sergeant Bae berlutut, menahan sakit.

"Jangan besar kepala hanya karena pekerjaan kecilmu berhasil. Tentara sebenarnya pasti akan kesal...", ucap Tae Ho.

Crocodile masuk ke toilet dan melihat Sergeant Bae kesakitan, ia bertanya apa yang terjadi. Sergeant Bae tidak mengatakan apa pun tapi ia bersumpah akan membunuh Tae Ho. Tae Ho merasa itu tidak adil, Sergeant Bae boleh membunuhnya sementara ia tidak boleh membunuh nomor 6, 5, dan 4 karena Heung Sam tidak memerintahkannya untuk menahan diri.

Crocodile mendekati Tae Ho dan memperingatkannya supaya tidak sombong mentang-mentang jadi kesayangannya bos karena Tae Ho akan terluka karena itu. Tae Ho setuju, ia mengajaknya mereka untuk merayakan hari ini dan tidak saling menyakiti. Tae Ho mengangkat kedua tangannya, seperti menyerah, dan berjalan di antara Crocodile dan Sergeant Bae.


Tae Ho keluar dari toilet dan berniat akan pergi dari bar, Mi Joo melihatnya dan menyapa Tae Ho yang cepat sekali pergi, padahal pesta baru saja akan dimulai. Tae Ho berbalik dan mendekati Mi Joo, bertanya apakah Mi Joo tau kenapa Jong Goo datang ke klub malam ini. Mi Joo berpura-pura tidak tau, ia berkata mungkin saja Jong Goo datang untuk minum lagipula Heung Sam yang memanggil Jong Goo ke klub.

Tapi Tae Ho meberitahukan bahwa Jong Goo datang karena mengkhawatirkan Mi Joo, "Apakah kau tau tentang itu?".

Mi Joo tersenyum, ia merasa sepertinya Tae Ho menikmati berempati pada semua orang yang ada di sekelilingnya, ia merasa iri pada wanita yang pernah disebut oleh Tae Ho saat ia tidur di hotel dulu. "Namanya Jung Min, bukan?". Tae Ho tidak menjawab, ia seperti kecewa dengan sikap Mi Joo dan kemudian berbalik pergi, keluar dari klub.


Na Ra keluar dari kedai untuk membuang sampah. "Sudah tutup? Aku selalu melewatkan jam makan, aku tidak beruntung dalam masalah makanan", Tae Ho tiba-tiba muncul dan menyapa Na Ra sambil tersenyum. Na Ra tidak begitu terkejut karena tadi sepertinya Hae Jin sudah memberitahukannya, tapi ia terlihat sedikit marah sekaligus kecewa pada Tae Ho. Tae Ho memanggil Na Ra karena Na Ra hanya diam saja dan kembali melanjutkan membereskan sampahnya.

Na Ra berkata semua orang tadi menunggu Tae Ho tapi sekarang mereka semua sudah pulang, ia menyuruh Tae Ho pergi saja ke kantor Tae Ho. Tae Ho meminta maaf pada Na Ra karena masalah yang ia hadapi sangat berat dan terpaksa tidak memberitahukan Na Ra. Na Ra berkata Tae Ho tidak perlu meminta maaf padanya, ia hanya merasa sedikit terkejut mendengar seseorang yang sudah mati ternyata masih hidup. Ia agak kecewa karena merasa seperti ditipu tapi ia juga bersyukur karena ternyata Tae Ho masih hidup. Setelah mengatakan itu, Na Ra pamit, akan masuk ke dalam, khawatir nenek akan memanggilnya.

Tae Ho berpesan pada Na Ra untuk tidak memaksakan diri, baik dalam bekerja maupun sukarela, ia meminta Na Ra untuk menjaga kesehatannya. Na Ra terkejut dan bertanya apakah Tae Ho menjenguknya di rumah sakit. Apakah bunga itu dari Tae Ho?

