Sinopsis Orange Marmalade Episode 7 Part 1

[Sinopsis Orange Marmalade Episode 6]

Sinopsis Orange Marmalade Episode 7 Part 1

Sinopsis Orange Marmalade Episode 7 Part 1
Credit : KBS2
Kdramastory - Setelah semalaman di hutan, Jae Min pulang ke rumah. Agak tergesa-gesa, Lady Yangpyong menyambut Jae Min dan bertanya darimana saja Jae Min, ia sudah mencari kemana-mana. "Tunanganmu datang berkunjung".

"Ada apa?", tanya Jae Min bingung.

Lady Yangpyong mengatakan bahwa tunangan Jae Min ingin mengucapkan selamat ulang tahun untuk ayah Jae Min. "Kalau begitu, sebaiknya ia langsung bertemu dengan ayah saja", ucap Jae Min tidak begitu peduli.

Lady Yangpyong mengatakan saat ini ayah Jae Min sedang ada tamu yang sangat penting. Jadi ia meminta Jae Min yang menemui Ah Ra. Jae Min menghela nafasnya, agak malas menemui Ah Ra.


Sementara itu, Shi Woo masuk ke dalam ruang kerja ayah Jae Min. Ia melihat pedang milik ayah Jae Min yang diberikan oleh kerajaan. Shi Woo penasaran dengan bentuk pedang itu dan mengeluarkan pedang dari sarungnya. Ia tersenyum senang melihat pedang kerajaan yang sangat bagus itu. Tiba-tiba ia mendengar ada suara langkah kaki yang mendekat. Cepat-cepat Shi Woo memasukkan kembali pedang ke dalam sarung dan meletakkannya di tempat semula.

Shi Woo bergegas bersembunyi di balik partisi ruang kerja ayah Jae Min.

Benar saja, tidak lama kemudian ayah Jae Min dan tamunya, pria yang dulu pernah menyampaikan laporan kematian akibat vampir, masuk.

Shi Woo mendengar ayah Jae Min berkata bahwa ia menerima perintah dari kerajaan untuk menumpas vampir. Raja ingin masalah yang sedang hangat dibicarakan ini segera dikendalikan. Ia memerintahkan pria itu (kayaknya sih Kepala Polisi atau Kepala Tentara...) untuk mulai melaksanakan operasi tersebut secara rahasia. Seluruh pasukan dari operasi itu harus seperti bayangan dan sama sekali tidak boleh diungkapkan. Penyerangan harus dilakukan dengan cepat seperti kilat, binasakan mereka, dan kemudian menghilang dengan cepat. "Ini akan menjadi pertempuran penuh dengan darah...".

Pria itu berjanji ia akan memilih prajurit yang terbaik untuk operasi tersebut. Dan ia akan melakukan operasi itu secara diam-diam.

Sebelum pria itu keluar, ayah Jae Min kembali menegaskan, mengingatkan pria itu agar operasi itu harus dilakukan dengan cepat.

Setelah pria itu keluar, ayah Jae Min menyuruh Shi Woo keluar. Shi Woo terkejut karena ketahuan tapi ia diam saja. Ayah Jae Min mengulang ucapannya, kali ini lebih tegas. Akhirnya, dengan terpaksa Shi Woo keluar dari balik partisi.


Shi Woo duduk di depan ayah Jae Min. "Apa kau mendengarkan semuanya?", tanya ayah Jae Min.

Shi Woo menundukkan kepalanya merasa bersalah, tapi kemudian ia memohon agar diizinkan ikut bergabung dengan operasi itu. Ayah Jae Min tidak yakin Shi Woo benar-benar ingin melakukannya. Operasi ini adalah perintah Raja Jusang secara rahasia, apakah Shi Woo tidak akan ragu-ragu dalam keputusannya itu?

"Tidak akan. Saya akan mempertaruhkan nyawa saya untuk operasi ini", jawab Shi Woo yakin.

