Sinopsis Orange Marmalade Episode 7 Part 2

[Sinopsis Orange Marmalade Episode 7 Part 1]

Sinopsis Orange Marmalade Episode 7 Part 2

Sinopsis Orange Marmalade Episode 7 Part 2
Credit : KBS2
Kdramastory - Di rumahnya, Ma Ri tidak bisa tidur. Ia mengingat ucapan Jae Min yang mengatakan bahwa tidak akan menikah dan akan pergi. Lalu ia juga mengingat pesan yang disampaikan oleh kakek tua dari Jae Min yang memintanya untuk datang ke hutan karena ada sesuatu yang ingin ia sampaikan sebelum ia pergi.

--


Karena hujan, Lady Yangpyong dan Jae Hee berteduh di bawah tebing gua. Jae Hee melirik ke samping, melihat punggung tangan pelayan itu terluka dan ada sedikit noda darah. Instingnya sempat terpengaruh, tapi cepat-cepat ia tersadar, dan kemudian bertanya kenapa tangan Lady Yangpyong. Lady Yangpyong tersenyum dan hanya menjawab tangannya terkena akar pohon. Lalu Jae Hee mengambil kain yang mengikat rambutnya dan membalutkan luka di punggung tangan wanita itu.

Lady Yangpyong itu memandang Jae Hee ketika ia membalutkan luka di tangannya. Tiba-tiba Jae Hee mengejutkannya dengan bertanya siapa yang dicari oleh wanita itu di tengah hutan seperti ini. "Apa mungkin pemilik belati itu?"

Lady Yangpyong itu tersenyum. Ia berkata Tuan mudanya selalu membawa belati ini kemana pun ia pergi. "Ia meninggalkan belati ini di depan pintu kamarku".

"Tuan Muda?"

"Aku seorang pengasuh", jawab Lady Yangpyong. Ia sudah mengasuh Jae Min sejak ibu Jae Min meninggal di usia Jae Min 3 tahun. "Aku sudah lebih sepuluh tahun mengasuhnya. Ia sudah seperti anakku sendiri. Ia adalah hidupku". Wanita itu tersenyum, ia tahu sebagai pelayan ia tidak boleh memiliki perasaan seperti itu, dan ia bisa mendapat dihukum karena memiliki perasaan seperti itu. "Tapi di dalam hatiku, ia adalah segalanya dalam hidupku", ucap Lady Yangpyong lagi.

Karena Jae Hee hanya diam saja tidak mengatakan apa pun, Lady Yangpyong tersenyum, merasa malu karena dari tadi ia mengoceh tidak karuan.

Lalu Jae Hee bertanya apa benar Lady Yangpyong menganggap tuan mudanya seperti hidupnya sendiri dan mampu menyerah hidupnya demi tuan mudanya itu. Tidak diperlihatkan lagi jawaban Lady Yangpyong. Scene beralih pada Jae Min.

--

Sementara itu Jae Min masih berdiri di tempat yang sama, menunggu Ma Ri di bawah hujan.

Ma Ri masih duduk melamun di kamarnya. "Ma Ri, kau masih belum tidur?", terdengar suara kakek dari luar kamar Ma Ri.

"Joong Yi?"

Joong Yi berkata bahwa Jae Min memiliki suara yang bagus. Suara Jae Min seperti menunjukkan bahwa ia adalah orang yang kuat dan memiliki hati yang dalam, menurutnya Jae Min membawa tatapannya di dalam suranya, tatapan seorang pria yang baik.

Ma Ri membuka pintu kamarnya, ia melihat Joong Yi meninggalkan baju jerami di teras depan kamarnya. Akhirnya Ma Ri memutuskan untuk pergi menemui Jae Min. Ia memakai baju jerami itu untuk melindungi dirinya dari air hujan dan berlari ke arah hutan. Ma Ri tersandung batu, dan terjatuh. Ia melepaskan baju jerami itu untuk mempercepat larinya.

Sampai di tempat biasa ia bertemu dengan Jae Min, Jae Min sudah tidak ada lagi di sana. Ma Ri tertunduk, menangis sedih karena Jae Min sudah pergi.