Tae Ho tidak menjawab, ia malah menanyakan tentang kebun bunga Na Ra karena selama ini tidak pernah hujan lagi. Na Ra menjadi marah dan meminta Tae Ho untuk tidak salah paham, Tae Ho mati ataupun hidup bukan urusannya, jadi ia meminta Tae Ho tidak membuatnya sakit lalu berusaha menyembuhkannya karena ia menolaknya. Ia juga meminta Tae Ho tidak datang lagi ke kedai neneknya karena masih banyak kedai lain di dekat sana tempat Tae Ho bisa menghilangkan rasa laparnya. Kemudian Na Ra masuk ke dalam kedai, menutup pintu dan mematikan lampu kedai.

Na Ra duduk dalam gelap beberapa saat, lalu kemudian beranjak, seperti akan membukakan pintu kedai. Tapi sesaat kemudian ia mengurungkan niatnya dan menghela nafasnya.


Pesta sudah usai, Heung Sam diantarkan anak buahnya ke ruang bar klub. Mantis memberikan sebuah amplop yang cukup tebal pada Poison Snake dan Heung Sam berpesan pada mereka untuk bersenang-senang malam ini dan tidak menimbulkan masalah. Ia juga mengatakan bahwa Poison Snake sudah bekerja keras, sambil menepuk-nepuk bahu Poison Snake.

Poison Snake memberitahukan Heung Sam bahwa minggu depan Straw Cutter akan dikeluarkan dari penjara. Heung Sam heran, ia tidak menyangka Straw Cutter sudah selama itu di penjara, tapi Poison Snake berkata Straw Cutter dikeluarkan lebih cepat karena berkelakuan baik. Heung Sam tertawa mengejek.

Ketika akan pergi dari klub, Heung Sam menyuruh Mi Joo menemui Jong Goo, mereka sama sekali tidak saling berbicara di dalam tadi, ia meminta Mi Joo untuk tidak terlalu keras pada Jong Goo. Tapi Mi Joo merasa ia tidak memiliki apa pun yang akan dibicarakan dengan Jong Goo. Heung Sam memandang marah pada Mi Joo, terpaksa Mi Joo masuk kembali dan menemui Jong Goo yang tertidur di kursi.

Mi Joo memberitahukan bahwa semua sudah pergi. "Apakah kau sudah tidur?", tanya Mi Joo pada Jong Goo yang tidak merespon ucapannya. Ketika Mi Joo akan pergi, Jong Goo baru membuka matanya dan bangun. Ia meminta Mi Joo mengatakan apa alasan Mi Joo berubah sikapnya. Apakah Heung Sam mengancam Mi Joo? Ataukah Heung Sam menghukum Mi Joo, atau dirinya, atau mereka berdua?

"Kau tau seperti apa Chairman, ia bukan tipe orang yang suka mengancam", ucap Mi Joo tanpa ekspresi.

Jong Goo tidak percaya, Mi Joo menghilang selama dua hari dan mendadak bersikap dingin padanya, pasti ada alasannya. Mi Joo duduk di kursi di depan Jong Goo dan minum minuman yang ada di depannya. Kemudian ia berkata bahwa ia pergi ke Bali untuk menghibur senator atas perintah Heung Sam. Melihat Jong Goo yang marah, Mi Joo meminta Jong Goo untuk tidak marah pada Heung Sam, Heung Sam memang menyuruhnya tapi ia tidak merasa terpaksa melakukannya.

Jong Goo kembali menanyakan apa alasan Mi Joo, tiba-tiba berubah pikiran.

Mi Joo berkata ia memiliki banyak alasan. Ia membayangkan hidupnya setelah setahun mereka meninggalkan Stasiun Seoul, ia melihat dirinya masih menjadi waitress dan Jong Goo bekerja sebagai buruh, ungkin awalnya mereka akan bahagia tapi lama kelamaan mereka pasti akan lelah dengan kehidupan seperti itu. ia juga sangat menyukai kehidupan yang nyaman dan barang-barang yang mewah, dan ia tidak sanggup melepaskan semua itu demi Jong Goo.