--

Setelah Lady Yangpyong memberitahukan Jae Min tentang kedatangan Ah Ra, Jae Min pergi ke kamarnya, mengganti bajunya. Ia keluar dari kamar untuk menemui Ah Ra. Begitu di tiba di halaman rumahnya, ia melihat Up Dong sedang memaki Ma Ri, menyebutnya sebagai gadis rendahan. Up Dong menarik kasar tangan Ma Ri hingga lengan baju Ma Ri sobek.

Jae Min melihat kejadian itu. Ia kesal. Sambil berjalan ke arah Ma Ri, ia membuka baju luarnya. Ia menyampirkan bajunya di bahu Ma Ri, menutupi lengan Ma Ri yang terbuka. Ah Ra terkejut melihat sikap Jae Min. Begitu juga dengan Lady Yangpyong. Ma Ri berbalik, dan melihat Jae Min yang memberikan baju padanya. Ma Ri melepaskan baju itu dan mengembalikannya pada Jae Min.

--

Shi Woo baru saja keluar dari ruang kerja ayah Jae Min dengan tersenyum senang. Ia mengingat jawaban ayah Jae Min yang menerima bergabungnya, walaupun dengan persyaratan ayah Jae Min memberinya sebuah tugas sebagai tes baginya, jika Shi Woo berhasil melakukannya dengan baik, maka ia akan mengakui kemampuan Shi Woo dan mengizinkannya bergabung dengan operasi rahasia itu. Tidak sengaja ia melihat Jae Min, Ma Ri dan beberapa orang lainnya yang berkumpul di halaman.

Shi Woo mendengarkan Ah Ra menyuruh Ma Ri pulang.


Ma Ri menunduk memberi hormat, berbalik pulang. Jae Min mengejar Ma Ri lagi, menyampirkan baju di bahu Ma Ri dan kemudian membalikkan Ma Ri, menghadapkan Ma Ri ke arahnya. "Kau... Jangan pernah melewatiku! Tidakkah kau lihat aku sudah menghentikan langkahku? Bukankah kau yang mengatakan bahwa aku harus menghentikan langkahku? Jika kau berjalan terlalu cepat bukankah kau tidak akan melihat kebenaran dari semua hal yang ada di dunia ini?"

Shi Woo memperhatikan Jae Min. Ia menyadari, gadis inilah yang dimaksud oleh Jae Min ketika mereka berdua berbicara di hutan beberapa waktu yang lalu.

"Aku menghentikan langkahku disini, untuk melihatmu!", ucap Jae Min lagi.

Tiba-tiba ayah Jae Min datang, "Apa-apaan ini?", teriaknya.

Jae Min berbicara dengan ayahnya. Sepertinya ia menceritakan siapa gadis itu, karena kemudian ayah Jae Min berteriak, "Tukang daging?". Ia bertanya apakah gadis itu yang menjadi alasan Jae Min menolak pernikahan.

Jae Min hanya bisa meminta maaf. Ayah marah karena Jae Min sudah menyebabkan situasi menjadi rumit. Jae Min mencoba memberi alasan bahwa ini adalah hidupnya.

"Kau ini benar-benar tidak tahu apa-apa! Apakah sekarang ini ada sesuatu yang kau dapat dengan kemampuanmu sendiri? Bahkan semua yang ada di dalam rumah ini?". Jae Min terdiam. Lalu ayah mengungkit Jae Min yang pernah mengatakan bahwa ia akan mengatasi rasa takutnya. Mengatasi apa? Ia meminta Jae Min melupakan ingin menjadi landasan bagi keluarga, dan sekarang, Jae Min akan mempermalukan keluarga dan dirinya?

Jae Min tidak menjawab. Ia hanya menundukkan kepalanya. Ayah Jae Min menghela nafasnya dan kemudian memutuskan ia akan menyeret kedua orang tua Ma Ri ke penjara dan akan menghukum mereka. Jae Min mengangkat kepalanya, terkejut.

