Sinopsis Orange Marmalade Episode 1 Part 1

Sinopsis Orange Marmalade Episode 1 Part 1

Sinopsis Orange Marmalade Episode 1 Part 1

Kdramastory - Sekelompok anak-anak berjalan bersama dan saling bercanda. Seorang anak perempuan, Ma Ri menyusul dari belakang mereka meminta mereka menunggunya. Ia mengajak mereka untuk pergi bersama-sama dengannya. Anak-anak itu berhenti dan berbalik memandang Ma Ri.

Di dalam sebuah bus, Ma Ri menutup matanya sambil bergumam, "Jangan pergi. Jangan pergi".

Orang-orang di sekitarnya memandang Ma Ri aneh. Salah seorang pria yang duduk di samping Ma Ri menggeser tasnya ke atas lutut wanita yang duduk di sebelahnya. Ia menutupi tangannya yang mencoba meremas paha wanita itu dengan tasnya itu. Wanita itu terkejut tetapi tidak berani melawan.


Sementara itu Ma Ri masih menutup matanya, teringat ejekan teman-teman masa kecilnya yang mengatakan bahwa ia monster. Teman-temannya mengusirnya pergi dan Ma Ri hanya bisa menangis sedih.


Kembali ke masa sekarang. Pria itu sambil tersenyum senang masih saja asik dengan 'kesibukan'nya itu. Tiba-tiba Ma Ri berteriak, "Berhenti!". Pria itu sampai terkejut dan menghentikan keasikannya itu. Para penumpang melihat ke arah Ma Ri. Termasuk Jae Min yang juga kebetulan naik di kereta itu.

Pria itu merasa bahwa para penumpang memperhatikannya. Ia menegur Ma Ri. Memangnya apa salahnya dan apa yang dia lakukan pada Ma Ri. Ma Ri diam saja, tidak mengerti ucapan pria itu. Pria itu menghela nafasnya dan berdiri dari kursinya.

Tiba-tiba wanita yang dilecehkan pria itu berdiri dan memukul pria itu sampai terjatuh. "Kau melakukannya padaku!".

Pria itu berdiri dan masih juga tidak merasa bersalah. Wanita itu mengatakan bahwa pria itu adalah seorang pemerkosa. Ma Ri melihat ke arah pria itu dan melihat sebuah kotak yang mirip dengan kotak susu terjatuh di lantai kereta. Ma Ri berjongkok, mendekati kotak itu. Salah seorang penumpang berusaha berlari mendekati pria itu dan tidak sengaja menginjak kotak itu sampai kotak itu pecah dan isinya mengenai wajah Ma Ri.

Para penumpang terkejut. Mereka semua berlari mendekati pria itu yang sudah tersudut di depan pintu keluar kereta. Mereka menunjuk-nunjuk ke arah pria itu. Pria itu berbalik dan warna matanya berubah. Para penumpang menyadari perubahan pada pria itu dan mundur ketakutan.

Sementara itu Ma Ri juga tertegun. Jae Min menegur Ma Ri dan bertanya apakah Ma Ri juga siswa di sekolahnya. Ma Ri hanya diam saja. Ma Ri mengatakan dalam hati bahwa ia mencium bau manisnya darah. Jae Min kembali bertanya apakah Ma Ri baik-baik saja.


Ma Ri masih diam. Jae Min duduk dan mendekati Ma Ri. Ia bertanya apakah Ma Ri bisa berdiri sendiri. Ma Ri melihat aneh pada Jae Min. "Aku lapar", ucap Ma Ri dalam hati. Perlahan ia mendekati leher Jae Min dan membuka mulutnya.

Tiba-tiba terdengar pemberitahuan bahwa kereta akan tiba di Stasiun Seo Mook Yeok. Pintu kereta terbuka dan pria itu langsung berlari. Para penumpang mengejar pria itu. Ma Ri tersadar mendengar keributan dan menjauh dari Jae Min. Ia terkejut melihat Jae Min dan langsung berdiri. Ma Ri langsung berlari keluar dari kereta.