Jong Goo tidak mau mendengarkan alasan apa pun lagi dari Mi Joo. Ia memegang tangan Mi Joo dan mengajaknya pergi, kemana pun yang Mi Joo mau. Wajah Mi Joo terlihat akan menangis, tapi ia memutuskan untuk melepaskan tangan Jong Goo dari tangannya, "Sadarlah, ahjussi, chairman bisa memberikan apa pun yang tidak bisa paman berikan. Dan aku bukan anak remaja lagi".

Malam itu, Heung Sam pulang sambil melihat ke luar jendela mobilnya, melamun. Jong Goo juga seperti itu, pulang jalan kaki sambil melamun. Dan Mi Joo, ia menghabiskan malam itu sambil minum-minum untuk menghilangkan rasa sedihnya.


Sementara pasangan yang lain, Na Ra melamun sambil menyentuh bunga yang pernah di berikan Tae Ho untuknya - sekarang bunga itu sudah ia tanam di kebunnya, dan Tae Ho melamun sambil melihat kota yang ada di depannya.


Se Hoon dan Jung Min sedang memeriksa dokumen terkait dengan Direktur Choi ketika Direktur Choi masuk begitu saja ke ruangan Se Hoo. "Apa kau tidak punya sopan santun, tidak mengetuk pintu terlebih dahulu?", tegur Se Hoon.

Direktur Choi kesal karena Se Hoon berani-beraninya melakukan hal ini padanya. Tapi Se Hoon tidak peduli, ia melakukan ini karena Chairman tidak menyukai tuntutan pidana, oleh sebab itulah ia mempersilahkan Direktur Choi untuk menikmati masa tuanya di pedesaan.

Direktur Choi bertambah marah dan berkata apa Se Hoon akan merasa aman setelah melakukan semua ini padanya. Se Hoon berkata ia juga akan mengurus orang-orang Direktur Choi, mereka diberi dua pilihan, mengundurkan diri atau dipindahkan ke tempat yang jauh. Lalu sebelum keluar dari ruangannya, Se Hoon mengatakan pada Jung bahwa ia akan segera kembali dan mengingatkan Jung Min untuk menyelesaikan tugas yang ia berikan sebelum jam 4 sore nanti.

Setelah Se Hoon pergi, Direktur Choi memohon pada Jung Min, menurutnya Chairman tidak bisa melakukan ini padanya. Tapi Jung Min hanya berkata Direktur Choi menuai apa yang ia tanam, ia mendengar bahkan Direktur Choi berusaha menculik Kepala Seksi (Se Hoon maksudnya).

Direktur Choi terkejut, ia berpesan pada Jung Min untuk tidak mempercayai Kepala Seksi Kang terlalu membabi buta, betapapun berhati-hatinya seseorang, dia pasti memiliki satu atau dua kekurangan, dan Direktur Choi menilai Kepala Seksi Kang itu sosok yang terlalu sempurna. Jika Kepala Seksi Kang memang tidak menyembunyikan sesuatu apa pun, dia pasti tidak akan bersikap seperti itu. Direktur Choi meminta Jung Min untuk mencamkan perkataannya itu.

Se Hoon berada di dalam mobilnya, menekan sebuah tombol yang ada di dashboard mobilnya. Apa Se Hoon meletakkan alat penyadap di kantornya juga? Ga tau juga sih...


Tae Ho dan Heung Sam sedang berada di sebuah restoran, Tae Ho mengatakan, ia sudah membaca dokumen yang dikirimkan Heung Sam, menurutnya ckakupan bisnisnya terlalu luas.

"Pak tua itu mengurusnya dengan sangat teliti tapi akhirnya harus pergi dengan tangan kosong", ucap Heung Sam. Tae Ho terdiam mendengar komentar Heung Sam tentang Presiden Jung. Heung Sam menyadari perubahan sikap Tae Ho dan mengingatkan Tae Ho untuk tidak mengasihi Presiden Jung karena dia sudah menghancurkan hidup Tae Ho.