"Jika tidak, aku akan mengadakan permainan tukang daging. Apa kau ingin melihat ia digelandang di jalanan, menjambak rambutnya, menderanya, apa Jae Min ingin melihat gadis itu diperlakukan seperti kuda atau sapi di jalanan?

Jae Min gemetaran, menahan emosinya. Ia memohon pada ayahnya untuk memaafkannya dan tidak melakukan itu. Ayah tidak peduli, Jae Min lah yang menyebabkan semua ini, karena keputusan memalukan Jae Min itu, gadis itu harus menghadapi penderitaan yang bahkan lebih buruk daripada kematian.

Jae Min memohon pada ayahnya, agar tidak melakukan hal itu, ia berjanji ia akan mengakhiri hubungannya dengan Ma Ri. Air mata menetes di pipi Jae Min.

--


Jae Min keluar dari kamar ayahnya dengan lunglai. Ia berpapasan dengan Shi Woo yang sudah menunggunya di halaman. Jae Min melirik Shi Woo sekilas, tapi tanpa mengatakan apa pun ia melanjutkan langkahnya.

"Kau tidak selalu bertindak sesuai dengan dirimu", ucap Shi Woo menghentikan langkah Jae Min. Jae Min berhenti, berbalik menghadap Shi Woo. Shi Woo bertanya, itulah sebabnya mengapa Jae Min tidak pernah bisa mengatakan padanya ketika ia bertanya siapa gadis itu. Karena gadis itu hanyalah seorang tukang daging?

"Tapi hari ini kau memperlihatkan isi hatimu di depan semua orang. Bahkan di depan tunanganmu. Dasar besar mulut!", ucap Shi Woo lagi.

"Besar mulut kau bilang?". Jae Min bertanya apa sebenarnya ingin diketahui oleh Shi Woo tentang hal ini.

Shi Woo tidak menjawab. Ia malah bertanya apakah Jae Min mampu melawan kehendak ayahnya. Dan yang terpenting lagi apakah Jae Min bisa melawan dirinya sendiri.

Jae Min terlihat agak marah, ia menghela nafasnya, tidak mau berdebat dengan Shi Woo. Ia hanya berkata Shi Woo itu masih belum mengenal dirinya.

Setelah Jae Min pergi, Shi Woo termenung, berkata di dalam hati bahwa ia sangat mengenal Jae Min oleh sebab itulah ia merasa sangat cemas saat ini.

--

Malam harinya, ibu menjahit kembali baju Ma Ri yang sudah rusak. Ia melihat Ma Ri duduk melamun, tidak menyentuh makanannya sama sekali. Ibu menyuruh Ma Ri makan. Duduk diam seperti itu tidak akan menyelesaikan masalah. Jika Ma Ri melewatkan makan malamnya, maka itu akan menimbulkan masalah yang lain.

Ma Ri berkata ia tidak memiliki apa pun kecuali yang dimilikinya saat ini. Ia mengingat hari pertama kalinya ia bisa melihat sinar matahari dan ia merasa itu sudah cukup, ia merasa bersyukur karena bisa hidup di bawah sinar matahari.

Ma Ri pergi ke dapur untuk memasak ramuan yang biasa diminum oleh vampir agar bertahan terhadap sinar matahari.


Sementara Jae Min, ia kembali ke tempat rahasianya di hutan. Ia mengingat ucapan Ma Ri yang bisa menerima statusnya sekarang, karena menurutnya itu adalah pemberian dari langit. Ia juga mengingat ucapan ayahnya yang mengatakan bahwa tidak ada satu pun yang bisa dicapai oleh Jae Min. Jae Min berteriak, melampiaskan kemarahannya dengan menebas boneka jerami dengan pedang kayunya.ng

Lalu ia mengingat pertanyaan Shi Woo yang meragukan apakah ia mampu melawan dirinya sendiri. Ia juga mengingat kembali ucapan-ucapan ayahnya yang mengungkit kelemahan dan ketakutannya, Jae Min berteriak menebas boneka jerami di depannya menjadi dua.