"Ada apa dengannya?", gumam Jae Min heran sambil menatap punggung Ma Ri yang hilang di antara kerumunan penumpang di stasiun. Jae Min melihat jamnya. Ia merasa Ma Ri pasti akan terlambat karena keluar dari kereta sekarang.

Di toilet, Ma Ri melepaskan jas dan sweater sekolahnya. Ia membersihkan noda darah dari lengan dan kerah kemejanya. Seorang wanita yang ada di samping Ma Ri melihat agak takut ke arah Ma Ri. Ia cepat-cepat keluar dari toilet.

Ma Ri berhenti membersihkan darah dari bajunya. Ia mengambil darah dari bibirnya dengan jari dan menjilatnya. "Mengapa aku merasa sangat tertarik dengan darah manusia?", ucap Ma Ri dalam hati.

Mata Ma Ri berubah warna. "Sadarlah Ma Ri. Kau bukan monster", ucap Ma Ri lagi dalam hati.

--


Ma Ri datang terlambat di sekolahnya. Halaman dan koridor sekolah sudah sepi karena semua siswa sudah masuk ke dalam kelas. Ma Ri terlihat masih sedih. Ia bergumam di dalam hati, berjanji bahwa ia akan lulus dari sekolahnya yang sekarang, tidak akan dikejar-kejar lagi, dan tidak akan diketahui identitasnya sebagai vampir oleh siapa pun juga.

Di dalam kelas, guru menuliskan soal matematika di papan tulis. Ia memanggil Jung Jae Min ke depan untuk menyelesaikan soal itu. Jae Min maju ke depan dan akan menuliskan jawabannya. Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kelas. Seorang guru membawa Ma Ri dan mengatakan pada guru Matematika bahwa Ma Ri adalah siswi pindahan.

Jae Min tertegun melihat Ma Ri. Sementara Ma Ri sama sekali tidak memperhatikan sekelilingnya. Guru Matematika memperkenal Ma Ri di depan kelas. Ia mengatakan bahwa nama siswi itu adalah Baek Ma Ri. Ia mengatakan karena terlambat Ma Ri bisa memperkenalkan dirinya nanti saja. Ia mempersilahkan Ma Ri untuk duduk di kursi yang kosong.

Sementara itu Jae Min yang berada di depan kelas, masih memperhatikan Ma Ri. Guru Matematika menegur Jae Min karena belum menyelesaikan soal matematikanya. Jae Min terkejut dan kembali melanjutkan menuliskan jawaban di papan tulis. Diam-diam Jae Min bergumam sambil tersenyum, "Lihat kan? Sudah kubilang kau pasti akan terlambat!"


Ma Ri duduk di kursi paling belakang. Salah seorang siswi di sampingnya menyapanya, "Ma Ri? Aku Soo Ri. Kau terlihat lebih berani dibandingkan tampangmu. Kelas ini sudah hampir selesai".

Ma Ri hanya ber'o' saja.


Setelah kelas selesai, beberapa siswi menonton video di hp mereka. "Dia vampir!", ucap mereka sambil terkagum-kagum. Sepertinya mereka menonton video kejadian di dalam kereta tadi, karena salah satu dari penumpang memang terlihat ada yang merekamnya.

Soo Ri melihat hpnya dan menemukan Ma Ri juga ada di dalam kereta. Ternyata seseorang juga merekam Ma Ri yang wajahnya terkena noda darah.

Para siswa merasa sepertinya gadis itu memakai seragam sekolah mereka. Dan kemudian mereka menyadari bahwa siswi itu adalah Ma Ri. "Apakah ini kau?", tanya Soo Ri pada Ma Ri.

Ma Ri menganggukkan kepalanya. Semua siswa jadi tertarik dan bergegas mengerubungi Ma Ri, kecuali Jae Min, ia asik menekuni bukunya. Salah seorang dari mereka bertanya bagaimana rasanya berada di dekat vampir. Mereka juga bertanya apakah vampir itu memiliki gigi yang tajam, ataukah seperti kelinci.

Salah satu siswi yang lain membantah temannya yang mengatakan itu. "Apa kau tidak melihat dia sama seperti manusia biasa?". Kalau mereka seperti monster bagaimana bisa mereka naik kereta. Mereka terus membicarakan vampir pria itu. Sementara itu Ma Ri terlihat gugup. Ia meremas-remas jari tangannya di bawah meja.

