Sinopsis Last Episode 4 Part 2

[Sinopsis Last Episode 4 Part 1]

Sinopsis Last Episode 4 Part 2

Sinopsis Last Episode 4 Part 2

Kdramastory - Keesokan paginya Tae Ho mulai melakukan pengintaian. Ia memperhatikan apa yang dilakukan Presiden Jung mulai dari pagi hingga malam hari. Saat pengintaiannya, Tae Ho teringat ketika pertama kalinya Presiden Jung mengajaknya terlibat dalam proyek Dae Dong Bio.

=== Flashback ===


Presiden Jung menawarkan proyek Dong Dae Bio padanya ketika ia dan Min Soo datang ke kantor Presiden Jung. Tae Ho ragu mengerjakannya karena ia kekurangan uang. Presiden Jung meminta Tae Ho untuk tidak khawatir, ia memiliki banyak investor. Presiden Jung membujuk Tae Ho dan timnya untuk melakukan proyek itu untuknya. Tae Ho agak ragu, ia melirik ke arah Min Soo. Min Soo terlihat lebih ragu daripada Tae Ho. Tapi Presiden Jung menjanjikan komisi yang besar untuk mereka. Lebih besar daripada menang lotere. Ia berjanji Min Soo juga akan mendapatkan komisi.

Tae Ho terlihat tertarik.

=== Flasback End ===

Terdengar narasi Tae Ho :

'Dia mulai jam 9.00 pagi. Makan siang dan main golf jam 3.00 sore. Selanjutnya ke panti pijat langganannya. Setelah 1 jam dipijat, ia akan ke sauna. Dia pergi ke tempat judi ilegal setiap jumat. Dia sangat egois dan juga sangat waspada. Dia selalu dikawal 24 jam penuh. dan kebiasaannya adalah masuk pintu yang aman dan tempat yang tidak asing. Selalu sama, setiap hari.'

--


Jong Goo terlihat sedikit mabuk dan sedang berusaha mengambil boneka beruang dari dalam mesin permainan, tapi gagal terus. Ia kesal dan memukul mesin itu dengan kedua tangannya. Mandor Oh yang berada tidak jauh dari sana melihat itu dan bertanya apa kesalahan mesin itu. Lalu Mandor Oh mendekat dan melihat Jong Goo tinggal 1 kesempatan lagi dan ia menawarkan bantuannya pada Jong Goo karena ia ahli dalam permainan itu.

Dan betul saja. Hanya sekali coba, Mandor Oh berhasil mendapatkan boneka yang Jong Goo inginkan. Jong Goo akan mengambil boneka itu tapi Mandor Oh malah menyembunyikannya di balik punggungnya. "Aku tadi membantumu, sekarang giliran kau membantuku, ya?". Jong Goo melihat Mandor Oh heran. Mandor Oh bertanya dimana si nomor 7, Jang Tae Ho, karena ia harus membayar hutangnya pada Tae Ho.

Jong Goo tertawa. Menurutnya sebaiknya Mandor Oh tidak melakukan itu, karena Mandor Oh bisa terluka. Tae Ho sekarang tidak sama dengan Tae Ho yang dulu, Mandor Oh akan jatuh dalam sekali pukulan saja. Dan tanpa Mandor Oh sadar, Jong Goo sudah mengambil boneka beruang dari balik punggungnya dan Jong Goo berterima kasih atas bantuan Mandor Oh.

Mandor Oh kesal dan memukul mesin itu dengan marah.

--

Mantis mendapatkan laporan dari Hae Jin dan melaporkan pada Heung Sam bahwa Tae Ho tidak ada dimana-mana, bahkan di rumahnya pun tidak ada. Ia tidak tau apakah saat ini Tae Ho sedang mengawasi rumah Presiden Jung atau malah kabur. Tapi Heung Sam menganggap tidak ada kabar itu berarti bagus, jika Tae Ho memang kabur, maka tae Ho pasti tidak akan datang menemuinya.

"Aku belum menyuruh Crocodile untuk membuatkan paspor", beritahu Mantis lagi.