--


Keesokan harinya, Ma Ri pergi mengantarkan ramuan yang sudah ia buatkan untuk vampir wanita yang dulu pernah mengajarkan cara membuat nasi kepal padanya. Ia bertanya bagaimana dengan nasi kepalnya. "Kenapa kau ingin membuatnya padahal kau tidak memakannya juga?"

Ma Ri tidak bisa menjelaskan. Kemudian ia membungkukkan kepalanya dan pergi dari tempat vampir wanita itu. Tidak lama Ma Ri berjalan, ia terkejut melihat Jae Min sudah ada di sana, berdiri di depannya. Ma Ri terdiam, menundukkan kepalanya. Tetapi sesaat kemudian ia memutuskan untuk pergi saja. Namun Jae Min tiba-tiba menarik tangannya dan membawanya pergi. Vampir wanita itu melihat kepergian Ma Ri, bingung.


Di tempat yang agak sepi, Jae Min baru berhenti dan melepaskan genggaman tangannya. "Tuan, mengapa anda melakukan ini? Saya takut ada orang yang memata-matai".

Jae Min berbalik dan menghadap ke arah Ma Ri. Ia berkata ia tidak takut dimata-matai oleh ribuan pasang mata, yang ia takutkan adalah mata Ma Ri. Ma Ri mengangkat wajahnya, memandang Jae Min. Jae Min bertanya mengapa Ma Ri menjaga jarak pandangannya darinya, bahkan Ma Ri tidak mau bercanda lagi dengannya. Tapi ia bisa menerka alasannya. "Jadi kau ingin menyembunyikannya?"

"Menyembunyikan apa?"

"Perasaanmu yang sesungguhnya", sahut Jae Min. Ketika ia pernah membandingkan status Ma Ri dengan hewan, saat itu Ma Ri merasakan sakit hati. Tapi saat itu Ma Ri belum tahu mengapa ia merasa sakit hati. "Apakah sekarang kau masih belum tahu alasannya, benarkah?"

Ma Ri terdiam. "Ma Ri, kau... jatuh cinta padaku", ucap Jae Min.

"Tidak", bantah Ma Ri.

Jae Min meminta Ma Ri untuk tidak menutupi perasaannya itu dengan sikap dinginnya itu.

"Aku bilang tidak karena aku memang tidak". Mata Ma Ri agak berkaca-kaca.

Jae Min menghela nafasnya. Ia berkata ia bukan orang yang tidak sensitif. Ma Ri tidak peduli dengan ucapan orang lain yang menyakiti hatinya, tetapi Ma Ri merasa sakit hati karena ucapannya. Itu karena dirinya memberatkan Ma Ri, bahkan lebih berat dari seluruh isi dunia itu sendiri. Dan itu artinya Ma Ri menempatkan dirinya di dalam hati Ma Ri. Ma Ri menundukkan kepalanya.

Jae Min berkata ia tidak mau memperpanjang lagi. Ia juga merasakan perasaan yang sama seperti Ma Ri. Ia tidak mempedulikan bagaimana orang lain menatap dirinya. Tetapi ia tidak bisa tahan melihat tatapan Ma Ri yang begitu dingin.

Ma Ri yang tadinya hanya menunduk, mengangkat wajahnya. Ia menyuruh Jae Min pulang karena ia tidak akan pernah menemui Jae Min lagi. Berbicara dengan seorang tukang daging akan merusak reputasi Jae Min, dan lagi Jae Min akan segera menikah.

Jae Min agak terkejut mendengar ucapan Ma Ri. Ia terlihat sedikit bersalah. Tetapi sesaat kemudian ia membulatkan tekadnya. Ia berkata ia tidak akan menikah.

"Aku dengar itu sudah diputuskan".

