Sinopsis Descendants Of The Sun Episode 3 Part 2

[Sinopsis Descendants Of The Sun Episode 3 Part 1]

Sinopsis Descendants Of The Sun Episode 3 Part 2

Sinopsis Descendants Of The Sun Episode 3 Part 2
Credit : KBS2
Kdramastory - Shi Jin melaporkan pada atasannya, Byung Soo, tadi pagi mereka menemukan 1 korban tewas dan satu lagi terluka yang merupakan anggota penjualan senjata di pasar gelap dan mereka sudah menyerahkan pada polisi setempat.

Byung Soo sepertinya terlihat tidak begitu senang. Ia sudah menerima laporannya dan berpikir mereka bukan kelompok yang bisa dianggap enteng. Ia tahu Shi Jin dan pasukannya tidak takut apa pun tapi mereka tidak tahu seberapa besar koneksi yang dimiliki oleh kelompok itu.


Sementara itu, polisi yang tadi menerima pelaku malah menyerahkan kembali pelaku itu pada bosnya yang bernama Agus beserta dengan alat bukti, bebeberapa kotak senjata api ilegal. Ia mengingatkan Agus untuk tidak berpura-pura menjadi staf UN lagi untuk bisa menyeberangi perbatasan karena mereka sudah ketahuan oleh pasukan Korea yang menjaga perbatasan.

Agus mengambil pistol dan mengarahkan pada polisi itu dan mengatakan ia setuju untuk melakukan penukaran. Si polisi itu membuka borgol pelaku dan mendorong si pelaku ke arah Agus.

Agus mengatakan ia punya koneksi yang lebih tinggi lagi. Lalu ia memperlihatkan segulung uang dolar dan melemparkan pada polisi itu. Polisi itu langsung memungutnya dan tanpa disadari, Agus mengarahkan pistol kembali dan langsung menembaknya.

"Selamat. Kau baru saja mendapatkan promosi...", ucap Agus pada polisi yang lebih muda.

Polisi muda itu kaget. Agus berpesan, "Jangan lupa hadiahmu...". Terlihat gulungan uang dolar di dekat genangan darah yang pekat.

---

Kembali pada Shi Jin dan Byung Soo. Menurut Byung Soo, kelompok itu adalah penyeludup senjata api dan sebutan mereka adalah 'Pedagang Kematian'. Jadi yang terbaik yang bisa dilakukan Shi Jin adalah menjauhi mereka.

Melihat Shi Jin tidak merespon, Byun Soo mendekati Shi Jin, mengatakan kalau tugas mereka di sana hampir selesai dan saat mereka pulang ke Korea mereka akan dipromosikan. Jadi ia meminta Shi Jin memahami maksudnya, yaitu tidak mencari masalah.

Shi Jin tersenyum tipis dan merespon perintah Byung Soo. Lalu Byung Soo menyuruh Shi Jin memberi laporan yang lebih detail.

Lalu Byung Soo juga menitipkan surat tugas Dae Young. Berdasarkan perintah dari Komandan Pasukan Khusus, Sersan Mayor Seo Dae Young akan ditransfer ke Pasukan Khusus secepatnya.

---


Dae Young mendapatkan surat itu dari anak buahnya. Wajahnya langsung berubah sedih.

=== Flashback ===

Saat para tentara yang baru saja selesai training sedang makan, Letjen Yoon sengaja datang ke ruangan makan. Ia menyuruh semuanya makan dengan santai dan tidak perlu memperdulikannya. Letjen Yoon menarik kursi di depan Dae Young dan seorang anak buahnya meletakkan nampan makanan di depan Letjen Yoon.

Letjen Yoon membuka topinya dan meletakkannya di atas meja. Tepat di depan topi Dae Young. Terlihat bintang tiga di topi Letjen Yoon sedangkan di topi Dae Young, tidak ada apa-apa.

Letjen Yoon mulai makan, sementara Dae Young duduk diam mematung, sama sekali tidak menyentuh makanannya.