"Aku tau. Pada akhirnya emosi itu juga mata uang", sahut Tae Ho dan Heung Sam pun mentertawakan Tae Ho, menduga sepertinya Tae Ho sudah siap bekerja sekarang. Lalu Tae Ho bertanya apa yang perlu ia lakukan.

Belum sempat Heung Sam menjawab, Se Hoon datang. Heung Sam menyambutnya dan memperkenalkan Tae Ho pada Se Hoon sebagai salah satu karyawannya. Heung Sam memperkenalkan Se Hoon pada Tae Ho sebagai Kepala Seksi Departemen Strategi Perencanaan di Han Joong Group.

Heung Sam menawarkan makanan tapi Se Hoon berkata ia tidak punya waktu yang banyak dan memilih memesan teh saja. Tae Ho sempat melirik Se Hoon ketika Se Hoon memegang daftar menu. Lalu Heung Sam membicarakan tentang Direktur Choi yang harus diberhentikan seperti itu di masa tuanya. Tapi Se Hoon berkata hal itu menjadi keuntungan bagi Heung Sam, selama Direktur Choi masih terlibat dalam proyek itu, maka Heung Sam tidak akan bisa terlibat di dalamnya. Heung Sam tertawa terkekeh dan kemudian Tae Ho meminta izin untuk ke toilet sebentar.

Setelah Tae Ho pergi, sikap formal antara Heung Sam dan Se Hoon hilang, mereka bicara dengan nada biasa. Heung Soo tidak mengerti apa yang terjadi, kenapa melakukan pertemuan mendadak seperti ini. Heung Sam berkata ia pernah menceritakan bahwa ia menemukan seseorang yang mirip seperti Heung Soo, bahkan masalah Presiden Jung, Tae Ho yang mengurusnya. Dan satu hal menarik lain adalah operasi yang direncanakan oleh Heung Soo dan gagal karena Ju Po terlibat, Ju Po itu adalah Jang Tae Ho. Heung Soo sangat terkejut.

Di toilet, Tae Ho teringat ucapan Jung Min ketika di restoran dulu. Saat itu Jung Min mengatakan bahwa baginya Tae Ho sudah tidak penting lagi karena ia sudah menemukan seseorang yang lebih ahli dan berguna daripada Tae Ho. Dan Tae Ho teringat ia melihat seorang pria yang mencium kening Jung Min di depan apartemen Jung Min. Ia mengambil kesimpulan bahwa pria yang dekat dengan Jung Min saat ini adalah Se Hoon.


Se Hoon sesekali melirik Tae Ho yang sedang serius membaca dokumen, satu kali Tae Ho menangkap basah Se Hoon yang sedang menatapnya. Se Hoon menganggukkan kepalanya dn tersenyum pada Tae Ho dan Tae Ho membalasnya. Heung Sam mengatakan setelah ia membaca dokumen itu, ia merasa persyaratan yang diajukan oleh Han Joong Group cukup ketat.

Se Hoon menyetujuinya, masalah itu memang harus dihadapi jika berpartner dengan Han Joong Group, proyek Kota Mi Rae adalah sebuah proyek yang besar dan diawasi secara langsung oleh Chairman. Heung Sam meminta pendapat Tae Ho.

Tae Ho mengatakan untuk metode investasi dan skala investasi mungkin bisa lebih menguntungkan walapun jumlahnya masih dalam batas kewajaran. Isu tersebut muncul bersamaan dengan fakta bahwa standar Han Joong Group yang cukup tinggi. Tae Ho memberikan solusi bahwa permasalahan ini biasa diatasi dengan mengatakan bahwa perusahaan mereka ada di Hongkong atau Singapur sehingga bisa terhindar dari pemeriksaan yang teliti. Dan ada satu cara lagi yang lebih mudah untuk mereka, yaitu dengan membuat perusahaan di atas kertas.