"Tidak akan! Aku tidak akan menikah!", tegas Jae Min lagi. Pernikahan itu tidak akan pernah ada, oleh sebab itulah sekarang ia ada di sini, di depan Ma Ri. Ma Ri agak terkejut mendengar keputusan Jae Min.

"Aku akan pergi. Aku akan...". Ucapan Jae Min terputus karena tiba-tiba ibu Ma Ri datang. Ia datang karena vampir wanita tadi memberitahukannya.


Ia meminta maaf pada Jae Min. Ia tahu sikap Ma Ri ini dapat membuatnya dihukum mati tapi... Ibu Ma Ri membungkukkan badannya pada Jae Min dan cepat-cepat membawa Ma Ri pergi dari sana.

--

Sepertinya Jae Min memutuskan untuk pergi dari rumahnya. Jae Min terlihat sedang membungkus peralatan tulisnya ketika tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki mendekati kamarnya. Cepat-cepat Jae Min membungkus peralatan tulisnya dan menyimpannya di belakang partisi kamarnya. Jae Min juga mengambil sebuah buku dan pura-pura membacanya ketika Shi Woo masuk ke kamarnya.


Shi Woo mengambil sebuah meja kecil lain dan meletakkannya tepat di depan meja Jae Min. Ia mengambil sebuah buku dari balik baju luarnya, judul buku itu adalah 'Vampire Story'.

Sambil sesekali melirik Jae Min, Shi Woo membuka buku itu dan membaca sebuah kalimat. Di buku itu disebutkan bahwa vampir mampu melompat sejauh 30 jengkal. Shi Woo bertanya pada Jae Min, berapa jauh 30 jengkal itu. Melihat Jae Min hanya diam, tidak menjawab pertanyaanya, Shi Woo mengetuk meja Jae Min. Jae Min hanya melihat sekilas.

Shi Woo bertanya apakah 30 jengkal itu lebih panjang dari 6x tinggi manusia. "Sepertinya", sahut Jae Min singkat.

"Kalau begitu bagaimana cara melawan vampir...".

"Kau masih membicarakan omong kosong itu...", potong Jae Min, tertawa mengejek.

Lalu Shi Woo bertanya ide Jae Min, bagaimana bisa ia melawan vampir yang bisa melompat melebihi 6x tinggi manusia.

"Itu mudah...", jawab Jae Min.

Malam itu, Shi Woo pergi ke dapur kediaman Jae Min, mencari sendok. Kepala pelayan masuk dan bertanya apa yang dilakukan Shi Woo di dapur.

"Oh... Aku hanya meminjam ini", ucap Shi Woo sambil menunjukkan sendok di tangannya. Ia meminta kepala pelayan itu untuk tidak salah paham, ia akan menggunakan sendok itu untuk urusan negara.

Kepala Pelayan tidak mempermasalahkannya. Ia hanya ingin tahu kemana Jae Min pergi sepanjang hari, sepertinya Jae Min sedang berlatih bela diri.

Shi Woo tersenyum, "Oh... tempat persembunyian kami?".

--


Keesokan harinya, Shi Woo terlihat sedang melakukan sesuatu di tempat persembunyiannya. Sepertinya ia sedang mempersiapkan keikutsertaannya dalam operasi penyerangan vampir. Terdengar narasi yang menyebutkan bahwa seorang pelajar Sungkyunkwan Jo Joon Yeon, ditemukan telah tewas 10 hari yang lalu di Bansoo. Mayat ditemukan di daerah Banchoon yang merupakan daerah diluar kewenangan kepolisian. Pakaian yang ia gunakan juga tidak wajar. Ia memiliki hubungan saudara dengan keluarga kerajaan, tetapi pakaian yang ia gunakan saat itu tidak menunjukkan statusnya. Petugas pemeriksa menemukan luka kecil di tubuhnya, darahnya benar-benar habis keluar dari tubuhnya. Kami menduga ia tewas diserang oleh vampir.