Siswi yang lain bertanya apakah pria itu tidak melakukan apa pun pada Ma Ri. Karena ia dengar Ma Ri duduk persis di sebelahnya.

Ma Ri mengeluarkan kalung salib dari balik kemejanya, "Mungkin karena ini". Teman-temannya semakin mendekat mengerubungi Ma Ri melihat kalung yang dipakai Ma Ri. "Vampir takut pada salib", tambah Ma Ri lagi.

"Aku benci terus mengatakan kebohongan ini", ucap Ma Ri dalam hati.

Soo Ri menenangkan Ma Ri sambil menggamit lengan Ma Ri. Ia meminta Ma Ri tidak terlalu takut, karena sangat jarang kan Ma Ri akan bertemu vampir lagi. Ma Ri tersenyum mengangguk, "Tapi aku vampir", sahut Ma Ri dalam hati lagi.

--

Jae Min berada di sebuah perpustakaan (perpustakaan sekolah yang agak aneh, karena suasananya seram dan gelap). Jae Min duduk di dekat sebuah jendela dan membuka buku di tangannya. Terdengar narasi Jae Min, yang mengatakan bahwa awal mula kehadiran mereka tidak tercatat, mereka sudah ada di samping kita sejak lama, bertahan antara hidup dan mati dengan darah manusia, mereka bukan manusia, mereka hanya berwujud seperti manusia, mereka adalah hantu. Para vampir terus hidup berdampingan dengan manusia dan sejarah mencatat keberadaan mereka sejak abad ke-17. Sejak saat itu terjadi pembantaian antar generasi hingga akhirnya terjadi perjanjian perdamaian antara Dinasti Joseon dan Klan Vampir.


Jae Min menutup bukunya. Ia berdiri dan berbalik menghadap jendela. Tatapannya tajam, "Akan lebih baik mereka punah. Vampir-vampir ini...", ucapnya dengan nada marah.

--


Di dalam kelas, seorang siswi bertanya tentang perjanjian perdamaian. Bagaimana mereka bisa mempercayai sebuah perjanjian perdamaian dapat melindungi hidup mereka.

Guru itu yang bernama Han Yoon Jae, menjawab bahwa ada sebuah syarat mutlak yang mengikat perjanjian perdamaian itu yaitu vampir tidak boleh mengkonsumsi darah manusia. Dengan mematuhi persyaratan itu maka hidup vampir akan terlindungi dan manusia dan vampir bisa hidup bersama.

--


Scene berpindah ke tempat yang lain. Tempatnya agak gelap. Sepertinya Shi Hoo sedang diwawancarai oleh reporter dan direkam oleh seorang kameramen. "Hidup bersama? Seolah-olah?", ucap Han Shi Hoo marah sambil menggebrak meja. Lalu ia tertawa mengejek pada pria yang duduk di depannya.

"Kenapa? Di masyarakat kami, hidup bersama itu sama saja dengan eksis(ada). Manusia dan vampir, bersama-sama", ucap pria itu.

"Pak reporter! Apa yang akan kau lakukan jika suatu hari kau mengetahui tetanggamu adalah vampir?", tanya Shi Hoo.

Scene beralih ke dalam kelas. Seorang siswi bertanya bukankah tetap berbahaya seorang vampir mengkonsumsi darah alternatif, walaupun bukan darah manusia yang sesungguhnya. Bagaimana jika suatu hari vampir melanggar janji mereka dan berbalik menghisap darah manusia lagi?

Kembali ke Shi Hoo. "Menakutkan? Dan juga itu tidak mudah bukan?", tanya Shi Hoo pada reporter itu. Ia berpikir reporter itu pasti akan melaporkan pada pihak yang berwenang tentang keberadaan vampir yang menjadi tetangganya itu. Menurut Shi Hoo, hidup bersama-sama itu hanya memberi keuntungan bagi manusia saja, bukan bagi vampir.

Balik lagi ke scene di dalam kelas. Siswi itu berpendapat bahwa mereka tidak perlu hidup bersama-sama dengan vampir. Jumlah vampir sedikit, yang perlu manusia lakukan adalah melenyapkan mereka.