"Tidak usah. Dia tidak butuh itu", sahut Heung Sam. Lalu terdengar ketukan di pintu dan Madam Seo masuk dan memberikan buku laporan setoran untuk bulan itu pada Heung Sam. "Kau ingin membaca di sini atau membawa pulang?", tanya Madam Seo.

Heung Sam menatap Madam Seo sesaat dan mengambil buku itu. "Biasa saja".

Madam Seo tidak mengerti dengan ucapan Heung Sam, apa maksudnya dengan biasa saja.

"Kalau tidak mengerti, ya sudah...". Madam Seo diam saja. Lalu Mantis yang dari tadi berdiri agak di belakang, maju ke depan dan berdiri di samping Madam Seo. Ia melirik ke Madam Seo.

--


Lalu dimanakah Tae Ho? Ternyata dia ada di tempat game online. Ia duduk di pojok sambil tertidur (mungkin, soalnya g keliatan) dan terkejut mendengar suara tembakan dari game yang sedang dimainkan dibelakangnya. Tae Ho bernafas lega. Lalu ia membuka tasnya, pistolnya masih di sana dan mengambil kotak cincin yang akan ia berikan untuk Jung Min dulu. Ia membuka kotak itu dan menatap cincin yang ada di dalamnya.

--


Madam Seo sudah selesai bekerja di klub dan berniat akan pulang. Jong Goo keluar dari tempat persembunyiannya di balik pagar dan berdiri di depan Madam Seo. Ia memberikan boneka yang ia dapatkan tadi untuk Madam Seo sebagai hadiah ulang tahun. Jong Goo meminta Madam Seo menerimanya, terserah mau disimpan atau mau dibuang.

Mi Joo berkata dari semua orang hanya Jong Goo lah yang memberinya hadiah. Tapi Jong Goo berkilah, ia berkata tidak ada alasan khusus, ia hanya teringat karena ulang tahun Mi Jo beda seminggu dari ulang tahun Eun Ji (Eun Ji itu putri Jong Goo yang hilang).

Mi Joo berterima kasih tapi ia tidak suka dengan hadiah dari Jong Goo.

"Apa kau masih marah karena aku tidak datang ke stasiun?", tanya Jong Goo.

Mi Joo berkata ia tidak tau apakah marah ataukah ia menyerah. Tapi ia merasa konyol jika dikatakan menyerah karena tidak ada yang pantas untuk direlakan. "Di matamu, aku mungkin masih anak SMA yang berumur 18 tahun...". Mi Joo menyerahkan kembali boneka itu pada Jong Goo, ia menyuruh Jong Goo untuk memberikan boneka itu untuk putrinya saja, dan ia juga berterima kasih karena Jong Goo masih ingat ulang tahunnya karena ia sendiri sudah melupakannya.

Lalu Mi Joo pergi dan sepertinya Jong Goo sedikit sedih dengan ucapan Mi Joo. Tapi belum jauh, Mi Jo berhenti dan bertanya tentang Tae Ho, apakah Tae Ho masih belajar tinju dengan Jong Goo.

Jong Goo berkata ia tidak melihat Tae Ho selama dua hari. Mi Joo terdiam. Jong Goo menangkap ada yang tidak beres dan bertanya ada apa.

Tidak diperlihatkan apa yang dikatakan oleh Mi Joo tapi keesokan paginya, ketika Tae Ho masih mengintai Presiden Jung dan berniat akan menghampirinya, Jong Goo tiba-tiba memanggilnya dan menatap Tae Ho dengan marah.


Jong Goo membawa Tae Ho ke tempat lain dan mencengkeram leher jaket Tae Ho. "Kau pikir kau dapat menyingkirkan Presiden Jung?". Jong Goo berkata Tae Ho akan babak belur dihajar oleh anak buah Presiden Jung begitu ia mendekati Presiden Jung. "Ini akan sia-sia!", teriaknya.

Tapi Tae Ho berkata tidak ada rahasia di Stasiun Seoul, jika dia mati semua orang akan tau. Jong Goo menyuruh Tae Ho kembali ke Haeng Sam sekarang juga dan katakan pada Heung Sam bahwa ia tidak bisa melakukannya.