Shi Woo meletakkan sendok di dalam sebuah panci yang dipanaskan. Flashback jawaban ayah Jae Min ketika ia meminta bergabung di operasi rahasia itu. Saat itu ayah Jae Min meminta Shi Woo untuk menemukan manusia yang bukan manusia. "Ini adalah test untukmu".

Shi Woo memasukkan lagi dua besi berbentuk bola di dalam panci tersebut. Ia tersenyum mendengar jawaban Jae Min kemarin. Jae Min mengatakan yang harus dilakukan oleh Shi Woo adalah membuat vampir itu tidak bisa melompat. "Ikat kakinya".

Terdengar narasi lagi yang menyebutkan bahwa vampir memang memiliki kekuatan seperti monster tetapi mereka memiliki kelemahan terhadap perak. Shi Woo mengangkat rantai besi dan bola besi yang sudah ia lapisi dengan perak.

Jae Min sedang mengunjungi tempat biasanya ia dan Ma Ri bertemu dan melihat bintang di siang hari.

--


Jae Min pergi ke rumah Ma Ri. Ia melihat seorang kakek yang buta sedang memilin daun/rumput kering yang biasa digunakan untuk membuat keranjang. Ia masuk ke area rumah Ma Ri. Joong Yi itu menghentikan pekerjaannya, merasa ada seseorang yang berdiri di depannya. "Lee Shu?", tanyanya.

"Ya", jawab Jae Min. "Bisakah aku meminta bantuan darimu?".

Joong Yi itu menganggukkan kepalanya.

Jae Min meminta Joong Yi itu menyampaikan pesannya pada Ma Ri agar Ma Ri datang ke hutan setelah matahari tenggelam. Jae Min mengatakan ada sesuatu yang ingin ia sampaikan pada Ma Ri sebelum ia pergi.

Joong Yi itu berjanji ia akan menyampaikannya.

Jae Min menganggukkan kepalanya dan berbalik pergi. Joong Yi memanggil Jae Min kembali. Ia bertanya apakah Jae Min percaya takdir itu menembus waktu. "Sebelum aku menjadi buta, ada cahaya yang berkilau di hatinya. Musim semi, musim panas, musim gugur, dan musim dingin. Bertahun-tahun aku melewati musim-musim ini dalam kegelapan, tapi aku masih bisa melihat tatapannya. Begitu jelas di depan mataku. Pasti ada jalan bagimu untuk bisa melihat cahaya yang berkilau itu lagi. Menjalani hidup setiap hari sepertiku dengan berpegang teguh pada garis kehidupan, akan datang masa mengetahuinya. Seandainya aku lebih cepat menyerah pada mataku, seandainya aku lebih dulu tahu, waktu tanpa janji, itulah yang diketahui".

"Waktu tanpa janji", gumam Jae Min, mengulang nasehat kakek tua itu padanya.

--


Malam itu Jae Min sudah siap pergi. Ia menyimpan surat untuk Shi Hoo di dalam buku Shi Woo yang berjudul 'Cerita Hantu Penghisap Darah'. Ia meminta Shi Woo untuk menyampaikan suratnya pada ayahnya. Ia akan pergi dan segera kembali setelah berhasil menjadi dirinya sendiri.

Jae Min meletakkan surat untuk ayahnya di atas buku Shi Woo tersebut. Jae Min juga memberikan belati miliknya untuk Lady Yangpyong, ia meletakkannya di depan pintu kamar pengasuhnya itu. Sebelum benar-benar pergi, ia membungkukkan kepalanya.

--

Sementara itu, Shi Woo sedang memaksa orang yang bekerja di tempat biasanya ia bertarung untuk mengatakan sesuatu tentang Jo Joon Yeon. Jo Joon Yeon adalah orang yang tewas karena diserang oleh vampir itu, ia menghilang ketika sedang berada di tempat pertarungan illegal itu.

Awalnya petugas itu tidak mau bicara. Tetapi Shi Woo mengancam akan membunuhnya. Akhirnya ia mengaku bahwa ia melihat Jo Joon Yeong pergi bersama Gakghie.