Terlihat Ma Ri gelisah dan meremas-remas jari tangannya.

Guru itu mengatakan bahwa vampir juga manusia yang memiliki kebiasaan makan yang berbeda. Ia mengajak siswanya percaya bahwa vampir juga memiliki hak untuk hidup.

Jae Min terlihat tidak begitu memperhatikan penjelasan gurunya. Ia hanya mencoret-coret bukunya.

Kembali ke Shi Hoo. Ia mengatakan bahwa manusia itu sungguh aneh. Ia bertanya apakah reporter itu pernah bertanya pada beruang kutub. Apakah mereka berpikir bahwa manusia bisa hidup bersama-sama dengan mereka di bumi ini? Lalu mengapa mereka terus berada dalam bahaya? Mereka bisa menjadi gila.

"Bagi manusia, keberadaan kami, vampir, tidak lebih baik daripada keberadaan beruang kutub", ucap Shi Hoo menahan marah. (O... sepertinya ini interview with vampire deh... )

Kembali ke dalam kelas. Seorang siswa yang duduk di samping Jae Min bertanya bagaimana mereka bisa mengenal vampir itu jika rupa mereka sama seperti manusia. Lalu tiba-tiba ia menyadari bahwa mungkin saja vampir itu ada di dalam kelasnya. (Belum tau dia... :-D)

Lalu ia berteriak, berpura-pura memanggil vampir dan memintanya menghisap darah manusia. Lalu ia menarik Jae Min dan berpura-pura menghisap darah di leher Jae Min.

Tentu saja Jae Min menjadi marah dan mendorong siswa itu menjauh. "Berhenti!", teriaknya.

Siswa itu terkejut dan bertanya apa salahnya. "Aku hanya bercanda", ucapnya. Siswa-siswa yang lain juga keheranan melihat reaksi Jae Min yang berlebihan. Jae Min diam saja tidak mengatakan apa pun.

Kembali ke tempat Shi Hoo. "Perhatikan baik-baik! Kau akan melihat makhluk seperti apa kami ini", ucap Shi Hoo lalu mengambil pisau dari balik jaketnya.

Reporter itu terkejut melihat Shi Hoo membuka pisaunya. Ia berdiri dari kursinya dan mundur mendekati kameraman yang ada di belakangnya. Shi Hoo mengiris telapak tangannya. "Apa yang kau lakukan?", teriak reporter itu.

Shi Hoo menunjukkan telapak tangannya pada reporter itu. Kameraman men-zoom telapak tangan Shi Hoo yang berdarah. Perlahan luka itu menghilang. "Kami lebih superior daripada manusia", ucap Shi Hoo. Shi Hoo mengatakan vampir kehilangan banyak kekuatan mereka karena tidak bisa lagi menghisap darah manusia, vampir juga harus membunuh insting mereka dan menyerahkan kekuatan mereka. Tetapi bagaimana dengan manusia?, tanyanya. Terlihat mata Shi Hoo berkaca-kaca dan wajah Shi Hoo memerah.

"Apa itu HIDUP BERSAMA-SAMA!", teriak Shi Hoo marah.

Kembali ke dalam kelas. Guru menjelaskan bahwa vampir itu memiliki karakteristik yang unik. Mereka benar-benar memiliki sesuatu, hanya saja mereka tidak menunjukkannya pada manusia, yang digunakan untuk melindungi populasi mereka yang sedikit dan melindungi hak asasi manusia.

Tiba-tiba Jae Min berhenti mencoret-coret bukunya. Sambil tetap menunduk ia bertanya bukankah hak asasi manusia itu sesuatu yang hanya dimiliki oleh manusia. Semua siswa melihat ke arah Jae Min, termasuk Ma Ri. Jae Min mengangkat wajahnya melihat ke arah guru dan berkata, "Vampir itu... bukan manusia".

Guru itu hanya tersenyum dan hanya ber'O..' saja.

Terdengar suara hati Ma Ri, "Vampir itu bukan manusia". Ma Ri masih terlihat gelisah dan meremas-remas jari tangannya.