Mendengar solusi dari Tae Ho, Heung Sam bertukar senyum dengan Se Hoon. Lalu Se Hoon berpendapat bahwa sepertinya akan lebih lancar jika Tae Ho langsung bertemu dengan Chairman. Ia juga merasa sepertinya ia pernah melihat Tae Hoo.

"Entahlah", sahut Tae Ho. Ia merasa ini adalah pertama kalinya ia bertemu dengan Se Hoon, sebaliknya Se Hoon merasa ia memang pernah melihat Tae Ho di suatu tempat. Tapi Tae Ho meragukan hal itu. Karena dia bukanlah siapa-siapa, ia hanyalah seorang gelandangan yang tinggal di Stasiun Seoul setelah bisnisnya gagal, dan berkat Chairman Kwak ia menjadi lebih manusiawi sekarang ini.

Se Hoon berkata sepertinya Chairman sudah menemukan seorang bawahan yang berguna. Heung Sam tertawa terkekeh, menurutnya takdir seseorang itu ditentukan oleh bagaimana ia besikap pada orang lain dan ia adalah orang yang pintar dalam menilai seseorang.


Heung Sam kembali ke hotel dan Mantis mengawasi sekelilingnya, tidak sengaja melihat Sergeant Bae dan Crocodile yang pergi dengan mobil. Ia memicingkan matanya.


Malam itu, Tae Ho berdiskusi dengan Hae Jin, Young Chil, Mandor Oh, dan Chairman Jo tentang pembuatan perusahaan di atas kertas. Mereka berdebat tentang beberapa hal, tapi Tae Ho sama sekali tidak menanggapi mereka, ia seperti berada di tempat yang lain. Hae Jin berkali-kali mencoba menyadarkan Tae Ho dan menduga sepertinya Tae Ho belum berbaikan dengan Na Ra.

Tae Ho kesal karena Hae Jin tiba-tiba malah mengungkit masalah itu. Mandor Oh menertawakan Tae Ho. Menurut Hae Jin, hanya dua hal yang membuat seorang pria termenung, masalah dengan wanita dan masalah dengan wanita yang lain. :-))

tapi Young Chil kelihatannya tidak begitu suka, menurutnya Tae Ho dan Na Ra itu tidak cocok. Mandor Oh langsung membantah, menurutnya Tae Ho dan Na Ra adalah pasangan dari surga.

Tae Ho bertambah kesal dan menyuruh mereka berhenti berbicara omong kosong dan minta izin untuk keluar sebentar. Dan benar saja, sekarang Tae Ho malah berdiri di depan kebun bunga Na Ra. Tersenyum sendiri melihat bunga yang ia berikan ditanam oleh Na Ra di kebunnya.


Sementara itu, Jong Goo melampiaskan kesedihannya karena putus dengan Mi Joo dengan berlatih tinju pada tumpukan ban yang biasa digunakan oleh Tae Ho. Tae Ho datang dengan membawa sekantong plastik botol minuman soju dan menyuruh Jong Goo berhenti berlatih dan minum bersamanya, "Aku bosan dan tidak punya teman minum".

"Pergilah", usir Jong Goo, yang masih kecewa pada Tae Ho.

Tapi Tae Ho tidak beranjak, ia malah mulai membuka botol minuman. Chairman Kwak pernah mengatakan padanya bahwa Jong Goo itu tidak memiliki tempat lain kecuali ring tinju. Ia merasa iri pada Jong Goo yang masih memiliki tujuan dan seseorang yang ingin ditemukan.

Melihat Tae Ho yang kembali menegak minumannya, Jong Goo berkata bahwa ia sudah memperingatkan Tae Ho bekerja dengan Heung Sam itu tidak mudah. Tapi Tae Ho berkata Jong Goo itu salah. Semuanya berjalan terlalu mudah untuknya, seorang yang baru sepertinya sudah memdapat posisi eksekutif dan dipromosikan dengan sangat cepat.

'Walaupun Heung Sam membutuhkanmu bukan berarti dia menganggapmu penting", sahut Jong Goo lagi.