"Gakghie? Oh, pemilik klub bertarung itu? Dimana dia tinggal?", tanya Shi Woo.

"Aku tidak tahu".

Buk! Shi Hoo memukul tepat di mata petugas itu. Ia mengaduh kesakitan. "Aku benar-benar tidak tahu...". Buk! Shi Woo memukulnya lagi. "Aku bilang aku tidak tahu. Shi Woo akan meninjunya lagi. "Marlijae! Marlijae! Aku hanya tahu ia tinggal di suatu tempat di Marlijae..."


Gakghie sedang berjalan di hutan ketika tiba-tiba Shi Woo melompat tepat di depan. "Siapa ini? Bukankah ini Wang Mok?"

"Siapa yang kau panggil Wang Mok? Bukankah kau yang menghisap darah?", tanya Shi Woo marah. Mok artinya leher.

Gakghie mulai marah karena Shi Woo berbicara tidak sopan padanya. Jika Shi Woo berbicara tidak sopan lagi, ia akan merobek mulut Shi Woo, ancamnya.

"Hei, vampir!", ucap Shi Woo. Gakghie tersenyum sinis melihat keberanian Shi Woo. Dia bertanya apa Shi Woo ini tidur sambil berjalan.

Shi Woo tidak peduli. Ia menantang Gakghie, mengajak bertaruh, mulut siapa yang akan dirobek lebih dulu, ia atau Gakghie. "Aku berencana akan membungkam mulutnya, sehingga kau tidak akan menghisap darah manusia lagi".

Di sini Gakghie baru sadar, Shi Woo serius dengan ucapannya. Shi Woo memegang erat pedangnya dan menariknya keluar dengan cepat. Ia menyerang Gakghie dengan pedangnya dan berhasil melukai Gakghie. Gakghie menjadi marah dan merubah wujudnya menjadi vampir. Kukunya memanjang, giginya menjadi runcing dan matanya berubah berwarna merah. Ia menyerang Shi Woo dengan serius. SHi Woo berusaha menahannya dengan pedangnya.

Gakghie berlari ke arah pohon, dan Shi Woo mengejarnya. Gakghie menjadikan batang pohon sebagai tempat ia salto ke arah belakang, ke arah Shi Woo yang mengejarnya dan berhasil melukai lengan Shi Woo.

Oh No! Lengan Shi Woo berdarah. Gakghie berhasil mencengkeram Shi Woo dari belakang dan siap menancapkan giginya di leher Shi Woo. Refleks Shi Woo menahan gigi Gakghie dengan ujung pedangnya. Gakghie berteriak kesakitan.

Gakghie menjadi marah. Ia melompat ke atas sambil berputar. Shi Woo mengambil rantai besi yang sudah ia lapisi dengan perak dan melemparnya ke arah kaki Gakghie. Gakghie terjatuh kembali ke tanah, karena kakinya sudah terlilit oleh besi pemberat.

Shi Woo mengambil sendok perak yang sudah ia bulatkan seperti bola kecil dari balik bajunya. Ia melempar bola kecil itu dan menendangnya tepat masuk ke dalam mulut vampir itu.


Shi Woo membawa vampir itu ke tempat persembunyiannya. Vampir itu diikat dengan tali. Kedua kakinya dan mulutnya mulai berasap karena efek dari perak tadi. Shi Woo menutup jendela yang ada di depan Gakghie dengan kain hitam, supaya Gakghie tidak lenyap akibat terkena sinar matahari. Supaya ia bisa memberikan bukti pada ayah Jae Min ia mampu menangkan vampir. Shi Woo kemudian pergi meninggalkan Gakghie sendirian.


Jae Hee berjalan di hutan, tepat di tempat tadinya Shi Woo dan Gakghie bertarung. Ia melihat sehelai daun kering yang terkena noda darah.

