Sinopsis Last Episode 6 Part 2

[Sinopsis Last Episode 6 Part 1]

Sinopsis Last Episode 6 Part 2

Sinopsis Last Episode 6 Part 2

Kdramastory - Se Hoon sudah kembali ke kantor dan makan siang di kantin kantor. Sepertinya rumor masalah ia dan Direktur Choi sudah tersebar ke karyawan yang lain karena tidak ada seorang pun yang mau makan semeja dengannya. Se Hoon sempat merasa aneh, tapi kemudian ia meneruskan makannya, tidak peduli pada orang lain.

Tidak lama kemudian, Jung Min datang dan duduk di depannya dan berkata, "Sampai bulan lalu, kau adalah orang yang paling populer di perusahaan ini tapi sekarang kau adalah musuh bersama nomor 1".

Se Hoon tersenyum tipis dan berkata jika Jung Min berada di pihak Direktur Choi, sebaiknya Jung Min tidak duduk bersamanya. Tapi Jung Min berkata ia tidak mau membiarkan Se Hoon makan sendirian, paling tidak ini adalah kesetiaannya sebagai bawahannya Se Hoon. Ia sangat mengerti bagaimana rasanya terpaksa makan sendirian. Dulu setiap kali teman-temannya mengetahui siapa ayahnya, maka sejak saat itulah ia selalu makan siang sendirian di sekolah.

Jung Min memberitahukan Se Hoon bahwa orang-orang bertaruh siapa yang akan jatuh : Se Hoon ataukah Direktur Choi. Dan semua orang berpendapat Direktur Choilah yang akan menang. Tapi ia meminta Se Hoon untuk tidak khawatir, anggap saja ini adalah tugas mereka sebagai bagian dari Departemen Perencanaan.

Se Hoon tidak mengomentari ucapan Jung Min. Ia malah mengatakan ia akan memberitahukan ayah Jung Min bahwa mereka berkencan setelah ayah Jung Min pulang dari perjalanan bisnis nanti. "Tapi untuk bisa melakukan itu, aku tidak boleh kalah dari Direktur Choi, bukan?".

Jung Min terdiam. Ia bertanya apakah Se Hoon akan baik-baik saja jika semua orang tau tentang Se Hoo yang berkencan dengannya. Semua orang akan membicarakan Se Hoo sebagai seorang karyawan yang memanjat status sosial, yang menginginkan posisi yang lebih baik dengan cara berkencan dengan putri chairman. Semua orang tidak akan peduli dengan kemampuan Se Hoon.

Tapi Se Hoon tidak peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain tentang dirinya. Dulu ketika ia masih tinggal di Canada, ia selalu sendirian, di sekolah maupun di rumah. Selama waktu itu, ia selalu berpikir akan bertemu seseorang yang akan duduk semeja dengannya dan akan selalu mendukungnya. Jung Min tersenyum mendengar ucapan Se Hoon.

--


Tae Ho masih di dalam mobilnya, menguping pembicaraan Presiden Jung sambil makan siang. Ia mendengar Presiden Jung sudah mengetahui isi dokumen itu, yaitu tentang ektraksi minyak dari pasir. Kepala Seksi Jo mengatakan dari dokumen itu disebutkan bahwa ektraksi minyak dari pasir itu sangat membahayakan lingkungan karena tingkat polusi air yang tinggi namun perusahaan itu menemukan teknologi yang mampu melakukan ektraksi tanpa menimbulkan polusi air yang tinggi.

Presdien Jung tidak yakin, ia merasa sepertinya perusahaan itu palsu. Tapi Kepala Seksi Jo berkata ia sudah membuka website perusahaan itu dan melihat perusahaan itu berada di Silicon Valley. Dan juga perusahaan itu selalu membayar pajak-pajaknya. Jika isi dari dokumen itu memang benar, maka ini seperti angsa yang mengerami telur emas. ucap Kepala Seksi Jo lagi.

Presiden Jung langsung tertarik. Ia merasa ia harus bertemu dengan Chairman perusahaan itu dan berbincang-bincang dengannya. "Jika dia memang penipu, aku akan langsung tau...", ucap Presiden Jung sambil berjalan akan keluar dari kantornya.

Di depan pintu, ia bertemu dengan si gendut (namanya ternyata Dduk Dae). Dduk Dae melaporkan bahwa ia sudah menyiapkan orang-orang. Tapi Presiden Jung mengatakan itu adalah prioritas utama karena Direktur Choi sendiri yang memintanya, tapi ia meminta Dduk Dae untuk mengurusnya sendiri karena sekarang ia benar-benar harus menemui seseorang terlebih dahulu.