Setelah semuanya selesai makan dan hanya tinggal Dae Young dan Letjen Yoon di ruang makan, Letjen Yoon baru membuka suara. "Staf Sersan Seo Dae Young. Kudengar kau... pacaran dengan putriku"

"Ya, benar, Pak", jawab Dae Young dengan pelan.

"Aku khawatir tentang masa depan putriku. Jadi, aku harap kau juga memikirkan tentang masa depannya. Aku yakin, kau mengerti apa maksudku. Ini adalah cara paling bijaksana".

"Apa ini perintah?".

Letjen Yoon berharap permintaannya itu tidak akan berubah menjadi sebuah perintah, tapi jika memang ia merasa perlu membuatnya menjadi perintah, maka ia akan melakukannya. Ia mengatakan kehormatan mereka berdua ada di tangan Dae Young.

Dae Young terdiam.

=== Flashback End ===

Dae Young mengemasi barang-barangnya dan menemukan surat Myeong Ju. Ia membaca kembali surat Myeong Ju dan wajahnya kembali keruh.


Dalam perjalanan pulang, Shi Jin menanyakan apakah Mo Yeon berhasil mengirimkan uangnya. Mo Yeon mengiyakan dan mengucapkan terima kasih pada Shi Jin. Ia melihat Shi Jin yang tidak begitu cerita dan bertanya apa ada sesuatu yang terjadi.

"Rekanku diperintahkan kembali ke Korea... Sheriff..."

"Busagwan?".

"Kau sudah belajar juga rupanya ya?".

Mo Yeon tersenyum. Mo Yeon ingin tahu apakah Shi Jin merasa cemburu karena rekannya pulang lebih dulu atau merasa sedih karena ditinggalkan. Shi Jin mengatakan ia hanya kesal karena perintah itu tidak adil.

Mo Yeon tidak mengerti maksud Shi Jin, bukannya tentara itu tugasnya mengikuti perintah. "Tapi perintah ini bukan diberikan oleh seorang Komandan tapi oleh seorang ayah...", ucap Shi Jin.

Mo Yeon langsung bisa menebak arah pembicaraan Shi Jin. Ia merasa ini tentang melodrama ayah Myeong Ju. Ia penasaran dan ingin tahu bagaimana Myeong Ju dan Dae Young pertama kali bertemu.


Shi Jin bercerita saat itu mereka diperintahkan untuk berjalan sejauh 1 mil dan waktu itu Letnan Yoon adalah dokter bedah di tim medis. Myeong Ju melihat Dae Young sudah bolak balik tiga kali dan membantu teman-temannya yang kesulitan, ia bahkan memanggul ransel temannya itu.

=== Flashback ===

Melihat keadaan itu, Myeong Ju mendekati Dae Young dan meminta Dae Young melepas sepatunya. Ia tidak ingin Dae Young memaksakan diri dan tidak mempedulikan kakinya yang cedera. Namun Dae Young mengatakan ia tidak akan menyerah meskipin nanti kakinya cedera.

Melihat kekeraskepalaan Dae Young, saat Myeong Ju berkata, "Aku harap kau semangat begini bukan hanya untuk mendapat izin liburan agar kau bisa menghalangi pernikahan mantanmu. Aku benar, 'kan?"

Dan Dae Young menjawab, ya, kau memang benar. Myeong Ju kaget sendiri karena tebakannya itu ternyata benar.

=== Flashback End ===

Shi Jin dan Mo Yeon sampai di pantai. Mo Yeon tidak mengerti kenapa mereka malah berhenti di pantai. Shi Jin beralasan mereka ke sana karena saat mereka sibuk nanti mereka tidak akan bisa pergi lagi.

"Bukannya tempatnya jauh?", tanya Mo Yeon.

"Ya, karena tempatnya jauhlah... Aku ingin lebih lama bersamamu. Ikut aku", ajak Shi Jin.