--


Di ruang makan sekolah, salah seorang siswi dari kelas Ma Ri tidak menyukai menu makanan di kantin sekolah. Ia mengatakan bahwa lauk itu berbau tidak enak. Ia tidak jadi mengambil lauk tersebut.

Jo Ah Ra, salah satu teman sekelas Ma Ri mengatakan bahwa hari ini menu di kantin mereka adalah menu spesial untuk vampir. "Mereka mengatakan bahwa vampir tidak menyukai bawang putih".

Siswi lain yang disebelah Ah Ra membenarkan ucapan Ah Ra. Ia berkata bahwa ia akan memakan semua itu jika ia bertemu dengan vampir.

Ma Ri yang berada di sebelah siswi itu tertegun mendengar ucapan teman-temannya itu. Lalu ia mengambil banyak bawang putih itu (ternyata memang benar-benar hanya bawang putih yang dimasak dan berkuah) dan meletakkannya di dalam nampan makanannya.

Ma Ri makan di meja sendirian. Teman-temannya masih saja membicarakan tentang perjanjian perdamaian dengan vampir dan tentang hidup bersama-sama dengan vampir. Ma Ri memakan bawang putih terus menerus.


Sementara itu Jae Min sepertinya sudah selesai makan. Ia tidak terlihat membawa nampan makanan. Ia berjalan di dalam kantin dan menoleh kesana kemari. Lalu ia melihat Ma Ri makan siang sendirian di pojokan.

Teman Jae Min menyapa Jae Min dan mengajaknya pergi dari sana. Jae Min tersenyum dan berjalan keluar dari kantin. Tiba-tiba teman Jae Min itu mendekati Ah Ra dan memberikan sesuatu pada Ah Ra. Ah Ra tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan teman-temannya yang ingin tahu apa yang diberikan oleh teman Jae Min itu.

Ma Ri berjalan sendirian di koridor sekolah. Banyak siswa lain yang berlalu lalang. Ma Ri terlihat kurang sehat. Ia berusaha berdiri dan cepat-cepat ke toilet. Ma Ri memuntahkan seluruh makanan yang dimakannya tadi di kamar mandi. Ma Ri terlihat pucat. "Tidak apa-apa... Tidak apa-apa", ucapnya, menenangkan diri sendiri.

--


Baek Seung Hoon, dia adalah ayah Ma Ri, sedang membungkus cairan merah di dalam wadah-wadah kertas kecil. Di wadah kertas itu tertulis 'tomato'. Ia membungkus sambil menonton pertandingan bola.

Ia berteriak kesal ketika hampir terjadi gol, sampai isi bungkusan yang ditangannya tumpah di atas meja. "Sungguh mubazir darah-darah ini!", ucapnya lalu meminum ceceran darah yang terjatuh di atas meja dengan menggunakan sedotan. Lalu ia marah-marah melihat para pemain yang tidak berhasil melakukan gol.

Seung Hoon mengambil kaleng bir dan berpura-pura meminumnya. Lalu ia juga mengambil ayam goreng dan pura-pura memakannya. "Memang benar, jika ada pertandingan bola, maka saatnya Chi-Maek!", ucapnya.

Lalu terdengar seseorang datang. Cepat-cepat ia membereskan kaleng bir dan ayam goreng dan menyimpannya di laci lemari. Seung Hoon juga mematikan televisi dan kembali melanjutkan membungkus cairan darah itu.

Seorang wanita masuk dan memanggil Seung Hoon 'sayang'. Seung Hoon berdiri dan berkata, "Song Sun Hwa, sayangku!". Mereka berpelukan dan Sun Hwa memberitahukan bahwa ia mendapatkan pekerjaan.

Seung Hoon memuji istrinya yang hebat. Sun Hwa mengatakan bahwa ia menemukan sebuah kafe yang membutuhkan seorang barista. Tiba-tiba ia mencium bau sesuatu dan bertanya bau apa ini pada Seung Hoon.

Seung Hoon pura-pura tidak mencium bau apa pun.

Sun Hwa mengatakan bahwa ia mencium bau ayam. Lalu ia berjalan mendekati meja yang di lacinya memang ada ayam goreng yang disimpan oleh Seung Hoon. Seung Hoon menghela nafasnya, pasrah.