-- Flashback. --

Jae Hee menemui pekerja yang bekerja di klub bertarung. Pekerja itu mengatakan yang ia tahu hanya Gakghie tinggal di daerah Marlijae. Wang Mok memukulnya, memaksanya mengatakan dimana Marlijae tinggal.

-- Flashback end. --

Jae Hee memanggil burung gagaknya. "Pergi dan temukan dia", perintahnya pada burung itu.

Burung itu berputar di atas hutan. Gakghie mendengar suara burung itu dan melenguh berusaha bersuara. Mulutnya sudah ditutup dengan kain oleh Shi Woo. Burung itu seperti mendengar lenguhan Gakghie, ia hinggap di atas atap gubuk itu. Burung itu bersuara, memberitahukan Jae Hee.

Lady Yangpyong yang sedang berjalan ke arah gubuk itu untuk mencari Jae Min mendengar suara burung gagak itu. Ia sedikit takut, tapi kemudian menggenggam erat belati Jae Min, menguatkan dirinya dan melanjutkan langkahnya lagi.

Jae Hee sudah tiba di gubuk itu. Ia masuk ke dalam gubuk itu dan menemukan Gakghie terikat di sana. Ia membuka penutup mulut Gakghie dan bertanya siapa yang melakukan itu pada Gakghie. Apakah Wang Mok? Gakghie menganggukkan kepalanya.

Jae Hee mengirimkan burung gagaknya ke tempat wanita pemimpin klan Wonsangu. Burung itu hinggap di lengan wanita itu. Wanita itu menajamkan pandangannya. Matanya berubah menjadi warna merah. Ia bisa melihat Gakghie dan Jae Hee melalui mata burung itu.

Wanita itu menyesalkan Gakghie yang menunjukkan siapa dirinya dan bisa ditangkap. Ia memerintahkan Jae Hee untuk melenyapkan Gakghie. Jae Hee membuka tirai jendela yang ada di depan Gakghie dan meninju dinding gubuk yang terbuat dari tanah liat sampai dinding itu berlubang. Gakghie ketakutan. Jae Hee hanya berkata, "Sepertinya darah akan mengalir". Dan pergi meninggalkan Gakghie sendirian di sana.

--

Jae Hee yang berjalan di hutan tidak tahu bahwa di depannya ada sebuah lubang yang sangat besar dan dalam. Ia terjatuh ke dalamnya. Jae Hee terlihat biasa saja dan bersiap terbang ke luar lubang. Namun ketika ia bersiap akan melompat ke atas, tiba-tiba terdengar suara pengasuh Jae Min yang menanyakan apakah Jae Hee baik-baik saja.


Lucunya, Jae Hee langsung mengubah posisinya seperti terjatuh dan menjawab ia baik-baik saja. Hehe... Lady Yangpyong meminta Jae Hee untuk tenang, ia akan membantu Jae Hee. Lady Yangpyong menemukan akar pohon dan melemparkannya ke bawah. Dengan bantuan tali yang dipegang oleh Lady Yangpyong dari atas, Jae Hee memanjat dinding lubang itu. Jae Hee mengucapkan terima kasih atas bantuan Lady Yangpyong. Lady Yangpyong menghela nafas lega, bersyukur karena Jae Hee tidak terluka.

Lalu ia membungkukkan badannya pada Jae Hee dan melanjutkan jalannya ke arah gubuk. Jae Hee mengatakan arah yang akan dituju oleh pelayan itu, tidak ada siapa pun di sana.

Pelayan wanita itu berkata bahwa ia mendengar di sana ada sebuah gubuk. Ia mencari seseorang di sana. Jae Hee berkata ia baru saja dari gubuk itu dan tidak ada siapa-siapa di sana.

"O.. Begitu...". Wajah Lady Yangpyong menjadi muram. Tiba-tiba hujan turun.


Sementara itu di sisi hutan yang lain, Jae Min masih menunggu Ma Ri.

Bersambung...

Sinopsis Orange Marmalade Episode 7 Part 2

All images : KBS2

No comments:

Powered by Blogger.