Mo Yeon masih belum bergerak. Shi Jin mengatakan kalau Dae Young berhasil pergi ke pernikahan mantannya itu bersama Myeong Ju. Dan jika Mo Yeon ingin tahu cerita selanjutnya, ia menyuruh Mo Yeon mengikutinya.


=== Flashback ===

Dae Young yang sudah bebas dari tugas masuk ke dalam mobilnya, sesaat kemudian Myeong Ju juga masuk ke dalam mobil dan duduk di barisan kursi belakang. Dae Young menatap Myeong Ju tidak mengerti dan bertanya apa yang terjadi.

"Selamat atas kesempatanmu untuk merusak pernikahanmu mantanmu itu. Dan kebetulan aku sedang tidak bertugas hari ini. Kau pasti merasa beruntung, 'kan?", ucap Myeong Ju.

Dae Young masih tidak menegrti dan mengulang pertanyaan, "Aku tanya, untuk apa kau ke sini? Apa pertanyaanku terlalu sulit, Letnan Yoon Myeong Ju?"

Myeong Ju merasa jawabannya yang tidak dimengerti oleh Dae Young. Maksudnya, jika Dae Young datang sendiri dan merusak pernikahannya, wanita itu malah akan senang telah memutuskan Dae Young tapi jika Dae Young datang bersamanya, makan wanita itu akan menyesal sepanjang malam.

Dae Young tertarik dengan ide Myeong Ju. Myeong Ju bersedia melakukannya untuk Dae Young tapi dengan satu syarat. "Sekarang tolong miringkan cerminnya..."

Myeong Ju membuka seragamnya dan mengganti bajunya di dalam mobil Dae Young.

=== Flashbacak End ===

"Sudah kuduga. Dia memang ahli merusak hubungan orang lain...", komentar Mo Yeon. Mo Yeon ingin tahu apa syarat yang diajukan oleh Myeong Ju.

Sambil tersenyum, Shi Jin mengatakan disitulah ia mulai masuk.

=== Flashback ===

Myeong Ju sudah berganti baju dan mengatakan pria yang disukai ayahnya dan akan menjadi pasangannya adalah seorang calon komandan dan seniornya saat di Akademi Militer Korea. "Kalau tidak salah namanya Yoo Si Jin".

Dae Young memberitahukan kalau Shi Jin sudah datang ke sana sejak dua hari yang lalu. "Dia cepat juga ya...", komentar Myeon Ju dan pindah ke kursi depan.

Myeong Ju meminta Dae Young memberitahukan Shi Jin kalau ia adalah pacar Dae Young. Dae Young tidak mengerti kenapa Myeong Ju tidak menyukai Shi Jin. "Aku tak suka penampilannya. Penampilannya terlalu dandy (bergaya)...", ujar Myeong Ju.

"Kau mau bekerja sama?", tanya Myeong Ju.

"Aku mau bekerja sama. Aku suka alasanmu itu", sahut Dae Young.

Lalu Myeong Ju menanyakan pendapat Dae Young tentang baju perangnya, ia suka dengan baju putih. Ia pikir kalau ia menguraikan rambut dan memakai high heel, ia akan terlihat lebih mempesona. "Aku akan lebih cantik dari pengantin wanitanya", ucap Myeong Ju.

Dae Young menatap Myeong Ju yang sibuk mengurai rambutnya. Dae Young berpikir, konsep baju Myeong Ju hari ini adalah hantu.

Myeong Ju merengut, tapi sesaat kemudian ia kembali ceria dan mengatakan kalau konsep bajunya adalah malaikat. Myeong Ju bahkan menggerakkan kedua tangannya. Tapi karena Dae Young hanya menatapnya dengan aneh, Myeong Ju langsung menghentikan gerakannya dan mengajak Dae Young berangkat.

=== Flashback End ===

"Jadi, pria yang disukai ayah Myeong Ju... adalah kau?", tanya Mo Yeon. Shi Jin membenarkan dan kemudian memberikan uang pada pemilik kapal dan naik ke atas kapal.