"Ma Ri-ya!", panggil Jae Min dari belakang. Perlahan Ma Ri berbalik dan berkata, "Jangan pergi...".

"Jangan pergi ke manapun", ucap Ma Ri lagi sambil menangis. Jae Min hampir menangis . dan menarik Ma Ri ke dalam pelukannya.

Hujan sudah berhenti. Lady Yangpyong berniat akan pergi, mencari Jae Min kembali. Jae Hee berinisiatif menawarkan bantuannya untuk mengantarkan kemana pun Lady Yangpyong akan pergi. "Berbahaya berjalan sendirian di dalam gelap".

Jae Min meminta Ma Ri membuka hadiah darinya. Ma Ri membuka kotak yang sudah Jae Min siapkan untuknya, isinya adalah sebuah pita rambut berwarna merah. Ma Ri tersenyum . Jae Min berkata ia berencana meninggalkan kotak itu di bawah pohon, tetapi ternyata Ma Ri datang. "Terima kasih", ucapnya.

"Seorang tukang daging tidak boleh memakai pita", ucap Ma Ri.

"Kau boleh memakainya... Jika kau menikah denganku". Ma Ri terkejut. Jae Min berkata ia sangat ingin melihat Ma Ri memakai pita hadiahnya itu.

Ma Ri tertegun, tidak yakin dengan ucapan Jae Min. Lalu Jae Min berkata ia menyadari bahwa semua yang ia miliki saat ini adalah pemberian ayahnya. Sampai saat ini, seperti itulah hidupnya. Tetapi mulai sekarang ia berjanji akan mulai menjalani hidupnya sendiri. Ia tidak akan lari dari hidupnya saat ini, tetapi ia akan berusaha menghadapi dan menjalaninya dengan kuat. Jadi ia meminta Ma Ri untuk tidak menjauh darinya lagi.

Ma Ri memandang Jae Min berkata di dalam hati mengapa Jae Min memberikan cinta yang begitu besar padanya.

Jae Min berjanji mulai hari ini, ia akan menciptakan masa depan untuk mereka berdua. Ia tidak akan meninggalkan Ma Ri hanya dalam ingatannya saja.

Ma Ri menjadi ragu. Ia merasa tidak berhak mendapatkan cinta Jae Min. Ma Ri berguman dalam hati, bagaimana jika Jae Min mengetahui ia adalah seorang vampir. "Tapi, aku bukan manusia...', ucap Ma Ri sedih.

"Kau manusia!", tegas Jae Min. Walaupun seluruh dunia memperlakukan Ma Ri seperti binatang karena ia adalah tukang daging, tetapi baginya tidak. Baginya Ma Ri adalah seorang manusia.

"Bukan itu maksudku", ucap Ma Ri, berusaha mencoba menjelaskan.

"Ma Ri-ya!", potong Jae Min. Jae Min mendekat, memegang kedua bahu Ma Ri. Jae Min meyakinkan Ma Ri bahwa ia adalah manusia, bukan orang rendahan, Ma Ri adalah orang yang paling berharga dan paling penting bagi dirinya. Lalu Jae Min memandang Ma Ri dan mendekatkan wajahnya. Mencium Ma Ri.

--


Lady Yangpyong mengatakan bahwa ia hanya akan menerima bantuan Jae Hee sampai di hutan Banchoon saja karena ia merasa Jae Min pasti ada di sekitar hutan itu. Ia meminta maaf karena sudah merepotkan Jae Hee.

"Tidak perlu mengkhawatirkan aku", sahut Jae Hee.

Tiba-tiba Lady Yangptong melihat Jae Min di kejauhan. Ia berlari sambil memanggil Jae Min. Jae Hee melihat pengasuh itu tanpa sadar menjatuhkan belati pemberian Jae Min. Ia mengambil belati itu.

Jae Min terkejut melihat Lady Yangpyong mencarinya sampai ke hutan. "Lady Yangpyong!". Melihat wajah Lady Yangpyong yang sangat mengkhawatirkannya, Jae Min meminta maaf. Lady YangPyong menganggukkan kepalanya. Ia mengajak Jae Min lekas pulang, kalau tidak Jae Min nanti akan sakit.