Sun Hwa membuka laci dan menemukan ayam goreng di dalamnya. "Apa kau berpura-pura jadi manusia lagi? Apa kau menghabiskan uang untuk membeli makanan yang tidak bisa kau makan? Apa kau pikir uang itu main-main?", marah Sun Hwa pada suaminya. Seung Hoon menjadi manyun.

Seung Hoon berusaha menjelaskan bahwa ia tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja tetangga mereka menjual ayam goreng dan mereka juga sudah lama hidup bertetangga dengan baik.

Sun Hwa memarahi suaminya. Ia meminta suaminya untuk tidak berpikir bermain bola juga. Flashback ketika Seung Hoon bermain bola, ia menendang bola ke arah gawang dan mengenai tiang gawang sampai tiang itu bengkok. Teman-teman Seung Hoon memandang Seung Hoon heran. Flashback end.

Sun Hwa mengatakan bahwa gara-gara Seung Hoon tidak bisa mengontrol kekuatannya, mereka terpaksa pindah sebelum mereka ketahuan. Ia meminta Seung Hoon untuk menahan diri dan mencoba berusaha menetap di rumah mereka yang sekarang. Paling tidak sampai Ma Ri lulus dari smu-nya.

Lalu Sun Hwa mendekat ke arah ayam dan berkomentar bagaimana manusia bisa makan makan busuk seperti itu. Akan lebih baik jika darah ayam.

Seung Hoon berusaha membujuk istrinya dan mengatakan bahwa apa pun yang ia makan, apakah itu ayam goreng atau apa pun, yang penting jantungnya tetap berdetak.

Sun Hwa memandang marah pada Seung Hoon. Seung Hoon langsung terdiam. Lalu ia berkata, "Aku pasti spesial".


Lalu keluar seorang anak laki-laki keluar dari kamar sambil mendorong mobil-mobilannya. "Joseph, putraku! Kau sudah bangun", sapa Seung Hoon. Lalu ia berjalan mendekati putranya dan menggendongnya. "Joseph, ayo kita makan!", ajak Seung Hoon lagi.

Seung Hoon mendudukkan Joseph di kursinya dan di depannya sudah tersedia semangkuk darah. Joseph meminumnya dengan sedotan. "Bagus, kau makan dengan sangat baik", puji Seung Hoon.

Di atas mejanya sendiri ada dua gelas yang juga berisi darah. Sun Hwa meminum darah itu dan berkata bahwa minuman racikan suaminya sangat enak. "Benarkan?", tanya Seung Hoon tidak percaya. Lalu ia juga meminum dari gelasnya dan ternyata memang enak.

Lalu tiba-tiba Seung Hoon teringat Ma Ri yang hari itu adalah hari pertama ia bersekolah. Ia berharap Ma Ri dapat beradaptasi dengan baik. "Putri kita mungkin sedang makan siang sekarang", ucap Sun Hwa menenangkan suaminya.

--

Kembali ke sekolah. Ma Ri terlihat duduk sendirian di atas tembok pembatas atap sekolah dan meminum darah dari bungkusan yang sudah disiapkan oleh ayahnya. Di bungkusannya memang tertulis tomato juice. Ma Ri meminum habis makanannya dan meletakkan bungkusan itu di sampingnya. Lalu ia mengambil buku notnya dan menulis beberapa not balok. Terdengar lagi suara hati Ma Ri yang menyemangati dirinya untuk berusaha hidup dengan normal seperti manusia biasa dan memaksa dirinya melalui semua ini selama dua tahun ke depan.


Jae Min berjalan di koridor gedung sekolah yang lain. Ia melihat Ma Ri yang duduk sendirian di dinding pembatas atap di gedung di depannya. Ia memperhatikan Ma Ri dari jauh. Lamaaa sekali. Ma Ri sendiri tidak menyadari ada seseorang yang memperhatikannya karena ia sedang menghadap ke arah yang lain dan asik dengan buku not nya.