Shi Jin mengulurkan tangannya pada Mo Yeon, tapi Mo Yeon ternyata masih penasaran dengan cerita Shi Jin tadi, terutama tentang ayah Myeong Ju yang menyukai Shji Jin. "Tunggu sebentar. Jadi Myeong Ju, Sersan Mayor Seo dan terlibat cinta segitiga?"

Shi Jin membenarkan lagi dan mengulurkan tangannya lagi pada Mo Yeon. Tapi Mo Yeon masih bertanya tentang cinta segitiga itu. "Sampai sekarang masih?". Shi Jin lagi-lagi membenarkan.

Mo Yeon ingin tahu apa yang Shi Jin pikirkan sekarang. Shi Jin tidak menjawab dan balik bertanya kenapa Mo Yeon menanyakan hal itu, bukannya Mo Yeon tidak tertarik padanya.


Shi Jin berhasil menarik Mo Yeon ke atas kapal. Dan mereka jadi berdekatan. Dengan nada marah, Mo Yeon mengatakan kalau ia bertanya tanpa alasan apa apa dan tidak peduli dengan pikiran Shi Jin.

Melihat Mo Yeon marah, Shi Jin malah menggoda Mo Yeon, mendekatkan wajahnya ke Mo Yeon dan menatap Mo Yeon. "Tapi sepertinyanya kau penasaran...". Shi Jin menarik Mo Yeon dan mendudukkannya di bagian belakang kapal. Sebelum berangkat, Shi Jin berpesan agar Mo Yeon pegangan erat-erat karena kalau tidak Mo Yeon akan terbang dari perahu.

Shi Jin menyalakan mesin kapal dan mereka pun berangkat. Wuihhh... pemandangannya keren. Joong Ki juga keren bisa bawa kapal sendiri... :-)

---


Setelah perjalanan beberapa saat, mereka tiba di sebuah teluk kecil yang terdapat bangkai kapal tua di sana. Setelah menambatkan kapalnya, Shi Jin mengulurkan tangannnya pada Mo Yeon.

Tapi Mo Yeon tidak menyambut uluran tangan Shi Jin dan memilih turun sendiri. Mo Yeon mendekati bangkai kapal dan menatap pemandangan yang indah yang ada di depannya. Ia merasa tempat itu pasti sangat jarang dikunjungi dan penasaran bagaimana kapal itu bisa ada di sana.

Shi Jin menatap Mo Yeon dan mengatakan kalau mereka bisa kembali ke sana lagi. Shi Jin mengambil satu batu kecil dan menceritakan penduduk di sana percaya bahwa mereka akan bisa kembali lagi ke sana jika mereka membawa pulang satu batu dari sana.

Shi Jin memberikan batu itu pada Mo Yeon dan Mo Yeon menerimanya.

Mo Yeon tidak percaya dengan ceritanya Shi Jin itu. Ia merasa Shi Jin pasti berbohong karena jika semua orang melakukan seperti yang diceritakan Shi Jin, pasti sudah tidak ada lagi batu yang tersisi di sana.

Shi Jin menduga, orang yang kembali ke pantai itu pasti meletakkan kembali batu yang sudah mereka ambil. "O... Begitu, ya. Cerita yang indah... Dan bangkai kapal ini juga mengagumkan...", ucap Mo Yeon.

Mo Yeon bertanya apa ia boleh melihat-lihat ke sana. Shi Jin menganggukkan kepalanya.

Mo Yeon masuk ke dalam bangkai kapal dan Shi Jin mengikutinya di belakang. Mo Yeon ingin tahu kenapa kapal itu bisa ada di sana. "Kapal ini sudah terkena shir. Sesuatu yang terkena sihir akan berakhir menjadi sesuatu yang indah...", ucap Shi Jin.

"Apa kau pernah terkena sihir?", tanya Mo Yeon.