Jae Min bertanya mengapa Nyonya YangPyong ke hutan di tengah hujan seperti ini. Apakah ia sendirian saja?, tanya Jae Min khawatir.

Lady Yangpyong menenangkan Jae Min. Ia berkata ada seseorang yang lewat menemaninya. Lady Yangpyong menoleh kebelakang, tetapi ia tidak melihat Jae Hee di sana. Yang ada hanya lampion miliknya dan belati milik Jae Min yang diletakkan di atas tutup lampion.


Jae Min pulang bersama-sama Lady Yangpyong. Jae Min mengambil lampion dari tangan Lady Yangpyong. Lady Yangpyong meminta biar ia saja yang membawakan lampion. Jae Min menolak, ia saja yang akan menerangi jalan pulang.

Lady Yangpyong bertanya mengapa hari ini Jae Min berbicara dengan bahasa formal padanya.

Jae Min berkata hari ini ia hanya ingin keluar dari semua peraturan dan ingin menunjukan perasaannya pada Lady Yangpyong. Jae Min berhenti dan berbalik menghadap Lady Yangpyong. "Anda sudah menjadi ibu di hati saya sejak lama".

Lady Yangpyong terkejut sekaligus senang. Tetapi ia merasa ini kurang baik. Sebaiknya Jae Min tetap memperlakukannya sebagai pelayan. Jae Min tidak setuju. Seorang ibu bukan hanya ibu yang melahirkan saja. Lady Yangpyong sudah membesarkan dirinya dengan segala usahanya. Ia meminta maaf lagi atas kejadian hari ini. Ia berjanji ini tidak akan terulang lagi.

Lady Yangpyong tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Begitu pun dengan Jae Min. Ia tersenyum pada Lady Yangpyong dan kemudian melanjutkan kembali perjalanannya pulang ke rumah.

Terdengar narasi suara hati Jae Min yang mengatakan bahwa semua peraturan yang ada membuat dirinya tidak bisa mengekspesikan isi hatinya dengan bebas. Tetapi seorang gadis membuatku menyadari bahwa hatiku lebih penting daripada semua peraturan itu.

Dari kejauhan balik sebuah pohon, Jae Hee memperhatikan Lady Yangpyong.

Jae Hee kembali ke tempat pemimpin Wonsangu di Hwa Sa Won. Pemimpin klan Wongsangu mengambil sebuah kain panjang dan mengikatkannya di kepala Jae Hee.

-- Flashback. --

Seorang remaja laki-laki berlari ketakutan di kejar oleh seorang vampir wanita. Ia berhasil menggigit leher remaja itu, namun tidak membuat remaja itu mati. Ia hanya sekarat.

Wanita itu membawa remaja laki-laki itu ke Hwa Sa Won. Ia berkata saat ini tidak ada siapa pun di dunia ini yang dapat menolong anak itu. Jika anak itu berjanji mau melindunginya, maka ia pun berjanji akan melindungi anak itu.

Anak itu menganggukkan kepalanya lemah.

Lalu wanita itu mengambil pisau kecil dari balik bajunya dan mengiris uratnya sendiri, meminumkan darah vampir kepada anak itu.

-- Flashback end. --

Jae Hee terlihat bengong. Wanita itu memandang heran melihat sikap Jae Hee. Lalu ia bertanya apakah Jae Hee sudah melenyapkan Gagkhie.

"Ya. Begitu matahari terbit..."

--

Keesokan paginya, Shi Woo kembali ke gubuk itu bersama dengan pria bawahan ayah Jae Min. Dari luar ia terkejut melihat jendela yang semalam sudah ia tutup dengan kain hitam, sekarang terbuka dan dinding di dekat pintu masuk berlubang.

Ia berlari membuka pintu gubuk. Gakghie sudah tidak ada lagi, yang tinggal hanya rantai besi dan bekas hitam di tanah, dan juga asap yang mengepul.