--

Di rumah, Seung Hoon bermain gunting batu kertas dengan Joseph. Ketika ia menang, Joseph harus membuka mulutnya sehingga ia bisa memeriksa gigi Joseph apa perlu dicabut atau tidak. Lalu Sun Hwa datang. Mereka membicarakan bahwa saat ini orang-orang di cafe membicarakan tentang kemunculan vampir. Menurut Seung Hoon akan memerlukan waktu sedikit lebih lama bagi mereka untuk menetap di rumah mereka yang sekarang.

Sun Hwa mengatakan setiap hal ini terjadi, manusia akan kembali menghukum mereka. Setiap terjadi kejadian seperti ini, ia selalu merasa ketakutan.

Seung Hoon menenangkan istrinya. Ia mengatakan masalah seperti ini selalu terjadi setiap tahun. Jadi tidak akan terjadi apa pun.

Sun Hwa menyesali bahwa kesalahan saat ini adalah pelecehan se**ual..

Seung Hoon mengatakan bahwa VCS (Vampire Control System) akan memberikan hukuman pada An Chi.

"An Chi?", Sun Hwa terkejut dan lalu mengambil Joseph dan memeluk putranya itu.


Di tengah keramaian lalu lintas, di sebuah televisi besar yang dipasang di sebuah gedung memberitakan bahwa telah terjadi peristiwa yang menakutkan yaitu pelecehan se**ual ynag dilakukan oleh seorang vampir. Kejadian itu terjadi di sebuah stasiun pada sekitar pukul 7.30 pagi. Terlihat kerumunan orang memperhatikan berita itu. Lalu ditayangkan pula gambar beberapa polisi menangkap pria itu (wajahnya ditutup dengan jas) dan membawanya untuk diinterogasi.

Pembaca berita itu mengatakan bahwa pihak VCS mengatakan bahwa seorang vampir yang memperlihatkan kekuatannya di depan publik akan menghadapi 'An Chi Hyung'.

Shi Hoo juga terlihat mendengar berita itu. Ia menutupi kepalanya dengan tutup kepala jaketnya, ia memainkan earphone di tangannya. Pembaca berita itu menjelaskan bahwa ia belum mengetahui apakah 'An Chi Hyung' itu, tetapi satu hal yang pasti adalah 'An Chi Hyung' adalah hukuman yang tegas untuk vampir. Pembaca berita itu juga mengatakan akan ada pencegahan terjadinya kejadian yang berulang yang dilakukan oleh vampir lagi.

Shi Hoo memakai earphonenya kembali dan berjalan ke arah yang berbeda, menjauhi televisi itu.

--

Di sekolah, Ah Ra mendekati Jae Min. Ia menawarkan tiket pertunjukan pada Jae Min. Ia memberitahukan bahwa sulit mendapatkan tiket itu tetapi berkat karyawan ayahnya, ia bisa mendapatkan dua tiket itu.

Jae Min bertanya mengapa Ah Ra memberikan tiket itu padanya.

"Aku dengar kau anggota band ketika di SMP dulu, jadi aku memberikan tiket ini padamu".

Jae Min menolak, ia tidak akan pergi ke sana. "Kenapa?", tanya Ah Ra.

Jae Min mengatakan jika ia menonton pertunjukan itu, keinginannya untuk bermain gitar akan muncul kembali.

Ah Ra menyemangati Jae Min. Tidak masalah bagi Jae Min untuk bermain gitar lagi. Jae Min menolaknya. Sekolah mereka bahkan tidak memiliki band. Tiba-tiba Jae Min melihat Ma Ri lewat tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ia memperhatikan Ma Ri yang berjalan sendirian.

Dengan halus, Jae Min menolak ajakan Ah Ra. Ia merasa Ah Ra adalah gadis yang populer. Ia yakin Ah Ra akan mendapatkan teman untuk menonton pertunjukan itu. Dan ia penasaran siapa yang akan pergi bersama Ah Ra.

Ah Ra terlihat kecewa mendengar penolakan Jae Min. Tanpa menunggu jawaban dari Ah Ra lagi, Jae Min langsung pamit pamit pergi.