"Ya". Shi Jin menatap Mo Yeon. "Kau juga tahu itu...". Mereka terdiam beberapa saat. Lalu Shi Jin mengatakan kalau diingat-ingat, Mo Yeon belum memberi jawaban atas pertanyaan. "Bagaimana kabarmu? Apa kau... masih tetap seksi saat berada di ruang operasi?", tanyanya.

Mo Yeon mengatakan kalau sepertinya Shi Jin sudah salah, ia datang ke sana tidak sepenuh hatinya menjadi seorang relawan medis. Ia berakhir di sana hanya karena seseorang yang memiliki kekuasaan membuangnya ke sana. Dan ia juga tidak pernah melakukan operasi lagi dan pengalaman operasi tidak lagi menjadi bagian dari resumenya.

"Aku akan segera kembali, dan jika aku sudah kembali, aku akan berusaha keras untuk meraih kembali tempatku. Aku adalah wanita yang sibuk", ucap Mo Yeon lagi.

"Begitu ya..". Hanya itu tanggapan Shi Jin. Wajah Shi Jin berubah menjadi sedih. Mo Yeon memainkan batu yang diberikan Shi Jin ditangannya. Terlihat bato-batu yang disusun di pinggir kapal dengan rapi.

---


Sang Hyun membuatkan masakan khas korea yang dicampur-campur, bibimbap, untuk semua tim medis, minus Mo Yeon. Ia mencicipi masakannya dan memuji kalau rasanya sudah sempurna. Ia menyuruh semuanya untuk mengangkat sendok mereka dan bersiap untuk makan.

Namun sebelum semuanya mulai, Chi Hoon malah menyuruh semuanya berhenti. Karena ia akan mengambil bagiannya sendiri dan menaruhnya di piring. Chi Hoon bahkan juga mengambil telurnya.

Sang Hyun langsung protes karena Chi Hoon mengambil kuning telurnya untuk dirinya sendiri. Sang Hyun mengambil kembali kuning telurnya dan memasukkan semuanya ke mulutnya.

Chi Hoon kesal karena Sang Hyun memakai sendok Sang Hyun pada makanannya. Chi Hoon meletakkan kembali sendoknya dan memutuskan untuk tidak jadi makan.

Chi Hoon menceritakan kejadian itu pada calon istrinya melalui telpon. Sedang asik-asiknya menelpon, Chi Hoon dikejutkan dengan seorang anak kecil yang tiba-tiba menyentuhnya.

Chi Hoon melihat baju putihnya dan ternyata kotor karena terkena tangan anak kecil itu. Anak kecil itu mengisap jempolnya dan tangan yang satunya lagi menjulur ke arah Chi Hoon. Dalam bahasanya, ia meminta Chi Hoon memberinya makan karena ia mendengar di sana ia bisa mendapatkan makanan.

Chi Hoon yang tidak mengerti bahasa anak kecil itu, berbicara dalam bahasa inggris, mengatakan kalau anak itu tidak boleh sembarangan menyentuh baju orang lain dengan tangannya yang kotor.

Namun tiba-tiba anak itu muntah dan jatuh pingsan. Chi Hoon melihat mata anak itu dengan senter kecilnya dan segera membawa anak itu ke medicube. Pada saat yang bersamaan, kebetulan Shi Jin dan Mo Yeon baru tiba di camp.

---


Mo Yeon memeriksa anak itu. Chi Hoon merasa anak itu sepertinya kekurangan gizi jadi ia memberikan infus. Mo Yeon melihat nafas anak itu terlihat normal dan sepertinya juga bukan pnemonia. Namun ia merasa gejala yang dialami anak itu terlalu berbahaya jika hanya dikarenakan gizi buruk. "Dia mengalami nyeri di antara ulu hati dan perutnya", ujar Mo Yeon.

"Apa mungkin dia keracunan timah hitam?", tanya Shi Jin. Chi Hoon mengatakan keracunan timah hitam tidak akan muncul secepat itu.