Di luar, Tae Ho melihat Presiden Jung pergi dan mengikutinya. Ia menelpon Hae Jin, mengabarkan bahwa Presiden Jung dalam perjalanan menuju hotel. Dan ia menyerahkan sisanya pada akting Hae Jin dan Chairman Jo. Lalu ia mendapatkan telpon, dari Heung Sam.

--


Sepertinya Heung Sam menyuruh Tae Ho menemuinya di suatu tempat yang cukup jauh, karena saat itu terlihat sudah gelap. Heung Sam bertanya apakah Tae Ho yakin Presiden Jung sudah masuk perangkap. Tae Ho mengatakan Presiden Jung sudah mulai menggigit umpan mereka. Heung Sam menghela nafasnya dan menyuruh Mantis memberikan sesuatu pada Tae Ho.

Mantis memberikan sebuah flashdisk. Heung Sam menyuruh Tae Ho menggunakan isi flashdisk itu untuk menyegel kesepakatan. Di dalam flashdisk itu ada foto-foto Senator Moon Ki Hwan. Tae Ho berkata ia mendengar Senator Moon akan dipromosikan di pemilihan tahun depan. Heung Sam membenarkan, tapi ia tidak suka orang seperti Senator Moon bertanggung jawab pada orang banyak, semua orang yang menolong Presiden Jung akan hancur seperti domino.

Lalu Tae Ho bertanya apakah Heung Sam mengenal Direktur Choi In Go dari Han Joong Group. "Kenapa?", tanya Heung Sam. Tae Ho berkata ia mendengar Presiden Jung berbicara dengan Direktur Choi.

=== Flashback ===

Presiden Jung meminta Direktur Choi percaya padanya. Baginya, membuat orang kecelakaan ataupun menghilang sangatlah mudah.

=== Flashback End =====

Se Hoon keluar dari lift di parkiran basemen dan berjalan ke arah mobilnya. Beberapa orang pria sedang mengawasinya dari dalam mobil. Tiba-tiba Se Hoon mendapatkan telpon dan langsung mengangkatnya. "Aku pikir kau pernah bilang untuk tidak berbicara melalui nomor ini", ucap Se Hoon.

"Dimana kau sekarang?".

"Apa ada masalah?".

"Presiden Jung sudah mengirim orang-orangnya untuk mengejarmu. Lari, cepat!".


Se Hoon menoleh ke belakang. Dan benar saja, beberapa orang pria berjas hitam turun dari sebuah mobik minivan dan mendekatinya. "Mereka sudah ada di sini".

"Aku bilang hindari mereka. Cepat!".

"Aku akan menelponmu sepuluh menit lagi", ucap Se Hoon datar dan kemudian menutup telponnya.

"Heung Soo-ya!", teriak Heung Sam di telpon, sayangnya telponnya sudah terputus. (See? Namanya mirip kan?). Tae Ho yang belum jauh dari mobil Heung Sam mendengar Heung Sam berteriak menyebut nama Heung Soo. Heung Sam sepertinya merasa tertangkap basah, tapi tidak bisa apa-apa lagi. Tae Ho sempat melihat ke belakang dan mengernyitkan wajahnya, tapi sesaat kemudian ia melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam mobilnya.

Heung Sam kembali mencoba menghubungi ponsel Heung Soo tapi tidak bisa tersambung. Ia seperti sangat khawatir.

Kembali ke basemen, Se Hoon bertanya apa Presiden Jung Man Chool yang mengirim mereka. Dduk Dae dan teman-temannya diam saja. Se Hoon tersenyum dan berkata apa yang bisa ia lakukan, ia tidak punya keinginan untuk ikut dengan mereka.

Dduk Dae tersenyum senang, "Aku ingin tau kenapa si pintar ini bertingkah seperti ini..".

Se Hoon mendengus, "Ini karena orang-orang bodoh seperti kalian". Senyum di wajah Dduk Dae menghilang. Se Hoon berkata saat ini ada tiga kamera CCTV yang sedang mengawasi mereka. Kamera itu adalah tipe HQ CCTV yang mampu meng-capture wajah dan plat mobil dengan jelas. Ia meminta mereka memilih. Pergi dengan diam-diam, walaupun itu mungkin tidak akan cocok dengan style mereka, atau membuat keributan di sini dan akan dituntut oleh polisi. Jika seorang kepala departemen perencanaan dari Han Joong Group menghilang, ia yakin perusahaan tidak akan tinggal diam dan membiarkan begitu saja tanpa melakukan apa pun.