Tae Ho mendengus tidak percaya. "Kalau begitu dia hanya akan mengutukku?".

"Kalau begitu larilah!", sahut Jong Goo. "Apa kau benar-benar ingin jadi pembunuh?".

Tae Ho agak terkesiap. Tapi ia berkata ia punya rencana.

"Buang jauh-jauh! Tidak akan berhasil...", potong Jong Goo. Tae Ho menatap Jong Goo, kecewa Jong Goo tidak mempercayainya. "Baiklah. Katakan saja jika kau berhasil lalu apa Heung Sam akan menepati janjinya? Dia bahkan belum memperlihatkan taringnya. Saat dia menggigitmu, kau akan tamat. Heung Sam menjadi seperti sekarang karena berhasil menyingkirkan orang-orang sepertimu. Dia bukan tandinganmu".

Tae Ho mengusap-ngusap kepalanya frustasi. Ia berterima kasih atas peringatan Jong Goo tapi ia tetap akan menyelesaikan sisanya. Jong Goo menarik tangan Tae Ho yang akan pergi, namun dengan cepat Tae Ho melayangkan tinjunya ke perut Jong Goo.

Jong Goo menahan sakitnya, Tae Ho tidak menyangka tinjunya benar-benar kena tepat sasaran, ia merasa sedikit bersalah. "Kau benar-benar tidak mengenal rasa takut, ya?".

"Maafkan aku", ucap Tae Ho, memalingkan pandangannya dari Jong Goo. Tae Ho terlihat putus asa. Ia berkata jika ada cara lain, ia akan melakukannya. Tapi saat ini, hanya ini yang bisa ia lakukan.

"Lalu aku bagaimana? Orang yang pernah mati mengatakan ingin mati lagi. Berkat kau, rasa bosanku berkurang. Sampai nanti", ucap Jong Goo dan pergi meninggalkan Tae Ho yang tidak tau harus bagaimana.


Mandor Oh datang ke klinik dan bertemu Na Ra. Ia memberikan sedikit makanan ringan sebagai rasa terima kasihnya pada Na Ra dan kemudian bertanya tentang Tae Ho. Ia beralasan karena ia memiliki hutang dengan Tae Ho. "Kau ingin berduel lagi dengannya?", tebak Na Ra. Mandor Oh menyangkalnya.

Na Ra agak ragu menyampaikan karena Tae Ho ingin ia merahasiakannya dari Mandor Oh. Na Ra mengatakan bahwa Tae Ho lah yang pertama kali memintanya mengobati Mandor Oh.

Malamnya, Tae Ho datang ke apartemen Jung Min. Ia menunggu Jung Min sambil memainkan kotak cincin di tangannya. Tidak lama kemudian ia melihat Jung Datang diantar oleh Se Hoon dan mereka sempat berbicara sebentar. Tae Ho memalingkan wajahnya ketika Se Hoon mencium kening Jung Min. Wajah Tae Ho terlihat sedikit sedih.


Setelah Se Hoon pergi, Tae Ho langsung keluar dari persembunyiannya dan mendekati Jung Min. Se Hoon yang belum jauh dari sana sempat melihat seorang pria mendekati Jung Min dan menghentikan mobilnya, mengawasi Jung Min melalui spion mobilnya. Senyum di wajah Jung Min karena Se Hoon menciumnya tadi langsung menghilang begitu melihat Tae Ho ada di depannya.

Tae Ho tertawa kecut. "Ah.. Aku merasa kecewa. Aku pikir kau akan menyambutku". Dengan menahan marah Jung Min bertanya kemana saja Tae Ho, ia sangat mengkhawatirkan Tae Ho. Lagi-lagi Tae Ho tertawa kecut, "Wah... Aku merasa tersanjung...". Jung Min berkata ia mendengar berita polisi sudah menemukan Min Soo, jadi sekarang apa rencana Tae Ho.