Mo Yeon teringat saat ia melihat anak kecil yang menggigiti/menjilati besi. Mo Yeon berpikir kemungkinan anak itu menjilati sesuatu. Chi Hoon mengatakan anak itu memang menjilati jarinya saat meminta sesuatu padanya, tapi ia tidak mengerti bahasanya.

Mo Yeon memutuskan untuk mendetoksifikasi anak itu dan menyuruh Chi Hoon memberikan infus dengan beberapa nutrisi dan vitamin C dan juga EDTA.

"Apa dia menderita keracunan timah hitam?", tanya Chi Hoon pada Mo Yeon.

Mo Yeon mengatakan kalau anak itu menderita anemia karena kurang gizi. Saat racun memasuki tubuhnya, sel darah merah menyerap racun tersebut karena menganggap racin tersebut adalah nutrisi. "Karena sebab itulah racun cepat menyebar dan gejalanya menjadi akut".

Chi Hoon memuji Shi Jin yang hebat karena bisa menebak dengan tepat dan kemudian pergi mengambil obat.

Setelah tinggal berdua, Shi Jin meminta Mo Yeon untuk memanggilnya jika anak itu sadar karena ia bisa bahasa mereka sedikit. Namun dengan halus Mo Yeon menolaknya. Ia mengucapkan terima kasih atas bantuan Shi Jin dan mulai sekarang tim medis yang akan mengurus anak itu.

Shi Jin terlihat agak marah dengan sikap Mo Yeon. Ia merasa Mo Yeon hanya mau mengucapkan terima kasih jika memang merasa dibantu. Mo Yeon tidak mengerti maksud ucapan Shi Jin.

"Kau bilang hidup itu berharga dan tidak ada yang lebih berharga daripada kehidupan. Aku hanya merasa, kau sudah berubah sekarang. Bukan lagi orang yang kukenal dulu...".

Mo Yeon beralasan karena kasus anemia karena kekurangan gizi dan keracunan timah hitam sangat jarang ditemukan di Korea. Tapi Shi Jin mengatakan kalau kasus keracunan itu sudah biasa terjadi seperti flu biasa yang terjadi di Korea. Menurutnya akan lebih baik jika dokter dengan pengalaman terbaik yang datang ke sini.

"Tentu saja. Tapi sayangnya tidak semua dokter didunia ini yang sama seperti Albert Schweitzer...", ucap Mo Yeon.

"Iya memang. Dan ada beberapa dokter hanya muncul di TV saja...", ucap Shi Jin. Kemudian Shi Jin pamit pergi.

---

Saat kembali ke asrama, terdengar bunyi alarm. Dae Young memberitahukan Shi Jin FPCON level 2 telah diarahkan ke semua area tim medias. [FPCON = Sistem Keadaan Siaga]

Para prajurit sudah siap dengan pakaian tempur mereka dan mengambil senjata masing-masing. Mereka berlari keluar dari asrama dan berjaga di sekitar medicube.

Tim medis sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi.


Shi Jin berbicara dengan markas utama. Markas utama memberi perintah supaya semua tim medis harus berkumpul dan area yang harus dilindungi adalah area Medicube. Mereka mengatakan seorang pasien VIP sedang dalam perjalanan menuju Medicube.

Seseorang mengatakan kalau nama pasien itu adalah Mubarat, Ketua Liga Arab yang sedang melakukan kunjungan tidak resmi ke Timur Tengah. "Dia adalah orang ketiga terpenting di dalam kelaurga kerajaan. Dia juga dikenal sebagai politisi terampil dan telah berhasil membuat perjanjian perdamaian antar agama dan negara. Dia adalah kandidat kuat untuk Hadiah Nobel Perdamaian, tapi ia juga merupakan target yang ingin dibunuh oleh musuh-musuhnya", lapor seorang asisten pada atasannya, Mungkin mereka pejabat di Korea atau mungkin juga seperti duta besar Korea di Urk.