DDuk Dae terdiam, tidak bisa memilih. Lalu tiba-tiba Jung Min muncul dan memanggil Se Hoon. Melihat Jung Min datang, Dduk Dae mengajak teman-temannya pergi. Setelah mereka pergi, Jung Min menatap kecewa pada Se Hoon yang hanya tersenyum canggung padanya.

--


Presiden Jung sudah sampai di depan kamar hotel Hae Jin. "Ta da... Ini dokumen yang kau inginkan", ucapnya seperti cacing kepanasan. (Beneran deh, kalo Presiden Jung ini terlalu senang atau excited, ia seperti cacing kepanasan... :-)) Ekspresif banget!)

Hae Jin membuka pintu kamarnya sedikit, ia menyuruh Presiden Jung diam disana sambil berbisik. Lalu tiba-tiba terdengar suara seorang pria dari dalam yang bertanya siapa. "O... bukan siapa-siap", sahut Hae Jin sambil menoleh ke dalam kamar.

"Ohhh... mengecewakan sekali! Aku bisa saja mengirimkan orangku tapi aku datang sendiri ke sini", ucap Presiden Jung sedih.

"Kenapa juga kau...", kesal Hae Jin.

"Aku bilang siapa itu?", kali ini orang yang berada di dalam kamar keluar, ia adalah Chairman Jo yang berpura-pura menjadi ayah Hae Jin.

Presiden Jung langsung membungkuk, merasa terhormat bisa bertemu dengan Chairman Park... :-)) "Saya Jung Man Chool", ucap Presiden Jung.

Chairman Jo menatap penuh selidik pada Presiden Jung dan tidak mengatakan apa pun. Hae Jin mengatakan bahwa Presiden Jung ini adalah orang yang menyelamatkan dokumen perusahaan mereka. "Ya, benar...", sahut Presiden Jung sambil tertawa senang.

"Ambil dokumen itu. Berikan uangnya. Dan suruh dia pergi", ucap Chairman Jo dingin dan langsung masuk kembali ke dalam kamar. Presiden Jung berusaha memanggil kembali Presiden Jo, Hae Jin sendiri terlihat bingung, ia menyuruh Presiden Jung untuk menunggu di lobi dan menunggunya di sana. Presiden Jung keberatan, ia masih ingin masuk ke dalam kamar tapi Hae Jin mendorong Presiden Jung dan menutup kembali pintu kamar.

Presiden Jung terlihat sangat panik...


Setelah menutup pintu kamar, Hae Jin kesal dan agak marah pada Chairman Jo. "Bagaimana kau bisa...", tanya Hae Jin pada Chairman Jo yang malah asik membaca koran. "Bagaimana kau bisa menyuruhnya pergi? Kita sudah berhasil membuatnya menggigit umpan dan datang ke sini. Kau malah menyuruhnya pergi".

Chairman Jo melipat korannya dan berkata Presiden Jung itu hanya bermain-main. Ia hanya mencoba melihat apakah umpan yang ia gigit benar-benar berharga atau tidak. Menurut Chairman Jo, mereka harus menunggu sampai Presiden Jung benar-benar masuk perangkap mereka.

Hae Jin memandang Chairman Jo bingung. Lalu dengan santainya Chairman Jo berkata sebagai pimpinan NS Green Tech, sebuah perusahaan yang bernilai 1 milyar US dolar, akan membiarkan orang seperti Presiden Jung bertemu dengannya tanpa janji?.

Hae Jin baru 'ngeh' dan menggoda Chairman Jo yang pintar berakting dan sudah benar-benar seperti Bernard Park.

Hae Jin menemui Presiden Jung di lobi. Tidak jauh dari mereka, Tae Ho mengawasi sambil berpura-pura membaca koran. Hae Jin memberikan koper uang dan Presiden Jung mengembalikan dokumen itu. Presiden Jung memohon agar Hae Jin mau membantunya membuatkan janji dengan ayah Hae Jin.

"Kenapa?", tanya Hae Jin, wajahnya benar-benar seperti pura-pura tidak mengerti.

Presiden Jung tertawa kecil dan beralasan ia hanya menghormati ayah Hae Jin. "Bukankah dia ke Korea dengan teknologi ini untuk keuntungan Korea juga?", ucapnya lagi. Hae Jin menjadi marah. "Hei, kenapa kau membaca rahasia perusahaan orang lain?".