"Oleh sebab itulah aku menemuimu. Besok aku akan pergi dan tidak tau apakah akan kembali". Jung Min terkejut. Tae Ho berkata ia datang hanya karena ingin melihat wajah Jung Min terakhir kalinya dan ingin mengembalikan cincin milik Jung Min. Jung Min menghela nafasnya, kenapa ia harus menerima cincin itu. Tae Ho sedikit mendesak, ia tidak peduli apakah Jung Min akan membuangnya atau pun memberikannya pada orang lain.

Jung Min masih belum mengambil cincin itu. Tae Ho kembali mendesak, kali ini wajahnya terlihat sedikit memohon, "Aku tidak ingin pergi dengan berat hati, oke? Aku tidak mau pergi dengan kejanggalan. Jadi terimalah".

Jung Min mengela nafasnya. Ia merasa Tae Ho belum juga berubah. Selalu memutuskan seenaknya sendiri dan mengakhirinya sendiri. Akhirnya Jung Min mengalah dan mau menerima cincin itu dan Tae Ho berkata sekarang hatinya terasa lebih ringan. Tae Ho tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Lalu wajahnya berubah sedih.

Jung Min bertanya kemana Tae Ho akan pergi. "Apa ke perusahaan di Manhattan?"

"Entahlah. Kalau ingin mengetahui keberadaanku, hubungi majalah Forbes atau Wallstreet", ucap Tae Ho asal. Suasana menjadi canggung dan kemudian Tae Ho berbalik akan pergi, tapi sesaat kemudian ia terdiam, seperti menimbang sesuatu dan sesaat kemudian ia memutuskan untuk memeluk Jung Min. Sambil memeluk Jung Min, Tae Ho berkata walaupun sudah tidak berarti lagi, tapi saat-saat bersama Jung Min adalah saat-saat paling membahagiakan dalam hidupnya. "Aku pernah mencintaimu, Jung Min-a". Lalu Tae Ho melepaskan pelukannya dan tersenyum terakhir kalinya sebelum ia benar-benar pergi.

Dan Se Hoon masih ada di sana, melihat semua itu. Tae Ho berjalan dengan tenang tapi setelah jauh, ia akan melampiaskan kemarahannya dengan melemparkan topinya, tapi tidak jadi. Ia berlari sepanjang jalan, teringat hidupnya yang berubah, mulai dari awal ia terlibat dengan proyek Dong Dae Bio hingga perintah Heung Sam untuk membunuh Presiden Jung. Tae Ho meluapkan kemarahannya dengan berteriak keras sambil berlari.


Keesokan harinya, Tae Ho kembali mengintai Presiden Jung, kali ini ia menunggu Presiden Jung di tempat pijat langganannya.

Ia butuh 10 menit untuk berganti baju dan pergi ke lobi.

Si gendut sedang menunggu Presiden Jung sambil memainkan game di ponselnya. Telpon berdering di meja resepsionis, wanita di meja resepsionis menerima telpon dan kemudian memberitahukan si gendut bahwa mobil Presiden Jung sedikit tergores. Si gendut itu langsung tersulut emosinya. Ia menyuruh si penelpon untuk memberikan telpon pada sopir mobil Presiden Jung. Tapi si penelpon yang adalah Tae Ho berkata tidak ada siapa pun di dalam mobil. Tae Ho menyuruh si gendut untuk cepat keluar karena dia juga sibuk. Si Gendut bertambah emosi dan tanpa pikir panjang langsung keluar dari tempat pijat.


Tae Ho menutup telponnya, ia menelpon dari telpon umum, dan mengatur nafasnya yang terengah-engah. Lalu ia mengecek pistol dari balik jaketnya dan keluar dari box telpon umum. Dari seberang jalan, Mandor Oh melihat Tae Ho dan berusaha mengikuti Tae Ho. Tapi karena harus mencari tempat penyebarangan, ia kehilangan Tae Ho.

Tae Ho masuk ke dalam tempat pijat dan menemui resepsionis. Ia berkata ia harus bertemu dengan Presiden Jung karena ada hal yang ingin ia sampaikan. Resepsionis meminta Tae Ho mengatakan padanya, biar nanti ia yang menyampaikan pada Presiden Jung. Kemudian Tae Ho mengeluarkan sebuah amplop dari kantong jaketnya, ia berkata isi dari amplop itu adalah uang tunai dan ia ingin langsung memberikannya pada Presiden Jung.