Letjen Yoon juga mendapatkan laporan tentang keadaan darurat itu dan menelpon asistennya agar menyiapnya mobil karena ia akan ke Blue House.

---


Shi Jin memberikan catatan medis pasien VIP pada Mo Yeon. Suasana diantara mereka masih canggung karena mereka baru saja bertengkar. Mo Yeon menerima kertas itu dengan agak kasar dan kemudian membacanya.

Sang Hyuk dan yang lainnya juga ikut membaca. Mereka heran saat melihat banyak catatan yang sudah ditutupi dengan spidol hitam. Menurut Mo Yeon terlalu banyak catatan medis yang dipalsukan pada pasien VIP.

"Kenapa ada data palsu dalam catatan medis pasien?", tanya Sang Hyun tidak percaya.

"Siapa juga dokter gila yang berani melakukannya?", tukas Chi Hoon.

"Dokter sepertiku...", sahut Mo Yeon. Dan Shi Jin kaget mendengarnya. "Pasien yang miskin akan membutuhkan dokter seperti Albert Schweitzer, dan bagi pasien VIP akan membutuhkan dokter yang khusus. Bagi seorang VIP, catatan medis sama saja dengen kelemahan mereka. Karena itulah catatan seorang Presiden bersifat rahasia...", jelas Mo Yeon.

Dari kejauhan terdengar suara sirene yang mulai mendekat.

---


Markas utama terus menghubungi Shi Jin, menanyakan kondisi terkini. Shi Jin mengatakan semuanya baik-baik saja dan tim medis sedang memeriksanya. Byung Soo mengerti dan meminta Shi Jin untuk terus melapor karena Blue House juga mengetahui kejadian ini.

"Baik", sahut Shi Jin dan kemudian mengakhiri pembicaraannya.

Tim medis mulai menganalisa kondisi pasien dan menurut Sang Hyun, catatan medis, dikatakan pasien memiliki diabetes, jadi ia berpikir keadaan pasien memburuk karena masalah insulinnya.


Mo Yeon menyuruh anak buahnya memberikan obat tapi pengawal Mubarat mengatakan kalau Presiden memiliki obat sendiri yang sudah diresepkan oleh dokter pribadi. Ia memberikan satu botol kecil obat pada Mo Yeon.

Mo Yeon membaca nama obat, 'Nitro-glycerine'. Para staf medis tidak mengerti mengapa pasien membutuhkan obat vasorelaxation, ksrena obat itu memiliki efek samping pada insulin.

"Sudah kubilang jangan percaya pada catatan medisnya. Melihat dari gejalanya ini, dia tak menderita tekanan darah yang tinggi karena hipoglikemia akibat diabetes tapi karena kondisi jantungnya...", ucap Mo Yeon.

Mo Yeon menyuruh Ja Ae menyuntikkan obat itu ke infus pasien. Baru saja Ja Ae memasukkan obat, alat medis mulai berbunyi cepat. Mo Yeon dan yang lainnya mulai panik karena tekanan darah menurun dengan drastis.

Mo Yeon menekan perut pasien dan mengatakan pasien mengalami detensi abdomen. Markas menghubungi Shi Jin, bertanya bagaimana dengan kondisi Mubarat. Shi Jin mendekati Mo yeon dan bertanya bagaimana kondisinya.

"Bagaimana dengan kondisinya? Dia mengalami distensi abdomen dan tekanan darahnya menurun. Mungkinkah hemoperitoneum?", ucap Mo Yeon. Mo Yeon mengecek perut Mubarat sekali lagi dan ia yakin Mubarat mengalami hemoperitoneum (Pendarahan dalam rongga perut).

"Mereka menyembunyikan sesuatu. Kita harus membedahnya. Kami akan melakukan laparotomi. Siapkan ruang operasinya", perintah Mo Yeon pada anak buahnya.