Shi Woo dan pria itu kembali menghadap ayah Jae Min. Pria itu melaporkan temuannya. Karena Gakghie sudah terbakar oleh sinar matahari, ia tidak bisa menyelidiki identitasnya. Tapi ia yakin pria itu adalah vampir.

Ayah Jae Min melihat ke arah Shi Woo. Ia memutuskan menerima Shi Woo menjadi bagian dari operasi rahasia.

--


Malam harinya, beberapa orang pria termasuk Shi Woo berkumpul. Mereka berpakaian gelap dan menutup wajahnya dengan kain. Ayah Jae Min dan bawahannya itu datang memberi pengarahan. Bawahan ayah Jae Min berkata bahwa panah yang ada di depan mereka itu adalah panah perak yang akan dipakai untuk membunuh vampir. Lalu ayah Jae Min mengatakan bahwa mereka ia namakan sebagai Prajurit Darah Perak.

Sebuah pasukan khusus yang dibentuk secara rahasia. Ia yakin para anggota pasukan itu mengetahui maksud dari ucapannya itu. Itu artinya nama mereka tidak akan dicatat dimana pun. Jika mereka terbunuh dalam tugas mereka ini, keluarga mereka tidak akan diberitahukan ataupun mayat mereka tidak akan dikirimkan kembali kepada keluarga. "Jadi kalian, Prajurit Darah Perak, apakah kalian siap mengorbankan nyawa kalian untuk melindungi rakyat dan negara?".

"Ya, kami siap!".

--

Ma Ri sedang mencuci di sungai. Shi Woo memperhatikan Ma Ri dari jauh.


Shi Woo menunggu Ma Ri pulang di balik pohon. Ketika Ma Ri sudah dekat, ia keluar dari persembunyiannya dan berdiri di depan Ma Ri. Shi Woo tersenyum pada Ma Ri dan berkata ia ingin meminta sedikit bantuan dari Ma Ri. "Katakan padaku 'Semoga berhasil dalam'"

Ma Ri tidak mengerti, apakah terjadi sesuatu?

Shi Woo menggelengkan kepalanya. Ia hanya ingin Ma Ri mengatakan itu.

Ma Ri tersenyum dan berkata 'Semoga berhasil dalam perang'

Shi Woo tersenyum senang. "Gomapta". Lalu Shi Woo juga meminta agar ia bisa mendengar Ma Ri meniup serulingnya di saat mereka bertemu kembali di lain waktu. Ma Ri tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

--

Shi Woo membuka buku-buku yang ada di meja belajar Jae Min. Ia bertanya pada Jae Min yang baru masuk ke kamar, kenapa Jae Min membaca buku itu.

"Aku akan mengikuti ujian militer".

"Kau akan menjadi prajurit?"

"Ya".

Shi Woo tersenyum.

Bawahan ayah Jae Min melaporkan salah seorang tamu yang menginap di Mapo Inn. Ia adalah pemilik 30.000 dari 80.000 batang emas yang mereka temukan beberapa waktu yang lalu. Dan yang lebih mencurigakan adalah orang yang datang bersama tamu itu. Ada dua orang lagi yang datang bersamanya dan mereka adalah tangan kanannya. Mereka hanya aktif di malam hari untuk menjalankan bisnis mereka.

"Kirimkan prajurit darah perak!", perintah ayah Jae Min.

--

Malam harinya, ketika ketiga pria pulang ke penginapannya, mereka dihadang oleh prajurit darah perak. Beberapa orang keluar dari balik atap, bersiap dengan panah perak mereka.

"Siapa kalian?", tanya salah satu dari tiga orang itu.

Salah satu anggota pasukan menerangi bola kaca, ia tidak melihat bayangan ketiga orang itu di bola kaca itu. "Kalian vampir! Serang!!!", teriaknya. Dan ketiga orang itu langsung berubah menjadi vampir.

Terdengar narasi ayah Jae Min yang mengatakan bahwa operasi ini seperti melawan seekor harimau. Satu kesalahan saja akan membuat nyawa mereka melayang. Penyerangan harus dilakukan secara cepat. Vampir dapat menghalangi tembakan panah, jadi mereka harus menembakkan panah dalam jarak yang dekat.