Sepertinya si resepsionis mengizinkan karena sekarang Tae Ho perlahan masuk ke dalam kamar tempat Presiden Jung dipijat. Tidak ada siapa-siapa di sana, kecuali Presiden Jung yang sedang tidur telungkup dan wajahnya menghadap membelakangi pintu kamar. Perlahan Tae Ho mengunci pintu dan Presiden Jung mengira itu adalah orang yang biasa memijatnya. Tanpa berpaling ia menyuruh orang itu untuk memijitnya sekali lagi.

Perlahan Tae Ho mengambil pistol dari jaketnya dan sebuah bantal tebal yang terlipat di atas lemari kecil di dekat pintu. Perlahan Tae Ho mendekati Presiden Jung sambil menodongkan pistolnya yang ujungnya ditutupi bantal tebal untuk meredam suara tembakan. Perlahan Tae Ho menarik kokang pistolnya, Presiden Jung sama sekali tidak menyadarinya.


Lalu tiba-tiba terdengar suara ponsel dan sedikit mengendurkan ketegangan Tae Ho. Dari belakang Tae Ho bisa melihat Presiden Jung melakukan video call dengan cucu perempuannya. Nada bicara Presiden Jung sangat berbeda dengan biasanya, terlihat sekali Presiden Jung adalah seorang kakek yang sangat menyayangi cucunya. Bahkan ia memanggil cucunya dengan tuan puteri.

Ternyata cucu Presiden Jung ingin dibelikan coklat dan Presiden Jung berjanji akan membawa pulang kue coklat untuk cucunya nanti. Sebelum menutup telpon, cucu presiden Jung sempat memberikan kiss jauh pada kakeknya, begitu juga dengan Presiden Jung. Ketika cucunya sudah menutup telpon dan video dirinya memenuhi layar ponselnya, Presiden Jung baru menyadari Tae Ho berdiri di belakangnya.


Presiden Jung terkejut dan lebih terkejut lagi melihat Tae Ho menodongkan pistol padanya. Presiden Jung cepat-cepat bangun dan menjauh dari Tae Ho. Ia memohon-mohon pada Tae Ho untuk tidak melakukan itu. Ia memohon agar Tae Ho membiarkannya hidup. Tae Ho tidak mau. Ia mendorong Presiden Jung dengan pistolnya sampai Presiden Jung terduduk dan hampir menangis.

Tae Ho menekan kuat pistol pada bantal dan hampir menangis karena frustasi. "Kau pantas mati dengan cara yang lebih buruk dari ini", teriak Tae Ho.

"Kau benar!", ucap Presiden Jung, merengek.

Tae Ho semakin menekan pistol ke bantal. "Inikah akhir kau dan aku?". Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu, si gendut bertanya apakah Presdien Jung baik-baik saja. Ia menyuruh si resepsionis untuk mengambil kunci serap dan bertanya pada temannya kemana teman-teman mereka yang lain. Temannya itu menjawab mereka akan segera tiba. Si gendut itu kembali mengetuk pintu.


Di dalam Tae Ho tidak jadi membunuh Presiden Jung. Dari awal ia memang sudah terlihat ragu sampai-sampai menangis. Ia mundur ke arah jendela sambil terus menodongkan pistol pada Presiden Jung. Tae Ho melihat keluar jendela, dan ternyata jendelanya cukup tinggi dari bawah. Ia menyelipkan pistol di kantong belakang celananya (aduh tae ho.. pistolnya kan udah dikokang, gimana kalo tiba-tiba malah tertembak diri sendiri...) dan melewati jendela, berjalan di pinggir beton yang menempel di dinding bangunan.

Tepat saat itu juga, si gendut berhasil membuka pintu dan masuk ke kamar. Ketakutan Presiden Jung langsung menghilang setelah Tae Ho pergi, dengan marah-marah ia menyurah anak buahnya untuk mengejar Tae Ho. Tae Ho akan naik ke atap tapi pistolnya malah terjatuh ke bawah. Tidak ada pilihan lain, ia melanjutkan naik ke atas. Sementara si gendut memerintahkan teman-temannya untuk ke atap.