"Aku tau. Ini saja sudah cukup", ucap Tae Ho lagi.

Jong Goo akan masuk ke dalam busnya, tapi Tae Ho memanggilnya lagi dan berkata hidup sendiri itu adalah yang ternyaman, tapi sekarang ia tidak bisa lagi hidup seperti itu karena orang lain, ia merasa sangat menyesal terhadap Min Soo yang meninggal dan tidak bisa melupakan mantan kekasihnya, dan ia juga mengkhawatirkan semua orang yang ia kenal sejak tiba di Satsiun Seoul.

"Untuk orang sepertimu, tidak ada orang lain selain dirimu sendiri. Kau harus melakukan hal buruk dan kau juga ingin melakukan hal yan baik, benar-benar memusingkan menyeimbangkan keduanya, bukan? Menjadi pahlawan ataupun penjahat, pilih salah satu. Tapi jangan memulai apa pun dengan Na Ra jika kau masih terus menempel pada Heung Sam. Kau tidak berhak menyakitinya", ucap Jong Goo dan kemudian pergi.

Lalu Tae Ho kembali menghentikan langkah Jong Goo, menanyakan di pihak siapakah Jong Goo itu. "Anda berhenti obat-obatan dan juga berhenti minum. Apakah Madam Seo membuat anda ingin menjadi pria terhormat?", tanya Tae Ho. Jong Goo langsung berbalik, wajahnya terlihat menahan marah. Lalu Tae Ho berkata, pihak siapa pun yang mereka pilih, ia berharap mereka berdua berakhir happy ending.

Sebelum pergi, Tae Ho berpesan agar Jong Goo menyimpan soju yang ia bawa tadi untuk merayakan happy ending itu.


Tae Ho berjalan sendirian di sebuah tempat yang sepi, ia melihat bunga rumput liar yang mirip dengan bunga yang ia berikan untuk Na Ra. Lalu ia menelpon Na Ra yang masih berada di klinik.

"Halo?"

"Na Ra-sshi". Na Ra terkejut, ia tau itu adalah suara Tae Ho. "Ini aku. Jang Tae Ho".

Tae Ho bertanya apakah ia membangunkan Na Ra. Na Ra berkata tidak, ia sedang diklinik karena mendapatkan shift malam. Na Ra bertanya darimana Tae Ho tau nomor ponselnya. Dari Hae Jin, jawab Tae Ho. Lalu Tae Ho bertanya kapan Na Ra pulang, tapi tiba-tiba ia mendapatkan telpon yang lain dan melihat itu dari Heung Sam. Tae Ho meminta maaf dan berkata ia akan menelpon Na Ra kembali nanti dan kemudian memutuskan telpon dan menerima telpon dari Heung Sam.

Heung Sam langsung bertanya apakah Tae Ho sendirian. "Ya", jawab Tae Ho.

"Apa kau sudah bertemu sergeant Bae hari ini?

"Belum".

"Berhati-hatilah. Dia pernah menyebabkan masalah dulu...".

"Masalah bagaimana?". Tanpa disadari Tae Ho, Sergeant Bae sudah berada di belakangnya dan menghunuskan pisaunya ke arah Tae Ho.

"Dulu, ada orang yang juga pernah mencoba meningkatkan rangking sepertimu dan ia membuat orang itu menghilang. Jadi aku mengirimkan Mantis". Tae Ho terdiam, shock dan gemetar, mendengar suara Mantis yang menghajar dan membunuh Sergeant Bae di belakangnya. Lalu Heung Sam menyuruh Tae Ho datang menemuinya bersama Mantis, karena ada sesuatu yang akan ia tunjukkan pada Tae Ho.


Sergeant Bae roboh, penuh darah di perutnya...

Tae Ho datang ke hotel bersama Mantis. Mantis melaporkan bahwa ia tidak melihat Crocodile di tkp. Heung Sam bisa menduga hal itu, Crocodile adalah orang yang licik jadi tidak mungkin akan terlibat secara langsung, ia yakin Crocodile yang menghasut Sergeant Bae untuk melakukan hal itu dan kemudian kabur entah kemana. Mantis berkata ia akan mengurus Sergeant Bae di pabrik dan pamit keluar.