Kenyataannya, memang beberapa anak panah bisa ditangkap oleh vampir. Mereka melemparkan kembali anak panah itu dan menancap di salah satu anggota pasukan. Salah satu vampir, si pemilik emas, berhasil melarikan diri. Shi Woo melihatnya. Ia mengejar vampir itu dan melepaskan anak panah. Berhasil. Vampir itu terjatuh ke tanah. Shi Woo berlari ke jalan, mendekati vampir yang terjatuh itu. Ternyata vampir itu masih bisa berdiri dan bersiap melompat, menyerang Shi Woo. Dengan cepat Shi Woo melepaskan panah lagi dari jarak yang lebih dekat dan membuat vampir itu terjatuh.


Begitu ia terjatuh, Shi Woo memasukkan bola perak kecil ke dalam mulutnya. Dan menarik kembali anak panak perak yang menancap di tubuh vampir tadi.

Begitu juga dengan dua vampir lainnya. Anggota pasukan berhasil mengikatkan pemberat di kaki mereka dan memasukkan bola perak kecil ke dalam mulut mereka.


Shi Woo melihat sebuah buku yang terjatuh dari vampir yang ditangkapnya dan mengambilnya.

--


Di tempat yang lain, Jae Min bertemu dengan Ah Ra. Ah Ra ditemani oleh salah seorang pelayannya. Jae Min meminta Ah Ra yang menolak pernikahan mereka. Ia tidak bisa melakukannya karena posisinya yang sulit.

Ah Ra berkata ia hanya mematuhi perintah dari para orang tua.

"Tapi aku tidak bisa mematuhinya", bujuk Jae Min. "Aku sudah... memiliki seseorang di hatiku".

"Apakah ia adalah gadis yang aku lihat waktu itu?", tanya Ah Ra agak kecewa. Jae Min diam tidak menjawab.

Ah Ra pulang ke rumahnya dengan marah. Ia kalah dengan seorang gadis rendahan. Lalu ia membuka bungkusan yang ia dapatkan dari salah seorang anggota militer yang pernah terlibat dalam penemuan mayat-mayat korban vampir. Pria itu meminta Ah Ra untuk tidak keluar di malam hari, jika memang harus, Ah Ra harus memakai pemberiannya ini di lehernya.

Ah Ra terlihat berpikir. Ia mengingat ketika ia pergi ke Hwa Sa Won, ia harus melepaskan seluruh perhiasannya. Ia menghela nafasnya, menduga sesuatu.

--

Pemimpin Wonsangu memberitahukan Jae Hee bahwa Mapo Inn sudah diserang. Gakghie tertangkap dan sekarang Han bersaudara juga. Ia merasa saat ini pemerintah menggunakan prajurit untuk menyerang mereka. Prajurit ini menggunakan pelindung yang mahal.

"Bagaimana anda mengetahui ini secara detail?", tanya Jae Hee.

"Seorang gadis kurang ajar baru saja mengunjungiku",

-- Flashback --


Ah Ra meminta bertemu dengan pemimpin Wonsanggu. Ketika wanita itu sudah didepannya, Ah Ra membuka pakaiannya, memperlihatkan lehernya yang sudah ditutupi oleh pelindung perak. Wanita itu mundur selangkah, dan berubah menjadi vampir. Ah Ra sedikit terkejut. Tetapi ia dapat menguasai rasa terkejutnya dan berkata bahwa ternyata memang benar dugaannya.

Ia meminta wanita itu tidak perlu khawatir karena ia akan membantu wanita itu. Menurut Ah Ra, tidak banyak orang yang bisa membuat pelindung dari perak di Chosun, ia akan membuat kesepakatan untuk bisa melawan senjata ini. Dengan syarat, wanita itu harus menyingkirkan seorang gadis. Dan wanita itu setuju dan mau melakukan kesepakatan dengan Ah Ra.

-- Flashback end. --

Jae Hee tidak setuju. Jika mereka membunuh putri keluarga Baek, maka pertarungan antara vampir dan vampir tidak bisa dihindari.