Presiden Jung meminta Hae Jin untuk mengesampingkan masalah bisnis. Sebagai seorang pebisnis yang sukses, ia ingin menunjukkan rasa hormatnya pada ayah Hae Jin dengan menjamunya makan.

Akhirnya Hae Jin setuju. Ia berkata ia akan coba membicarakan dengan ayahnya karena jadwal ayahnya sangat padat. Presiden Jung meminta Hae Jin melakukan yang terbaik, Karena untuk Chairman, berhubungan bisnis dengan orang sepertinya tidak akan membuat chairman rugi. Hae Jin tidak mengatakan apa pun lagi dan hanya menghela nafasnya, ia terlihat masih kesal. Lalu mereka berjabat tangan dan Presiden Jung pergi dengan senang.

Setelah Presiden Jung pergi, Hae Jin memberi kode 'peace' pada Tae Ho dan Tae Ho menganggukkan kepalanya. Setelah melaporkan melalui handsfree-nya bahwa Presiden Jung sudah pergi, Tae Ho menghela nafasnya. Ia teringat kembali ketika tadi Heung Sam sempat berteriak memanggil Heung Soo. Saat itu ekspresi Heung Sam terlihat aneh.

--


Jung Min pulang bersama Se Hoon. Di dalam mobil, Jung Min hanya menatap tajam pada Se Hoon yang sedang menyetir. "Sepertinya matamu memiliki laser yang siap keluar kapan saja", komentar Se Hoon. Jung Min merasa Se Hoon terlihat baik-baik saja yang aneh setelah melalui sesuatu hal yang tidak menyenangkan seperti tadi. Tapi Se Hoon berkata walaupun begitu tidak ada sesuatu yang terjadi.

"Apa kau meminjam uang dari renternir?", tanya Jung Min masih penasaran. Se Hoon terkejut karena Jung Min sepertinya mengenal orang-orang itu. Tapi Jung Min tidak mau menjawab pertanyaan Se Hoon, karena ia yang lebih dulu bertanya pada Se Hoon. Se Hoon sepertinya enggan menjelaskan tapi Jung Min memaksanya. Se Hoon mengatakan Direktur Choi yang berada dibalik mereka, secara kebetulan Direktur Choi mengenal seorang rentenir dan sepertinya Direktur Choi menyuruh rentenir itu untuk mencelakakannya.

Setelah menjawab pertanyaan Jung Min, Se Hoon kembali menanyakan bagaimana Jung Min bisa mengenal rentenir itu. Belum sempat Jung Min menjawab, Se Hoon mendapatkan telpon, sepertinya dari Heung Sam yang menanyakan keadaannya. Se Hoon berkata ia baik-baik saja dan akan menemui Heung Sam.

Setelah menutup telponnya, Se Hoon meminta maaf pada Jung Min karena ia harus menemui seseorang. "Kau tidak akan mengatakan siapa yang menelponmu walaupun aku bertanya, 'kan?", ucap Jung Min ketus. Se Hoon diam saja. Jung Min tersenyum kecut, ia merasa walaupun di kantor ia bawahannya Se Hoon dan di luar ia kekasih Se Hoon, tapi ternyata banyak hal yang tidak ia ketahui tentang Se Hoon. Se Hoon merasa bersalah pada Jung Min. Jung Min meminta Se Hoon menurunkannya di jalan.

--


Se Hoon menemui Heung Sam di atas sebuah taman di bukit, sepertinya ya. Karena dari sana terlihat kota dibawahnya. Begitu melihat Heung Soo (See Hoon adalah Heung Soo, adik kandung Heung Sam), Heung Sam langsung menanyakan bagaimana keadaan Heung Soo. Heung Soo mengatakan ia baik-baik saja, Presiden Jung hanya mengirimkan teri saja. Heung Sam berpesan pada Heung Soo untuk terus waspada karena mereka tidak akan menyerah, suatu saat mereka akan kembali menemui Heung Soo. Heung Soo menganggukkan kepalanya.

Ia sedikit bersyukur dengan kejadian tadi. Paling tidak hal itu membuktikan bahwa Direktur Choi memang benar merasa terancam. Se Hoon yakin Direktur Choi akan dipecat, seperti yang diinginkan oleh Chairman Yoon. Heung Sam menatap Heung Soo. 'Kenapa? Apa kau tidak percaya padaku?", tanya Heung Soo.