"Tae Ho-ya! Aku menyukaimu", ucap Heung Sam. Tae Ho terdiam. Menurut Heung Sam, Tae Ho adalah orang yang berharga. Jika Tae Ho menghilangkan sesuatu miliknya, maka Tae Ho akan mengembalikannya dan Tae Ho akan merebut milik orang lain jika Tae Ho menginginkannya. Ia menduga Tae Ho pasti juga menginginkan miliknya. Ia menyuruh Tae Ho menebak berapa uang yang bisa dikumpulkan oleh si nomor 1. 10 milyar won? 20 milyar won? Tapi semua itu tidak benar. Heung Sam berkata ia mengumpulkan lebih daripada itu. Lalu Heung Sam menduga Tae Ho pasti bertanya-tanya kapan, bagaimana ia dapat mencuri semua itu darinya.


Lalu Heung Sam menyuruh Tae Ho mengikutinya. Heung Sam membuka pintu kamar besinya dan Tae Ho terkejut melihat uang Heung Sam yang banyak sekali dan tersusun dengan rapi. Heung Sam berkata ada dua cara Tae Ho bisa mendapatkan uang itu, cara yang mudah dan cara yang sulit. Tae Ho bisa mendapatkannya dengan darah, keringat, dan air mata untuk menyingkirkannya atau Tae Ho bisa menjadi anak buahnya agar ia bisa memberikan semua itu untuk Tae Ho. "Pilihan ada ditanganmu".

Tae Ho masih tertegun. "Menurutmu, pilihan mana yang termudah untukmu?", tanya Heung Sam lagi...


Keesokan harinya, Cutter Straw sudah menghirup udara bebas dan siap kembali ke Stasiun Seoul...

Bersambung...

Komentar :

Top banget Chairman Wang, perkataan Chairman Wang memang benar-benar mencerminkan Chairman Wang orang yang sangat matang, ibaratnya, ucapan Chairman Wang itu seperti pisau bermata dua, satu sisi ditujukan untuk Presiden Jung dan satu sisi lagi untuk Heung Sam. Itu artinya Heung Sam sama saja dengan Presiden Jung dan bisa saja bernasib sama dengan Presiden Jung, mati karena dibunuh.

Lalu entah apa motivasi Heung Sam memperlihatkan hartanya pada Tae Ho dan memberinya penawaran untuk menjadi orang kepercayaanya, apakah ini ada hubungannya dengan Straw Cutter yang sudah dibebaskan dari penjara? Apa mungkin ia takut jika Straw Cutter memanjat naik dan menggeser posisinya sebagai nomor 1, oleh sebab itulah ia mengajak Tae Ho sebagai backupnya. Heung Sam mungkin merasa aman karena Jong Goo tidak punya keinginan untuk mengambil posisinya, tapi mungkin tidak dengan Straw Cutter. Kalo diliat dari penampakannya, sepertinya Straw Cutter ini paling sadis dari keenam pemimpin di Stasiun Seoul. Jadi ingat, karakter yang main Straw Cutter ini di King Of Two Hearts, di drama itu dia juga main jadi penjahat, bahkan nyaris seperti psikopat...

Di episode ini saya paling suka liat interaksi antara Tae Ho dan Na Ra. Na Ra bersikap pura-pura tidak peduli, kadang-kadang berbohong menutupi perasaannya yang sebenarnya, andai saja Tae Ho ini 'ngeh'... Dan Tae Ho juga, saya paling suka nada bicara Tae Ho pada Na Ra, nada bicara Tae Ho terkesan ia sangat berhati-hati, sedikit terkesan memendam kesedihan, dan mendekati Na Ra dengan sangat perlahan... Sukaaa banget...

[Sinopsis Last Episode 9]

No comments:

Powered by Blogger.