Tae Ho tiba di atap dan memeriksa ke sekeliling atap. Tidak ada jalan lain karena bangunan itu jauh dari bangunan di sampingnya. Tidak lama kemudian anak buah Presiden Jung tiba di atap juga dan langsung mengepung Tae Ho. Tae Ho tidak punya pilihan lain kecuali melawan mereka. Berkat latihannya bersama Jong Goo, ia cukup berhasil melawan mereka. Tapi sayangnya si gendut mengeluarkan pisau dari balik jasnya dan menusuk perut Tae Ho.

Tae Ho terkejut dan menampar si gendut. Tae Ho mulai hilang kesadaran dan salah satu teman si gendut memukul punggungnya dengan tongkat sampai terjatuh dan tidak hanya itu, ia juga memukul kepala Tae Ho sampai Tae Ho kehilangan keseimbangan dan terjatuh dari atap. Tae Ho sempat berpegangan di pinggir atap dan bertahan di sana.


Presiden Jung datang dan mencengkeram jaket Tae Ho. "Apa Heung Sam yang mengirimmu untuk membunuhku?", tanyanya. Tae Ho tidak mengatakan yang sebenarnya. Presiden Jung tertawa, menawarkan apakah Tae Ho mau bermain kartu lagi? King atau Joker? Jika Tae Ho memilih King maka tae Ho akan hidup. Sebaliknya jika Tae Ho memilih joker, maka ia akan mati.

Tae Ho tertawa sinis. "Dasar Bajingan! Tidak. Aku akan memilih takdirku sendiri". Dan Tae Ho pun melepaskan tangannya dari pinggiran atap dan jatuh ke tumpukan kardus yang ada di bawahnya. Dan kebetulan Mandor Oh ada di dekat sana dan melihat Tae Ho. Presiden Jung yang melihat dari atas, cepat-cepat menyuruh anak buahnya untuk mengejar Tae Ho yang masih hidup.


Mandor Oh menolong Tae Ho dan menaikkannya ke motor milik seorang pengantar paket yang kebetulan terparkir di san. Untungnya mereka berhasil pergi tepat saat anak buah Presiden Jung tiba.


Di dalam tempat pijat, Presiden Jung memarahi anak buahnya seperti cacing kepanasan. Mereka banyak tapi tidak mampu menangkap satu orang saja. Apa mereka membohonginya, berpura-pura ahli tae kwon do? Presiden Jung memerintahkan mereka untuk mencari Tae Ho ke semua tempat. Ia sangat yakin Heung Sam lah yang mengirim Tae Ho. Si gendut meminta maaf, ia berjanji akan menemukan Tae Ho.

Presiden Jung berkata ia membutuhkan orang idiot selain mereka. Ia memerintahkan mereka untuk menghubungi orang lebih banyak lagi. "Mulai sekarang perang! Perang!", marahnya.

Sementara itu Heung Sam menunggu dengan gelisah kabar dari Tae Ho. Mantis melaporkan bahwa terjadi masalah besar. Heung Sam menanyakan kabar Tae Ho. Mantis berkata ia sudah mencari ke semua tempat yang mungkin didatangi Tae Ho, tapi tidak ada. Heung Sam memerintahkan Mantis untuk mengumpulkan semua orang.


Sergeant Bae datang ke Stasiun Seoul dan memanggil semua orang untuk ikut dengannya. Hae Jin dan Young Chil beringsut di balik tiang stasiun yang besar, menghindari Sergeant Bae. Untungnya, Sergeant Bae tidak menemukan mereka. Young Chil mengatakan bahwa sepertinya mereka akan melawan rentenir. "Kata siapa?", tanya Hae Jin.