Heung Sam berkata ia memang ragu pada Se Hoon yang bekerja di Han Joong Group, karena posisi itu akan hilang hanya dengan jentikan jari Chairman Yoon. Tapi di samping itu, Kwak Heung Soo adalah adik yang ia percayai.

Lalu sambil menatap lampu-lampu gedung di depannya, Heung Sam bercerita ketika ia melarikan diri dari panti asuhan, setiap harinya ia merasa seperti di neraka. Ia sangat lapar karena hari yang dilewatinya tanpa makan lebih banyak daripada harinya makan. Sampai suatu hari ia pergi ke Namsan dan ia melihat seseorang menaburkan remahan roti untuk burung merpati, ia mengais setiap remahan roti itu dan memasukkannya ke dalam mulutnya tapi ia tetap merasa belum kenyang. Pada saat itu, ia melihat lampu-lampu dari gedung yang ada di depannya itu dan merasa lampu-lampu itu mirip dengan remahan roti yang putih atau mirip dengan butiran nasi yang hangat. Sejak saat itu, ia memutuskan untuk memakan semuanya itu.

Heung Soo meminta maaf karena Heung Sam harus berkorban untuk membayar uang sekolah dan uang sehari-hari ketika ia bersekolah di luar negeri. "Jika merasa bersalah, maka sukseslah", potong Heung Sam. Dan ia juga menyuruh Heung Soo melakukan apa pun supaya diperhatikan oleh Chairman Yoon. Heung Soo mengerti. Lalu Heung Soo bertanya apakah saat ini Heung Sam masih lapar.

"Seleraku bahkan belum bangkit. Proyek Restorasi Kota Mi Rae hanyalah tahap pertama", ucap Heung Sam penuh tekad.

"Lalu bagaimana dengan Presiden Jung? Apa kau benar-benar bisa mengurus orang itu?", tanya Heung Soo.

Heung Sam tersenyum dan berkata ia menemukan seseorang seperti Heung Soo, yang memiliki lebih banyak keberanian dan kecerdasan. Heung Soo menatap Heung Sam tidak mengerti tapi Heung Sam tidak mau menjelaskan lebih jauh.

--


Sementara itu, Tae Ho membriefing Hae Jin dan Chairman Jo untuk rencana mereka besok pagi. Ia mengatakan besok pagi, selama satu jam NS Green Tech akan berubah menjadi Blue House Inspectors yang bertugas untuk menyelidiki komite internal dan objek proyek penyelidikan mereka adalah Integritas dan Etika Senator, membersihkan korupsi dan etika amoralnya.

Hae Jin yang sedang melihat hasil cetakan foto, memuji foto-foto diambil dari sudut yang bagus. Tae Ho mememinta mereka untuk terus menyerang sampai merasa tersudutkan dan begitu dilepas, maka Senator Moon akan langsung kabur. Tapi satu hal yang penting dan harus diingat, mereka harus memastikan Senator Moon bertpapasan dengan President Jung.

Hae Jin menyanggupinya dan kemudian ia meminta Chairman Jo untuk duduk saja dan menyerahkan semuanya padanya. Tapi Presiden Jo terlihat tidak begitu senang. Ia merasa tidak cocok dengan makanan hotel, ia ingin makan pagi di Stasiun Seoul. Hae Jin merasa aneh, bagaimana bisa Chairman Jo membandingkan nasi keras di stasiun dengan sup hangat di hotel. Tapi Tae Ho ternyata juga merasakan hal yang sama, ia kangen dengan sup kimchi buatan nenek, sup yang ia makan saat sangat kelaparan. Ia tidak bisa melupakan kelezatannya. Lalu Tae Ho mengajak mereka semua untuk makan di Stasiun Seoul setelah semua urusan ini selesai, ia yang akan mentraktir mereka.

--


Jong Goo membawa Mi Joo ke kedai nenek, Mi Joo terus memperhatikan sekelilingnya sampai-sampai Jong Goo protes karena Mi Joo terlihat norak, seperti baru pertama kali saja ke kedai. Mi Joo tersenyum, ia hanya merasa ingin tau karena Jong Goo berkata sering pergi ke kedai itu. Jong Goo berkata nenek pemilik kedai itu sangat bawel tapi masakannya sangat enak.

"Apa yang kau bilang. Aku belum tuli", sahut nenek yang baru keluar dari dapur sambil membawa nampan di tangannya.