Menurut wanita itu tidak masalah bagi seorang tukang daging kehilangan nyawanya. Ia meminta Jae Hee membuatnya seolah-olah yang melakukannya adalah manusia dan kemudian ia meminta Jae Hee membawa Ma Ri ke Hwa Sa Won malam besok.

--

Seorang anak kecil datang menemui Ma Ri yang ketika itu sedang membantu Joong Yi. Ia mengatakan seorang bangsawan menyuruhnya memberikan belati kecil ini pada Ma Ri dan berkata ia menunggu di Banshoo.

Ma Ri tersenyum kecil, begitu juga dengan Joong Yi. Ia berkata ia bisa menyelesaikan pekerjaannya sendiri.

Shi Woo sepertinya sedang melakukan penyelidikan di Banshoo. Ia penasaran pasti ada alasan tertentu mengapa seluruh mayat ditemukan di Banshoo. Area Bancho adalah area di luar kekuasaan polisi, atau untuk menarik kecurigaan ke sini?

Jae Min datang ke rumah Ma Ri untuk menemui Joong Yi. Ia memanggil Joong Yi dari luar kamar, Joong Yi membukakan pintu kamarnya. "O Tuan... Ma Ri..."

"Aku tahu. Aku kesini untuk mengucapkan terima kasih", ucap Jae Min sambil tersenyum bahagia.

"Tapi Ma Ri pergi ke Banshoo untuk menemuimu". Senyum Jae Min menghilang.


Shi Woo sedang berjalan menyusuri pemukiman Banchon. Sampai di sebuah jalan, ia melihat Ma Ri berjalan sendirian di ujung jalan. Ia akan menyapa, tapi tiba-tiba seorang pria menghadang Ma Ri. Shi Woo terkejut, terlebih lagi Ma Ri. Pria itu mengeluarkan pedangnya dan menyerang Ma Ri. Ma Ri dapat menghindar, tetapi Jae Hee berhasil menotok lehernya, membuat Ma Ri pingsan.

Ketika akan membawa Ma Ri pergi, tiba-tiba dari arah belakang, Shi Woo menyerang. Shi Woo melihat belati yang terjatuh di dekat Ma Ri dan bertanya siapa pria itu. Apakah ia suruhan Menteri Pertahanan?

Jae Hee tidak menjawab. Ia hanya meminta Shi Woo minggir, karena ini adalah tugas yang penting.

"Aku tidak bisa!". Shi Woo kembali menyerang Jae Hee. Ia menendang Jae Hee. Jae Hee mundur selangkah. Ia mengingat tendangan ini mirip dengan tendangan Wang Mok di club bertarung.

Tiba-tiba dari arah belakang, Jae Min muncul. Cepat-cepat Jae Hee pergi. Jae Min terengah-engah sampai di tempat Ma Ri dan Shi Woo. Ia melihat Ma Ri sudah pingsan. Jae Min sangat khawatir. Sementara Shi Woo, ia terlihat marah.

Bersambung...

Komentar :

Mohon maaf, karena jaringan internet yang super lemot di tempat saya minggu lalu, sy baru bisa memposting sinopsis Orange Marmalade episode 7 di minggu ini...

Sy seperti menemukan benang merah, hubungan antara bagian 1 dan 2. Ingat ucapan kakek Joong Yi yang mengatakan bahwa 'Fate trancends time'. 'Takdir menembus waktu'.

Kita sering mendengar orang Korea menyebutkan 'kehidupan masa yang akan datang' atau 'jika terlahir kembali'. Itu artinya mereka mempercayai mereka akan terlahir kembali setelah mereka meninggal.

Begitu juga dalam drama ini. Takdir Jae Min dan Ma Ri, sebuah kisah cinta antara seorang manusia dan seorang vampir yang sudah ditakdirkan bersama. Hanya saja takdir mereka tidak berjalan dengan mulus, baik di masa lalu ataupun di masa sekarang. Sepertinya mereka harus melewati tiga masa kehidupan sampai mereka bisa bersatu.