Jae Min cepat-cepat berlari menuju stasiun kereta. Tiba di peron, ia mencari-cari Ma Ri. Jae Min melihat Ma Ri berdiri sendirian sambil mendengarkan earphone. Jae Min menarik nafasnya, berjalan mendekati Ma Ri.

Jae Min berdiri di belakang Ma Ri. Ia terlihat berusaha mengatur nafasnya dan berniat menepuk pundak Ma Ri. Tetapi tiba-tiba pintu kereta terbuka dan Ma Ri masuk ke dalam kereta.

Jae Min berdiri di dekat pintu kereta. Ia memperhatikan Ma Ri yang duduk sambil tertidur. Seorang pria yang duduk di samping Ma Ri menyadari arah pandangan Jae Min. Ia melihat ke arah Jae Min dan Jae Min memalingkan wajahnya.

Pria itu berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah Jae Min. Ia berdiri di depan pintu kereta, di dekat Jae Min. Jae Min melihat kursi di sebleah Ma Ri kosong dan berjalan ke arah Ma Ri dan duduk di kursi itu.

Ma Ri yang masih tertidur dengan perlahan mendekati bahu Jae Min. Jae Min tersenyum gembira. Sementara itu Ma Ri sedang bermimpi, ia berada di sebuah taman yang daun-daun pohonnya berguguran. Ma Ri terlihat senang dan merasa mencium sesuatu yang manis.


Di dalam tidurnya, ia merasa mencium sesuatu yang manis dan dalam kondisi masih tertidur, perlahan wajah Ma Ri, tepatnya mulutnya mendekati leher Jae Min. "Wangi bunga... Bukan? Bukan seperti ini?", suara hati Ma Ri.

Jae Min terkejut melihat mulut Ma Ri yang terus mendekati lehernya. "Wangi ini... Aku ingin sekali meminumnya...", ucap Ma Ri dalam hati dan mulutnya mulai membuka di leher Jae Min. Jae Min sangat terkejut dan duduk tegang, menahan nafas di kursinya.

Bibir Ma Ri bergerak seolah-olah sedang minum. "Ah... Enaknya, enaknya", suara hati Ma Ri. Jae Min sendiri menggenggam erat-erat tasnya. Penumpang yang duduk di depan Ma Ri dan Jae Min terkejut melihat kelakuan Ma Ri. Mereka menggeleng-gelengkan kepalanya. Seorang kakek tua yang duduk di depan Jae Min menegur mereka. Tetapi Ma Ri yang masih tidak sadar, cuek saja. Kakek itu berdiri dari kursinya dan berjalan. Tidak sengaja kakinya mengenai kaki Ma Ri dan Ma Ri terkejut dan terbangun. Samar-samar ia melihat Jae Min di sampingnya. Ma Ri langsung berdiri dan berlari menjauh dari Jae Min.

Jae Min terdiam memandang kepergian Ma Ri sambil menyentuh lehernya. Belum hilang rasa terkejutnya. Lalu kemudian ia melihat buku Ma Ri terjatuh di atas lantai kereta dan ia menyimpannya.

--

Ma Ri sampai di rumahnya. Ia duduk di depan rumahnya sambil membawa gitar. Ia membuka tasnya mencari-cari buku not nya dan tidak menemukannya.

DI rumahnya, sepertinya apartemen, Jae Min membuka tasnya dan mengambil buku not Ma Ri. Ia membaca not yang ditulis oleh Ma Ri dan tersenyum. Ia menikmati musik yang ditulis Ma Ri sambil mengangguk-anggukan kepalanya.


Sementara itu, Ma Ri menuliskan not lagi di bukunya sambil sesekali memainkan gitarnya. Tiba-tiba ia teringat kejadian di kereta sepulang sekolah tadi. Ia tidak mengerti mengapa bau darah manusia itu bisa begitu manis. Sepertinya Ma Ri belum menyadari bahwa orang yang duduk di sampingnya itu adalah Jae Min, teman sekelasnya. Ma Ri menggeleng-gelengkan kepalanya, menyadarkan dirinya, dan melanjutkan kembali menulis not di bukunya.

Bersambung...

[Sinopsis Orange Marmalade Episode 1 Part 2]

All images credit : KBS2

No comments:

Powered by Blogger.