Mi Joo berkata ia hanya ingin tau tentang kedai itu karena Jong Goo katanya sering ke sana.

"Kau calon istrinya?". Jong Goo dan Mi Joo terkejut. "Tinggal dengan orang sepertinya akan memperpendek umurmu", ucap nenek lagi. Mi Joo hanya tersenyum dan berkata ia juga bukan orang yang hidup selalu nyaman. Tapi nenek berpendapat lain, ia melihat Mi Joo ini adalah wanita yang selalu penuh riasan dan menuangkan minuman untuk pria.

Jong Goo merasa tidak enak mendengar ucapan nenek tentang Mi Joo dan menengur nenek. Tapi Mi Joo berkata ia memang bukan orang yang pantas untuk Jong Goo, namun ia merasa senang karena Jong Goo menyukainya. Lalu nenek malah berbisik pada Jong Goo, menyuruh Jong Goo untuk tidak melepaskan Mi Joo karena Mi Joo adalah wanita yang akan membuat Jong Goo menjadi pria yang lebih baik.

Jong Goo semakin merasa malu dan mengajak Mi Joo pergi. Tapi Mi Joo tidak mau, ia berkata bau masakan nenek sangat enak. Terpaksa Jong Goo mengurungkan niatnya pergi dari kedai. Lalu Mi Joo bertanya apakah nenek tinggal sendirian.

"Tidak. Ia tinggal bersama Na Ra", jawab Jong Goo. Lalu Jong Goo bertanya pada nenek dimana Na Ra. Nenek tidak tau, ia berkata akhir-akhir ini Na Ra gila bekerja, ia tidak tau kenapa Na Ra justru tidak mau bekerja di kedai lagi.


Na Ra terlihat sedang bekerja dengan rekannya. Rekannya itu bertanya ada apa dengan Na Ra sampai-sampai gila bekerja seperti ini, padahal seharusnya hari ini Na Ra bisa cuti. Masalah cinta?, tanyanya. Na Ra tersenyum dan hanya berkata ia tidak punya kerjaan lain di rumah. Ia menyuruh rekannya untuk pulang lebih dulu, ia yang akan membereskan sisanya. Rekannya itu merasa tidak enak, tapi ia berterima kasih pada Na Ra. Lalu terlihat Na Ra pulang sendirian dengan membawa semua peralatan di tangannya.

"Aku yakin ia berusaha keras melupakannya. Ada lubang yang kosong di hatinya, oleh sebab itu ia mengisinya dengan hal yang lain. Ada orang yang melampiaskannya dengan bekerja, ada orang yang melampiaskannya dengan minuman", cerita Jong Goo pada Mi Joo setelah pulang dari kedai. Tapi Mi Joo melihat akhir-akhir ini Jong Goo sudah jarang minum. Jong Goo mengatakan melampiaskannya dengan minuman bukan hal yang baik. Ia merasa ia harus membiarkan saja, pria seperti itu tidak banyak yang harus diceritakan.

Lalu Mi Joo melingkarkan tangannya ke lengan Jong Goo. Jong Goo hanya melihat saja dan tidak protes. Ia bertanya apakah Heung Sam mengatakan sesuatu pada Mi Joo. "Dia tidak ada di klub dan tidak juga menelponku", ucap Mi Joo. Tapi Jong Goo yakin Heung Sam pasti tau Mi Joo pergi dari hotel malam itu. "Sepertinya dia memang punya urusan lain yang lebih penting, masalah pembukuan saja ia selalu mengirimkan Mantis untuk melakukannya", beritahu Mi Joo lagi.

Mi Joo ingin tau apa yang sebenarnya dikhawatirkan oleh Jong Goo. Jong Goo khawatir dengan apa yang akan dikatakan oleh Heung Sam, bukan Heung Samnya sendiri. lalu Mi Joo bertanya jika memang Jong Goo khawatir dengan ucapan Heung Sam, lalu apa yang akan dikatakan Jong Goo nanti, apa ia akan mengatakan ia membawanya pergi karena ingin makan kepiting saja?

"Aku akan bilang aku ingin makan kepiting karena kau sudah berjanji padaku", jawab Jong Goo. Mi Joo mulai akan menangis. "Kenapa? Aneh?", tanya Jong Goo lagi. "Iya, Paman memang aneh", ucap Mi Joo yang matanya mulai berkaca-kaca. Jong Goo mentertawakan Mi Joo, Mi Joo kesal dan pergi duluan. Jong Goo lalu berlari, menyusul Mi Joo, mengajaknya jalan bersama-sama. Dari kejauhan Crocodile dan Sergeant Bae mendengus tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.