Di bagian 1 yang lalu, hubungan Jae Min dan Ma Ri tidak berjalan mulus karena Jae Min tidak bisa menerima Ma Ri yang seorang vampir dan kemudian ia juga hilang ingatan. Di bagian 2 ini, sepertinya mereka juga belum bisa bersama-sama dengan sebab yang belum kita ketahui. Mungkin klan Wonsangu akan berusaha melenyapkan Ma Ri.

Semoga saja di bagian 3 nanti, kita akan melihat akhir bahagia perjalanan cinta Jae Min dan Ma Ri yang panjang.

Jika memang ceritanya seperti terbalik seharusnya bagian 2 ini menjadi bagian 1, menurut saya ini hanya cara penulis script bercerita. Sah-sah saja. Toh kita hanya menikmatinya saja.

Di bagian 2 ini iidak hanya menceritakan latar belakang Jae Min dan Ma Ri, tetapi Shi Woo, Lady Yangpyong, dan Jae Hee.

Tentang Shi Woo.

Shi Woo benar-benar sahabat baik Jae Min. Ia menyadari bahwa ia dan Jae Min sama-sama menyukai gadis yang sama. Tetapi ia memilih mengalah dan mengejar impiannya yang lain. Ia memilih mengikuti perang. Tapi sepertinya Shi Woo tidak akan mengalah lagi. Ia menganggap Jae Min tidak mampu melindungi Ma Ri dari ayahnya sendiri. Mengapa Shi Woo beranggapan seperti itu? Karena ia melihat Ma Ri membawa belati Jae Min ketika ia diserang oleh Jae Hee, sehingga Shi Woo menganggap Jae Hee adalah orang suruhan ayah Jae Min.

Sedih liat ekspresi Shi Woo ketika ia pamitan sama Ma Ri, meminta Ma Ri mendoakannya agar ia berhasil di perang nanti. Permintaannya ini seperti pertanda bahwa ia tidak akan kembali lagi. Di forum Soompi ada yang menyebutkan Shi Woo akan terluka karena bertarung melawan vampir dari klan Wonsangu. Tetapi mungkin Jae Hee yang hatinya sudah goyah dan tidak loyal lagi pada pemimpin Wonsangu, akan menyelamatkannya dengan cara meminumkan darahnya pada Shi Woo. Oleh sebab itulah di masa akan datang Shi Woo menjadi vampir dan Jae Hee menjadi pamannya. Identitas Shi Woo itu adalah Wang Mok terbongkar karena Jae Hee menyadari ketika Shi Woo menendangnya, gayanya sama seperti Wang Mok.

Tentang Lady Yangpyong.

Di kehidupan yang lalu, Lady Yangpyong hanyalah seorang pelayang yang mengasuh Jae Min dengan penuh kasih sayang, dan menganggap Jae Min seperti anak kandungnya sendiri. Karena kasih sayangnya yang besar itulah, di kehidupan mendatang, ia ditakdirkan menjadi ibu kandung Jae Min.

Tentang Jae Hee.

Ga nyangka Jae Hee ini dulunya adalah manusia. Ia menjadi vampir karena meminum darah pemimpin klan Wonsangu. Ia menjadi loyal pada pemimpin Wonsangu, tetapi sepertinya hatinya goyah setelah bertemu dengan Lady Yangpyong. Jika klan Wonsangu bisa dibasmi tuntas di bagian 2 ini, mungkin saja Jae Hee tidak akan bisa bersama dengan Lady Yangpyong. Mereka baru akan bisa bersama di masa yang akan datang.

Ada yan berbedacerita vampir di drama ini dengan cerita vampir umumnya, di sini Jae Hee dijadikan vampir ketika remaja. Seharusnya jika mengikuti cerita vampir umumnya, ia tidak akan pernah tumbuh menjadi dewasa secara fisik. Ia akan terperangkap di tubuh remajanya selamanya sampai ia mati.

Segitu dulu komen dari saya. Sampai ketemu di episode 9 ya...

[Sinopsis Orange Marmalade Episode 8]

All images credit : KBS2

No comments:

Powered by Blogger.