Pengawal Mubarat berteriak, stop. Ia tidak bisa mengzinkan Mo Yeon mengoperasi Mubarat karena dokter pribadinya akan tiba dalam waktu 1 jam ke depan. Mo Yeon tidak mengerti maksud pengawal Mubarat, jika ia tidak mengoperasi sekarang juga, Mubarat bahkan tidak akan mampu bertahan dalam 20 menit ke depan.

Pengawal Mubarat berkeras hanya dokter arab yang boleh mengoperasi Mubarat. Mo Yeon berusaha berdebat tapi pengawal Mubarat mengambil senjatanya dan mengarahkan pada Mo Yeon.

Para prajurit langsung siap mengangkat senjata mereka. Shi Jin merentangkan tangannya, menahan anak buahnya dan menggenggam pistolnya sendiri. Mo Yeon menyuruh semua orang mundur. Ia mengerti keinginan pengawal Mubarat dan ia tidak punya keinginan untuk mengubah sejarah. "Tapi begitu aku mengangkat tanganku, dia akan mati", ucap Mo Yeon.


Komando utama kembali menghubungi Shi Jin. Mereka mengingatkan Shi Jin bahwa hidup Mubarat bukanlah hal penting, tapi yang paling penting adalah siapa yang bertanggung jawab atas insiden itu nanti. Ia menyuruh Shi Jin membiarkan orang arab yang memutuskan dan jika memang Mubarat meninggal, mereka bisa melemparkan tanggung jawab pada dokter yang tidak mau mengoperasinya.

"Kita, para tentara tidak akan bertanggung jawab atas insiden ini. Ini perintah!", pesan Komando utama lagi.

Shi Jin menatap Dae Young dan menganggukkan kepalanya. Lalu ia bertanya pada Mo Yeon, apakah Mo Yeon bisa menyelamatkan Mubarat. Mo Yeon agak ragu, ia mengatakan ia baru tahu setelah membedahnya. "Tapi sepertinya ia punya..."

Tapi Shi Jin tidak mau mendengar penjelasan kedokteran lagi, ia hanya ingin mendengar jawaban, apakah Mo Yeon bisa menyelamatkan Mubarat atau tidak.

Komando Utama kembali masuk dan bertanya apa yang dilakukan Shi Jin.

Shi Jin kembali meminta jawaban Mo Yeon. Dan akhirnya, Mo Yeon menjawab, "Aku bisa menyelamatkannya...".


Shi Jin menurunkan pistolnya dan membuka penutup radionya. Ia mematikan volume radionya dan melepas earsetnya. "Kalau begitu, selamatkan dia...", ucap Shi Jin cepat dan langsung menodongkan pistolnya pada pengawal Mubarat...

Bersambung...

Komentar :

Drama ini makin keren. Lucu baca komentar seseorang di soompi yang mengatakan kalau gara-gara drama ini, ia tiba-tiba ingin punya pacar tentara. Hehe... Tentara memang keren yah, tapi mungkin cuma di film atau drama kali ya... Dulu waktu jaman masih smp - sma, sy jg merasa tentara itu keren. Tapi sekarang ga lagi... Kalo diliat kenyataan, muak juga liat arogansi mereka... :-) Walaupun ga semua ya...

Back to drama, suka dengan episode ini. Shi Jin sangat suka menggoda Mo Yeon yang gampang marah dan ngambek... Hihi... Sy rasa ini memang pesonanya Shi Jin untuk bisa menarik hati Mo Yeon.

Suka juga dengan hubungan Dae Young dan Myeong Ju. Dae Young mencintai Myeong Ju tapi keadaan memaksa di mundur, Bahkan saat Myeong Ju pergi ke Urk. ayah Myeong Ju malah mengeluarkan surat perintah memulangkan Dae Young... Kasihan Dae Young...

Oke, next, episode 4 di mbak Dyah Dee Dee yang di Korean Drama Addicted... Gomawo...

[Sinopsis Descendants Of The Sun Episode 4 Part 1]

Note : All images credit to KBS2

No comments:

Powered by Blogger.