--


Keesokan harinya, Presiden Jung terbangun karena Hae Jin menelponnya. Sepertinya Presiden Jung memang semalaman tidur di kantornya. Hae Jin menyuruh Presiden Jung datang ke hotel jam 1 siang. Tapi Presiden Jung sedikit keberatan, ia ingin membawa ayah Hae Jin ke tempat yang bagus dan mentraktirnya makan. Hae Jin menolak, karena waktunya sangat singkat dan ayahnya tidak punya waktu makan bersama Presiden Jung, ayahnya hanya memberikan waktu 10 menit saja dan ia berpesan agar Presiden Jung datang tepat waktu.

Presiden Jung tergagap dan terpaksa menerima keputusan ayah Hae Jin. Dari dalam mobilnya, Tae Ho tersenyum simpul. Lalu ia menelpon Hae Jin, bertanya tentang Senator Moon. Hae Jin berkata sebentar lagi Senator Moon akan tiba. Tae Ho menyuruh Hae Jin untuk menahan Senator Moon sampai Presiden Jung tiba. Ia akan memberitahukan jika nanti Presiden Jung naik ke kamar hotel.


Hae Jin menutup telponnya dan membukakan pintu kamar (waktu tadi sedang menelpon Tae Ho, memang terdengar suara bel pintu kamar). Ia melihat ke kiri dan ke kanan, "Kau datang sendiri, bukan?", tanya Hae Jin.

"Kau... apa yang kau mau dariku?", tanya Senator Moon. Hae Jin hanya berkata, "Malaikat Alkoholmu akan berubah menjadi Malaikat Kematianmu, jika kau tidak berhati-hati". Senator Moon menghela nafasnya, kesal. Hae Jin menyuruh Senator Moon untuk masuk terlebih dahulu, jika begini, mereka akan menarik perhatian orang lain dan situasi Senator Moon tidak akan bisa dikompromikan lagi. Dengan terpaksa Senator Moon mengikuti Hae Jin.

Sementara itu, Presiden Jung dalam perjalanan menuju hotel. Ia memarahi Dduk Dae yang tidak mampu mengatasi seorang pebisnis saja. Ia bahkan memukul Dduk Dae, meyuruhnya untuk tidak bilang ke orang-orang bahwa ia bekerja untuknya, memalukan saja, umpat Presiden Jung.

Dduk Dae beralasan bahwa orang itu punya pribadi yang agresif. Presiden Jung bertambah marah karena Dduk Dae malah beralasan di depannya. Dduk Dae meminta maaf pada Presiden Jung. Presiden Jung memberitahukan Dduk Dae bahwa ia mengatakan pada Direktur Choi bahwa mereka membutuhkan lebih banyak waktu lagi. Jadi jika kali ini Dduk Dae masih gagal, maka Dduk Dae yang akan mati, ancam Presiden Jung.

Dduk Dae mengerti. Lalu Presiden Jung yang masih kesal, melampiaskan kekesalannya pada sopirnya. Ia kesal karena sopirnya itu lambat sekali menyetir mobilnya. "Jika kau membawa mobil seperti ini, apa kita akan sampai di sana tepat jam 1? Cepat, injak gasnya!", bentak Presiden Jung. Sopir Presiden Jung pindah ke jalur yang lain, mobil Tae Ho juga pindah jalur yang sama, mengikuti mobil Presiden Jung.

--


Senator Moon hampir menangis melihat foto-fotonya masuk ke hotel bersama Mi Joo. Ia berkata ini hanyalah kesalahpahaman, tidak ada yang terjadi antara dirinya dan wanita itu di malam itu. Tapi Hae Jin tidak percaya, Senator Moon dan wanita itu masuk ke kamar hotel bersama-sama dan hanya makan kue saja di dalam kamar hotel. Ia yakin tidak ada seorang rakyat pun yang percaya dengan hal itu.

Senator Moon bersumpah, yang dikatakannya tadi memang kebenaran. Melihat Senator Moon bertingkah, Hae Jin menjadi marah, ia merasa sepertinya Senator Moon tidak mengerti dengan situasi saat ini. Perilaku mesum Senator Moon bukan masalah besarnya, tapi Proyek Pengembangan Kota Mi Rae juga dalam resiko besar. Senator Moon terkejut sekligus tidak mengerti.