"Rumor sudah menyebar. Ada yang mengatakan ini gara-gara Tae Ho. Aku tidak melihatnya akhir-akhir ini. Kau tau kabarnya?". Hae Jin terdiam lalu sesaat kemudian menjawab tidak. Tiba-tiba terdengar suara getaran ponsel. Young Chil heran melihat Hae Jin bisa punya ponsel, ia berniat akan mengambil ponsel itu tapi Hae Jin membentak karena Young Chil itu banyak tanya. Ia berkata Young Chil tidak perlu tau. Lalu ia mengusir Young Chil pergi. Young Chil masih belum beranjak. Hae Jin membentaknya sekali lagi, menyuruh Young Chil pergi.

Setelah Young Chil agak jauh, Hae Jin baru mengangkat telponnya. Sepertinya Mantis bertanya dimana keberadaan Tae Ho. Hae Jin berkata ia juga tidak tau. Ia tidak berbohong karena ia benar-benar tidak tau. Ia berjanji akan mencari Tae Ho secepat mungkin. Hae Jin sempat ingin bertanya tentang keadaan Stasiun Seoul yang kacau karena Tae Ho. Tapi belum selesai ia bicara, Mantis sudah menutup telponnya. Hae Jin kesal sekali.


Mandor Oh membawa Tae Ho ke tempat tinggalnya, di sebuah gedung yang belum selesai. Ia memberitahukan Tae Ho bahwa para pekerja tidak akan bekerj selama tiga bulan. Jadi tidak ada yang akan tau keberadaan Tae Ho di sana.

Mandor Oh membaringkan Tae Ho di tempat tidurnya. Ia merasa bersalah karena sama sekali tidak tau Tae Ho lah yang membantunya mengobati lututnya. Dan malah ia mencari Tae Ho lagi untuk berduel. Ia meminta maaf pada Tae Ho.

"Tidak apa", sahut Tae Ho, terengah-engah menahan sakit.

Mandor Oh bingung melihat luka Tae Ho yang parah. Ia merasa Tae Ho harus ke rumah sakit. Tapi Tae Ho tidak mau. Ia tidak bisa ke rumah sakit atau tempat yang lainnya. Mandor Oh terlihat panik, tidak tau apa yang harus dilakukannya.

Sementara itu, anak buahnya Heung Sam dipimpin oleh Crocodile, menyisir klinik tempat biasanya para gelandangan berobat. Mereka memeriksa satu persatu pasien yang sakit dan masuk ke semua ruang, tapi tidak menemukan Tae Ho. Na Ra keluar dan memarahi Crocodile yang membuat keributan di dalam klinik. Crocodile tidak peduli, ia hanya mencari Jang Tae Ho. "Mereka bilang ia tertusuk, jadi ia pasti kemari, bukan?".


Wajah Na Ra sedikit berubah. "Aku tidak tau".

Crocodile mendekat ke wajah Na Ra dan bertanya, "Benar-benar tidak tahu?".

"Berhenti membuang nafasmu di wajahku dan pergi dari sini atau aku akan panggil polisi", ancam Na Ra. Tapi Crocodile malah tertawa sinis dan berkata, "Nomornya 119, apa mau kubantu?". Untungnya perhatian Crocodile teralih karena anak buahnya datang memberitahukan bahwa kantor Heung Sam diserang. Mereka langsung berlari keluar dari klinik. Setelah mereka pergi, Na Ra baru bisa bernafas lega.


Heung Sam memeriksa kantornya yang sudah rusak. Poison Snake meminta maaf, ia tidak menyangka mereka akan menyerang kantor, ia berjaga di hotel karena berpikir Heung Sam ada di sana. Heung Sam tidak berkomentar, ia hanya menyuruh mereka membawa yang terluka ke rumah sakit.

Setelah yang terluka pergi, Heung Sam memerintahkan Mantis untuk menyerang grosir alkohol milik adik ipar Presiden Jung di Yongsan. Beberapa saat kemudian anak buah Heung Sam sudah berkumpul di depan gerbang grosir alkohol dengan potongan kayu di tangan mereka masing-masing, mereka berlari menuju gerbang, siap menyerang dan merusak grosir alkohol milik adik ipar Presiden Jung...

Bersambung...

[Sinopsis Last Episode 5]

No comments:

Powered by Blogger.