Chairman Jo mulai mengambil alih. Ia menegur Chief Park (maksudnya Hae Jin) yang sudah melewati batas. Dengan baik-baik, Chairman Jo mengatakan pada Senator Moon bahwa jika mereka mengikuti peraturan, maka mereka tidak akan memanggil Senator Moon ke kamar hotel saat ini. "Ini untuk kebaikan Anda, senator. Ayah Anda seorang profesor yang mengajar di bidang Ilmu Politik Internasional, bukan?". Senator Moon kaget. Chairman Jo berkata anaknya juga kuliah di Harvard dan mengambil kelas ayahnya Senator Moon dan ia merasa berhutang budi pada ayahnya Senator Moon. Oleh sebab itulah ia melakukan hal ini (maksudnya menemui Senator Moon diam-diam...).

"Setiap orang punya kesalahan, bukan?", ucap Chairman Jo lagi. Chairman Jo berkata ia akan menutupi masalah ini demi kebaikan Senator Moon, tapi sebagai syaratnya, mulai saat ini Senator Moon harus menjalankan tugasnya sebagai wakil rakyat dengan lebih baik lagi. Senator Moon langsung berdiri dari kursi dan membungkuk dalam-dalam pada Chairman Jo, ia sangat berterima kasih dan tidak akan melupakan jasa Chairman Jo ini.

Lalu Senator Moon ingin tau siapa nama anak Chairman Jo, ia akan bertanya pada ayahnya... Chairman Jo memukul meja dan berkata dengan tegas, "Kita tidak pernah bertemu. Anda mengerti maksudku, bukan?". Senator Moon menganggukkan kepalanya. Lalu tiba-tiba terdengar suara sirine kebakaran dan pengumuman bahwa saat ini sedang dilakukan pemeriksaan sistem alarm kebakaran di hotel. Seperti biasa, Chairman Jo mulai gemetar dan menutup kedua telinganya. Hae Jin menjadi sangat khawatir dan berusaha memanggil Chairman Jo tapi Chairman Jo tetap menutup kedua telinganya.

Sementara itu di lantai dasar, Presiden Jung sedang menunggu lift yang akan membawanya ke atas. Tae Ho yang mengawasi Presiden Jung dari balik dinding, mengirimkan pesan ke Hae Jin bahwa Presiden Jung sudah siap ke atas.

Di atas, Hae Jin berusaha mendorong Senator Moon keluar dari kamar hotel. Ia menyuruh Senator Moon pergi dan beristirahat, ia ingin Senator Moon tidak menarik perhatian terlebih dahulu karena ia juga menanggung resiko besar karena melindungi Senator Moon. "Ini rahasia tingkat tinggi, mengerti?".

"Ya...", jawab Senator Moon, ia masih khawatir dengan kondisi Chairman Jo, ia bertanya bagaimana dengan kondisi... Tapi Hae Jin memelototi Senator Moon dan langsung menutup pintu kamar.


Setelah pintu kamar tertutup, Senator Moon membuka kancing jasnya dan menghela nafas lega. Ketika akan pergi, ia malah berpapasan dengan Presiden Jung. "Oh! Ada apa Senator Moon kemari?", tanya Presiden Jung yang tergopoh-gopoh mendekati Senator Kim. Ia datang bersama dengan Dduk Dae.

Senator Moon salah tingkah, dan berkata tidak ada apa-apa. "Anda belum mau berbagi rahasia. Bukan begitu?", Presiden Jung malah menggoda Senator Moon. Kali ini Senator Moon menjadi marah, "Presiden Jung! Anda tidak perlu tau!". Dan kemudian cepat-cepat pergi dari sana. Presiden Jung merasa aneh melihat Senator Moon yang tiba-tiba marah padanya.

Di dalam kamar, Hae Jin berusaha menyadarkan Chairman Jo. Ia bertanya apakah Chairman Jo tau siapa dirinya. "Tentu saja! Kau 'kan Direktur Cha!", jawab Chairman Jo. Hae Jin bernafas lega, "Aku pikir kau kembali sakit...". Lalu Chairman Jo bingung melihat ke sekelilingnya dan bertanya, "Tapi... apa yang kita lakukan di sini? Kenapa kita ada di kamar hotel?".


Hae Jin sangat panik. Apalagi Presiden Jung sudah tiba di depan kamar hotel dan menekan bel....

Bersambung...

[Sinopsis Last Episode 7]

No comments:

Powered by Blogger.